Iustrasi Puisi Petir | Daan Yahya/Republika

Sastra

Puisi Diam

Puisi-puisi Malik Ibnu Zaman

Oleh MALIK IBNU ZAMAN

Petir

 

Hujan tak pernah menawarkan apa-apa,

tetapi ia menjalankan tugasnya.

Tak ada aral melintang dalam dirinya.

Barangkali cuman petir yang menjadi halangannya.

 

20 Maret 2022

***

 

Panas

 

Panas berkutat dalam kedinginan,

ia melambai tak tentu arah.

Saling salip menyalip dalam ruang kosong.

Tak pernah aku tahu apa yang dikejarnya.

 

21 Maret 2022

***

 

Akan dan Bagaimana

 

Akan dan bagaimana,

dua hal yang tak bisa saling bersatu apalagi memiliki.

Tetapi ia selalu bersama ke manapun.

 

22 Maret 2022

***

 

Diam

 

Berganti dalam diam,

mencekam dalam bening.

Tak peduli pada arti, berlari menuju matang.

 

23 Maret 2022

***

 

Ada

 

Tak pernah ada,

dan tak ingin ada.

Memuja diri selalu bertanya mengapa,

lalu akhirnya berakhir tak apa.

Semakin terkurung dalam diam,

tak pernah ada luka segenggam.

 

24 Maret 2022

 

Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerpen berjudul Pengemis yang Kelima (2024).

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat