Sastra
Tuhan dalam Sepiring Nasi
Cerpen M Afin Masrija
Oleh M AFIN MASRIJA
Pondok Kyai Mimbar sore itu tidak sedang menunggu apa-apa, dan justru karena itulah dua tamu itu datang. Langit menggantung rendah, abu-abu malas, seperti belum memutuskan apakah akan hujan atau sekadar mendung. Angin menggeser dedaunan bambu di tepi sungai kecil belakang pondok, menimbulkan bunyi gemerisik yang mirip orang berdehem tapi tak jadi bicara.
Di serambi utama, Kyai Mimbar duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah kehilangan warna aslinya. Sarungnya coklat pudar, sorbannya putih tapi tak lagi berkilau, seperti kain yang sudah berdamai dengan debu.
Di depannya, segelas teh tinggal setengah. Sejak Asar tak disentuh lagi.
Kyai Mimbar menatap halaman kosong sambil mengelus punggung seekor kucing belang yang entah sejak kapan ikut bertapa di pangkuannya. Kucing itu mendengkur pelan, lebih khusyuk dari sebagian santri yang sore itu masih sibuk menghafal matan sambil melirik jam dinding.
Dua orang itu melangkah masuk ke halaman, bahkan angin seperti berhenti.
Mereka berjalan berdampingan, langkahnya tenang, tidak tergesa tapi juga tidak ragu. Jubah mereka panjang, bersih, dan jatuhnya rapi seperti pakaian orang yang sudah lama berdamai dengan cermin. Sorban mereka dililitkan dengan presisi, tak berlebih, tak kurang. Janggut mereka disisir halus, bukan janggut santri yang tumbuh karena malas bercukur, melainkan janggut yang dirawat dengan kesadaran penuh.
“Assalamu’alaikum,” ucap kedua tamu hampir bersamaan.
Santri kecil itu langsung berdiri.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Ikin gugup. Ia menunduk dalam-dalam, Santri itu mengangguk cepat. Dalam hatinya ia sudah menyimpulkan: ini bukan tamu tahlilan.
“Kami ingin sowan ke Kyai Mimbar,” kata tamu pertama, suaranya halus tapi tegas, seperti pisau yang dibungkus kapas.
“Sowan, Yai,” katanya gugup, menunduk dalam-dalam.
Ikin segera mengantar tamu itu ke ndalem
Kyai Mimbar menoleh pelan, membuka mata setengah.
“Lho, sore-sore kok ada tamu. Biasanya yang datang itu nyamuk.”
Dua tamu itu tersenyum tipis. Senyum orang-orang yang sudah terbiasa disalahpahami sebagai orang alim.
“Kami ingin bersilaturahmi,” kata tamu pertama. Suaranya berat, terukur, seperti orang yang sudah menimbang setiap kata sebelum dilepas.
“Silakan,” jawab Kyai Mimbar singkat. “Kalau mau duduk, duduk. Kalau mau berdiri, juga silakan. Pondok ini tidak mengenal protokol.”
Mereka duduk bersila, rapi, bahkan lipatan jubah mereka tampak simetris. Kyai Mimbar melirik sekilas, lalu kembali menatap teh.
“Kami jauh-jauh datang,” ujar tamu kedua akhirnya, lebih pendek tapi sorot matanya tajam,
“ingin menimba hikmah dari panjenengan.”
Kyai Mimbar mengangguk pelan.
“Sumur saya dangkal,” katanya. “Kalau kehabisan timba, jangan marah.”
Keduanya tersenyum tipis.
“Kami mendengar,” lanjut tamu pertama,
“Panjenengan terkenal bijak dalam soal ketuhanan.”
Kyai Mimbar menguap kecil.
“Terkenal itu urusan orang lain. Saya sendiri sering lupa.”
Keduanya tersenyum lagi.
“Kami ingin berbincang tentang ketuhanan,” lanjut tamu pertama.
“Tentang jarak hamba dan Tuhan.”
Kyai Mimbar menghela napas pelan. “Aduh. Kalau soal jarak, saya ini rabun jauh.”
