Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

20 Jul 2022, 06:45 WIB

Negative Confirmation Sebagai Kabul

Dalam transaksi serbadaring, ijab dengan negative confirmation menjadi lazim di industri ekonomi dan keuangan.

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamualaikum wr wb.

Ustaz, terdapat penawaran berbentuk ijab dari perusahaan A dan selama tidak ada respons penolakan maka itu menunjukkan persetujuan. Apakah ijab kabul dan perjanjian tersebut dikategorikan ijab kabul yang sah menurut syariah? -- Asep - Cirebon 

Waalaikumussalam wr wb.

Ilustrasi sederhananya, A menyampaikan kepada B, "Mas, jika penawarannya saya kirim lewat e-mail dan tidak ada respons penolakan, berarti Mas setuju, ya? Kemudian, B berkata, "Ya, saya setuju." Akhirnya keduanya sepakat.

Contoh ilustrasi lainnya, bank syariah bersepakat dengan perusahaan B. Jika bank syariah melakukan pembelian melalui e-mail dan e-mail tersebut diterima, itu dikategorikan perusahaan B setuju selama tidak ada jawaban yang berisi penolakan. Intinya, setiap e-mail yang dikirim itu disetujui kecuali ada jawaban penolakan. Dalam transaksi yang serbadaring, ijab dengan negative confirmation itu menjadi lazim dalam industri ekonomi dan keuangan.

Ijab kabul dengan negative confirmation ini dibolehkan dengan beberapa syarat. Pertama, ada perjanjian antara kedua belah pihak sebelumnya bahwa saat ada penawaran dikirim oleh perusahaan A ke B itu secara otomatis disetujui oleh B kecuali ada jawaban berisi penolakan.

Kedua, memenuhi seluruh kriteria ijab dan kabul. Setiap ijab dan kabul dikategorikan sebagai ijab kabul yang sah saat memenuhi tiga kriteria berikut. (a) Setiap ijab dan kabul menggunakan ungkapan yang jelas dan dipahami oleh kedua pihak. (b) Kedua substansi ijab dan kabul sesuai. Misalnya, klausul ijab mencakup hak dan kewajiban, maka kabul juga mencakup hak dan kewajiban. Jadi, kedua substansinya sama.

(c) Ijab dan kabul terjadi langsung dan bersambung. Yang dimaksud dengan bersambung tersebut adalah (1) ijab dan kabul itu terjadi dalam satu waktu, (2) tidak ada ungkapan dari salah satu pihak yang menunjukkan penolakan atau tidak setuju atau meralat persetujuannya hingga akhir ijab kabul sebagaimana pendapat mayoritas ahli fikih.

Berbeda dengan pendapat mayoritas ahli fikih, mazhab Maliki berpendapat bahwa saat seseorang sudah berijab kabul maka ia tidak bisa meralat kembali persetujuannya. Namun, ia harus konsisten dengan persetujuannya hingga akhir perjanjian. (Lihat Standar Syariah Internasional AAOIFI Nomor 38 tentang at-Ta’amulat al-Maliyah bi al-Intirnit dan Nadzariyah al-Aqd fi al-Fiqh al-Islamy, 26-27).

Ketiga, ijab dan kabul dengan negative confirmation itu dibolehkan selama perjanjian tentang negative confirmation sebelumnya itu telah memuat seluruh klausul yang dimuat dalam ijab. Contohnya, jika sebuah perusahaan melakukan penawaran yang berisi empat klausul hak dan empat klausul kewajiban, maka dalam perjanjian sebelumnya juga telah disepakati bahwa kabulnya itu berisi empat hak dan empat kewajiban untuk memenuhi kriteria tawafuq (kesesuaian) antara ijab dan kabul.

Kesimpulan tersebut didasarkan pada (a) substansi ijab dan kabul, yaitu kabul itu berarti persetujuan mitra atas penawaran dari pihak yang memberikan ijab, baik persetujuan tersebut dilakukan setelah ijab ataupun persetujuan tersebut dilakukan dalam perjanjian sebelumnya.

Sebab, dari sisi substansi, ijab dengan negative confirmation itu telah menunjukkan kabul (persetujuan) dari pihak mitra. Selama negative confirmation telah menunjukkan persetujuan, maka itu telah menunjukkan substansi kabul menurut fikih.

(b) Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, “Sesungguhnya jual beli (harus) atas dasar saling ridha (suka sama suka)” (HR al-Baihaqi). Karena ridha dan kerelaan adalah sesuatu yang abstrak, maka pernyataan lisan atau tulisan dalam bentuk ijab dan kabul itu menjadi ungkapan/tulisan yang menunjukkan kerelaan dan ridha para pihak.

Oleh karena itu, para ahli fikih memberikan perhatian lebih akan ijab dan kabul (shigat) sehingga semua ahli fikih sepakat bahwa shigat itu menjadi rukun sebuah transaksi. Jika ada transaksi tanpa shigat atau ijab kabul dari kedua belah pihak, transaksi tersebut tidak ada wujudnya karena kehilangan rukun.

Perhatian tersebut juga karena ijab dan kabul itu menunjukkan ridha atau kerelaan para pihak terhadap transaksi yang dilakukan serta penawaran yang diberikan oleh mitra. Ridha itu menjadi adab yang substantif dalam setiap transaksi.

Wallahu a'lam.


Mitigasi Kelangkaan Pangan Sejak Jauh Hari

Akuakultur berpotensi memberi kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan.

SELENGKAPNYA

Nazir Kaji Optimalisasi APIF

Realisasi keuangan sosial Islam di Indonesia masih jauh dari potensi yang ada.

SELENGKAPNYA

Wakil Indonesia Ramai-Ramai Mundur dari Chinese Taipei Open

Rionny tetap menyampaikan evaluasi untuk perbaikan di turnamen-turnamen yang akan datang.

SELENGKAPNYA
×