Aplikasi Efishery untuk membantu peternak ikan dengan pemanfaatan teknologi. | Yogi Ardhi/Republika

Inovasi

Mitigasi Kelangkaan Pangan Sejak Jauh Hari

Akuakultur berpotensi memberi kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan.

Dinamika dunia yang terjadi saat ini, seperti inflasi yang tinggi dan krisis energi akibat perang Rusia dan Ukraina, melahirkan berbagai potensi krisis. Dalam beberapa bulan, sejak perang terjadi, masyarakat global sudah dihadapkan oleh berbagai kelangkaan bahan pangan.

Tanpa terjadi konflik antara Rusia dan Ukraina, sejatinya, ketahanan pangan sudah lama diperkirakan akan menjadi isu yang tinggal menunggu waktu. Dikutip dari Worldpopulationreview.com, pekan lalu, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), antara 1990 dan 2009, konsumsi daging global secara agregat meningkat hampir 60 persen.

Tren ini juga sejalan dengan konsumsi per kapita yang juga meningkat hampir 25 persen. Konsumsi daging pun diperkirakan akan terus meningkat sebesar 1,7 persen per tahun hingga 2022.

Pada 2013, Chrisna Aditya, bersama Gibran Huzaifah mengembangkan alat pemberi makan ikan otomatis (e-feeder) sebagai produk pertama dari Efishery. Menurut Chrisna yang kini menjadi Chief of Internal Operations Officer Efishery, pandemi telah menyebabkan dampak berkepanjangan pada ketahanan pangan global.

Sekitar 660 juta orang diperkirakan akan menghadapi isu kelaparan pada 2030. “Akuakultur, sebagai sektor bisnis dengan pertumbuhan yang pesat, memiliki potensi untuk berkontribusi secara signifikan terhadap ketahanan pangan. Efishery percaya bahwa “The Future is Aquaculture”,” ujarnya, kepada Republika, pekan lalu.

photo
Pemberian ikan melalui aplikasi Efishery di smartphone - (Yogi Ardhi/Republika)

Menurut Chrisna, dengan menggunakan kemajuan teknologi, Efishery berupaya membangun value chain yang sistematis untuk bisnis budidaya ikan dan udang. Termasuk juga, menghasilkan ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan global di masa mendatang.

Saat ini, ada beberapa solusi teknologi yang telah diperkenalkan Efishery ke lebih kurang 30 ribu pembudidaya ikan dan udang di seluruh Indonesia, Di antaranya, e-feeder yang merupakan pemberi pakan pintar yang dikontrol melalui smartphone.

E-feeder ini, dapat diatur sesuai keinginan dan kebutuhan pembudidaya dan memiliki berbagai fitur. Di antaranya, pengaturan jadwal pakan, mencatat data pakan yang keluar dan dapat diakses melalui e-feeder dan dashboard aplikasi, serta memberikan rekomendasi pakan untuk ikan.

Menurut Chrisna, ada perubahan yang signifikan yang terjadi di industri aquaculture akibat pandemi. Yakni, semakin diperlukannya teknologi yang dapat menjaga kesegaran hasil ikan dalam jangka waktu yang lebih lama.

“Pandemi membuat ikan yang awalnya biasa disalurkan dalam bentuk utuh, kini lebih banyak permintaan ikan yang telah diolah menjadi fillet, dan sebagainya,” ungkap Chrisna. Ke depan, tren ini pun diperkirakan akan terus berlanjut dengan teknologi pengembangan untuk menjaga kesegaran ikan.

Perjalanan Transformasi

Mengadopsi teknologi, biasanya memerlukan proses terlebih dahulu. Nendi Nugraha adalah pembudidaya asal Kecamatan cijambe, Subang, Jawa Barat yang saat ini memiliki usaha budidaya komoditas ikan nila hitam, nila merah, dan mas. Ia memulai usaha budidaya ikan di 2012, dan mulai memanfaatkan teknologi e-feeder dari Efishery sejak Januari 2022.

Menurutnya, dampak yang paling dirasakan setelah bergabung dengan Efishery adalah bertambahnya jumlah kolam yang dimiliki. “Sebelumnya, saya hanya memiliki 10 kolam, namun sekarang berhasil memiliki total kolam sebanyak 26,” ujarnya Nendi.

Selain itu, ia melanjutkan, dengan memanfaatkan teknologi ia bisa menekan biaya operasional. Dari yang awalnya ia memerlukan tenaga kerja untuk memberi pakan ikan, kini tugas tersebut telah dialihkan ke mesin. Sehingga, Nendi pun hanya perlu menugaskan karyawan untuk tugas bersih-bersih tambak saja.

Selain biaya operasional, dengan proses pemberian makan secara otomatis, pakan dapat lebih tersalurkan dengan lebih merata. Hasilnya, Nendi bisa mendapatkan empat kali siklus panen per tahun dari 26 kolam yang dimiliki.

Dalam satu kali siklus, Nendi mengungkapkan, ia bisa menghasilkan 800 kilo gram dari tiap jenis komoditas ikan, dengan rata-rata hasil panen hingga 83.200 kilo gram per tahun. “Nilai jual ini signifikan untuk pengembangan usaha saya ke depan,” ujarnya. 

 

 
Ke depan, tren pengolahan ikan yang mampu menjaga kesegarannya makin dibituhkan. 
CHRISNA ADITYA, Chief of Internal Operations Officer Efishery
 
 

 

 

Harga Rumah Mulai Naik

Pemerintah telah memberikan perhatian serius terhadap sektor perumahan.

SELENGKAPNYA

Bos IMF Puji Transformasi Sarinah

IMF memuji Sarinah yang menjadi rumah bagi usaha kecil dan mikro Indonesia. 

SELENGKAPNYA