“Kami hanya ingin berdiskusi,” kata tamu kedua cepat.
“bertukar pikiran dengan kyai yang alim ini.”
“Diskusi ringan saja, Kyai,” bujuk yang tinggi. “Soal hakikat wujud.”
Kyai Mimbar menghela napas. “Begini, Nak. Kalau bisa tidak ribut, kenapa harus ribut?”
Awalnya pelan, seperti orang membuka kitab dengan hati-hati. Tamu pertama berbicara tentang fana, tentang lenyapnya diri dalam kehadiran Ilahi. Ia menyebut nama al-Hallaj dengan nada hormat, hampir seperti menyebut orang tua sendiri.
“Ketika hamba telah fana,” katanya, “yang tersisa hanyalah Dia.”
Tamu kedua menyambung, mengutip ajaran Syaikh Siti Jenar, tentang manunggaling kawula Gusti, tentang penyatuan yang tak bisa diucapkan, hanya dialami.
Kyai Mimbar mendengarkan. Atau setidaknya terlihat seperti itu.
Ia sesekali mengangguk. Sesekali menggaruk lutut. Sesekali menoleh ke arah dapur, tempat asap tipis mulai naik—tanda santri sudah menyiapkan makan malam.
“Yai,” kata tamu pertama setelah sekian lama,
“bagaimana pandangan panjenengan tentang wujud Tuhan dalam diri manusia?”
Kyai Mimbar menguap, tak berusaha menutup mulut.
“Wujud Tuhan itu berat. Jangan ditaruh di rak tinggi.”
Mereka terdiam sejenak.
“Maksud panjenengan?” tanya tamu kedua.
“Kalau terlalu tinggi,” jawab Kyai Mimbar santai, “nanti jatuh ke kepala.”
Diskusi berlanjut. Dalil demi dalil disampaikan. Kisah demi kisah spiritual diurai. Kata-kata mereka rapi, indah, dan berat—seperti koper orang yang terlalu lama bepergian membawa terlalu banyak buku.
Tamu pertama semakin semangat.
“Bukankah Al-Hallaj telah berkata Ana al-Haqq?”
“Dan Syaikh Siti Jenar,” sambung temannya, “telah sampai pada puncak makrifat, meski ditolak zamannya.”
“Oh,” kata Kyai Mimbar ringan. “Pantesan.”
Keduanya berhenti bicara.
“Pantesan apa, Kyai?”
“Pantesan cara bicara panjenengan seperti orang yang sudah tidak lapar pada penjelasan,” jawab Kyai Mimbar. “Biasanya orang yang sudah kenyang, malas mengunyah.”
Mereka tersenyum. Mereka mengira itu pujian
Adzan Magrib berkumandang. Santri bergerak. Lampu-lampu dinyalakan. Setelah shalat, diskusi tidak berhenti.
Diskusi semakin seru Kata-kata berjatuhan seperti tasbih yang putus. Tentang zat dan sifat. Tentang fana dan baqa. Tentang Tuhan yang terlalu dekat hingga nyaris tak terlihat, dan terlalu jauh hingga hanya bisa diteriakkan.
Kyai Mimbar mendengarkan sambil sesekali menguap. Sesekali ia meneguk teh. Ia tidak membantah. Ia tidak mengiyakan. Ia seperti orang yang sedang menunggu hujan reda, padahal hujan itu bukan di langit, melainkan di kepala orang lain.
Santri bagian dapur mulai membawa nampan. Namun sebelum makanan keluar, Kyai Mimbar mengangkat tangan.
“Tahan.”
Ikin, santri paling lugu dan paling taat, berhenti di ambang pintu.
“Tunggu sebentar,” kata Kyai Mimbar. “Ilmunya belum selesai.”
Ikin menelan ludah. Bau nasi hangat menyerbu serambi, tapi harus ditahan.
Malam telah larut dan Isya sudah lewat. Perut kedua tamu mulai memberi tanda. Bunyi kecil, seperti tikus berlari di balik lemari. Mereka duduk lebih tegak, mencoba menegakkan martabat di atas lapar.
