Barang bukti diperlihatkan saat konferensi pers pemusnahan barang bukti narkotika di Lapangan Mako Koarmada I, Gunung Sahari, Jakarta, Kamis (2/6/2022). Koarmada I TNI AL melaksanakan kegiatan pemusnahan barang bukti narkoba jenis kokain seberat 179 kilog | Republika/Thoudy Badai

Opini

27 Jun 2022, 03:40 WIB

Narkotika Musuh Bersama

Pemakai narkoba cenderung menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu.

HENDARMANAnalis Kebijakan Ahli Utama pada Kemendikbudristek

Setiap 26 Juni diperingati hari antinarkotika internasional, yang dimulai sejak 26 Juni 1989. Ini ditetapkan PBB untuk menentang penyalahgunaan obat-obatan dan perdagangan obat ilegal.

Perayaan hari antinarkotika internasional ditentukan Resolusi Majelis Umum 42/112 pada 7 Desember 1987. Tanggal 26 Juni sekaligus memperingati peniadaan perdagangan candu oleh Lin Zexu di Humen, Guangdong dan diakhiri pada 25 Juni 1839.

Tema hari antinarkotika internasional 2022, addressing drug challenges in health and humanitarian crises, mengatasi tantangan narkoba dalam krisis kesehatan dan kemanusiaan. Tujuannya, meningkatkan kesadaran atas masalah utama yang ditimbulkan obat-obat terlarang bagi masyarakat.

Pertanyaannya, kebijakan apa saja yang dilakukan pemerintah untuk memerangi narkotika? Faktanya, meski gerakan memerangi narkotika sudah berjalan lama, pemakai narkoba cenderung menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu.

Kasus narkotika

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2022 (sumber: https://puslitdatin.bnn.go.id/portfolio/data-statistik-kasus-narkoba/) mengungkapkan,  peningkatan penanganan kasus narkotika per tahun terjadi dari 2009 sampai 2021.

Total penanganan kasus narkotika 6.894 dengan tersangka 10.715 orang. Pada 2009, lima kasus dengan tersangka dua orang. Dalam waktu lima tahun yaitu 2014, meningkat menjadi 384 kasus dengan tersangka 588 orang.

Puncaknya 2018 sebanyak 1.039 kasus, tersangka 1.545 orang. Setelah itu menurun walaupun pada 2021 masih cukup tinggi yaitu 766 kasus, tersangka 1.184 orang. Adapun barang bukti aset yaitu Rp 1.093.432.187.988,00 atau sekitar Rp 1 triliun.

Bentuk barang bukti ada 44 buah termasuk biji ganja, ganja, ganja sintetik, lahan ganja, dan pohon ganja. Barang bukti terbesar dalam bentuk ekstasi 5.020.475 butir, ganja seberat 28.473.208 gram, dan shabu 14.384.669 gram.

Survei yang dilakukan atas kerja sama BNN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2021 menemukan, prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia meningkat 0,15 persen.

Penduduk Indonesia yang terpapar narkotika, pertama, kelompok yang pernah mengonsumsi narkotika 4.534.744 pada 2019, naik menjadi 4.827.619 pada 2021. Kedua, kelompok setahun pemakai yakni 3.419.188 pada 2019, naik jadi 3.662.646 pada 2021.

Implementasi kebijakan

Pemerintah menetapkan Inpres Nomor 2 Tahun 2020 tentang RAN P4GN (Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika).

Terkait pencegahan, yang sudah dilakukan BNN Pusat yakni advokasi dan diseminasi informasi. Advokasi meliputi rapat koordinasi, supervisi, jejaring, asistensi, monitoring dan evaluasi, bimbingan teknis, intervensi, dan asistensi penguatan.

Sasarannya lingkungan pendidikan, pemerintah, masyarakat, dan swasta. Sementara, diseminasi informasi meliputi media konvensional, media daring, media penyiaran, dan media cetak. Sasarannya, lingkungan masyarakat, pelajar, pekerja, dan mahasiswa.

Dari keempat moda media, yang terbesar media konvensional dan terendah  media penyiaran. Dalam implementasinya, ternyata belum semua pemerintah daerah melaporkan rencana aksi. Terdapat sejumlah kendala yang dihadapi.

Pertama, kondisi pandemi Covid-19. Kedua, keterbatasan anggaran dan SDM aparatur. Ketiga, sistem informasi dan pelaporan yang belum terintegrasi. Keempat, belum adanya reward dan punishment tegas.

Kelima, belum semua daerah memiliki BNN pada tingkat kabupaten/kota (BNNK) sehingga organisasi peringkat daerah (OPD) sulit melakukan koordinasi dan konsultasi terkait P4GN.

Rekomendasi

Inpres Nomor 2 tahun 2020 tentang RAN P4GN mengamanatkan keinginan pemerintah mencegah dan memberantas penyalahgunaan peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika. Mengatasi kendala yang ada, perlu sejumlah rekomendasi.

Pertama, komitmen dan dukungan pimpinan kementerian/lembaga dan pemda. Ini dikaitkan dengan melaksanakan dan melaporkan pelaksanaan RAN P4GN.

Kedua, pada instansi baik pemerintah pusat msupun pemda yang belum menyusun, melaksanakan, dan melaporkan RAN P4GN perlu sosialisasi, koordinasi, dan pembinaan intensif. Ini terkait substansi rencana aksi maupun mekanisme pelaporan agar pelaksanaan dan pelaporan RAN P4GN  lebih baik.

Ketiga, walaupun pada masa pandemi Covid-19 diharapkan pada seluruh kementerian/lembaga dan pemda tetap melaksanakan rencana aksi nasional P4GN. Hal yang perlu dilakukan, modifikasi bentuk kegiatan RAN P4GN.

Salah satunya, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi atau sarana lain. Keempat, instansi baik pusat maupun daerah bersinergi  berdasarkan tugas dan kewenangannya menangani persoalan narkotika untuk mewujudkan Indonesia bersih narkoba.


Peta Dunia Karya Monumental Al-Idrisi

Dalam membuat peta dunia, sang ilmuwan Muslim didukung Raja Roger II.

SELENGKAPNYA

Al-Idrisi Sang Perintis Peta Dunia

Muhammad al-Idrisi membuat peta dunia pertama yang begitu informatif yang sudah selesai dikerjakan pada 1154.

SELENGKAPNYA

Paulina Fitriani Temukan Jalan Berislam

Mualaf ini meraih hidayah Illahi tatkala masih berusia muda.

SELENGKAPNYA
×