Akhirnya Kyai Mimbar berdiri.
“Ikin.”
“Nderek, Kyai.”
“Hidangkan.”
Ikin tersenyum lega. Namun senyum itu runtuh ketika Kyai Mimbar menambahkan,
“Satu piring saja.”
“Satu… saja?”
“Ya. Letakkan di depan saya, Yang lain makan sendiri-sendiri.”
Ia meletakkannya tepat di depan Kyai Mimbar.
Tamu-tamu itu saling pandang. Mata mereka mengikuti gerakan piring seperti orang menonton bulan purnama.
“Kalian makan di dapur saja,” kata Kyai Mimbar kepada santri lain.
Tanpa mempersilakan siapa pun, Kyai Mimbar mulai makan. Lahap. Sendoknya bekerja cepat. Tempe dikunyah sungguh-sungguh, sambal dioles tanpa ragu.
Kedua tamu itu hanya menahan napas, melihat kyai makan seperti kuli
Kyai Mimbar tidak peduli. Ia sedang fokus pada suapan terakhir.
Beberapa menit kemudian, ia bersandar, mengusap perut, lalu bersendawa keras.
“Alhamdulillah.”
Suara itu menggema seperti penutup kitab.
Kyai Mimbar menatap kedua tamunya dengan wajah polos. “Saya anggap panjenengan sudah menyatu dengan saya.”
Keduanya membelalak.
“Kalau sudah menyatu,” lanjutnya ringan, “harusnya ketika saya makan, panjenengan juga ikut kenyang.”
Hening turun. Perut salah satu tamu berbunyi, kali ini jelas.
Mereka saling pandang, lalu menghela napas panjang. Ilmu yang mereka bawa terasa berat, tapi perut kosong terasa lebih nyata.
Hening.
Tamu pertama menelan ludah. “Ini… ajaran apa, Yai?”
“Maqam ludruk,” jawab Kyai Mimbar. “Banyak lakon, sedikit nasi.”
Mereka menahan jengkel.
“Kami pamit, Yai,” kata tamu pertama akhirnya, sambil memegangi perut.
“Iya,” jawab Kyai Mimbar santai.
“Hati-hati. Jangan lupa makan. Jangan sampai lapar membuat panjenengan tersesat dari diri sendiri.””
“Warung dekat pasar.. sepertinya masih buka” katanya enteng
Mereka pergi sambil memegangi perut dengan perasaan jengkel. Jubah mereka tetap rapi, namun langkah mereka lebih cepat dari biasanya. Ilmu mereka masih utuh, tetapi kepercayaan diri mereka sedikit bocor.
Ikin mendekat.
“Kyai, apa tidak keterlaluan?”
Kyai Mimbar tersenyum tipis.
“Dalam hidup, Kin, ada orang yang kenyang oleh kata-kata, dan ada yang lapar oleh kenyataan. Yang pertama suka berdebat. Yang kedua belajar diam.”
Ia masuk ke dalam ndalem. Lampu-lampu dipadamkan satu per satu. Malam kembali tenang menyisakan beberapa lampu yang temaram.
Di serambi yang kosong, sisa aroma nasi masih menggantung—seperti pertanyaan yang akhirnya memilih diam.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya malam itu, dua orang ulama belajar bahwa menyatu tidak selalu berarti kenyang.
Kucing pondok mengeong pelan.
Malam kembali sunyi.
Dan Kyai Mimbar kembali minum teh yang sudah benar-benar dingin.
***
Mohammad Afin Masrija, lulusan S2 HTN dan S1 Perbandingan Mazhab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Alumni PP Miftahul Falah Kediri dan Wahid Hasyim Yogyakarta. Guru dan pembina jurnalistik di MAN 2 Kota Kediri. Tulisannya dimuat di Duta Masyarakat, Memorandum, Majalah Aula, Majalah Mimbar, Pronesiata, MPAjatim, dan GresikSatu.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
