Sejumlah buruh pabrik antre pendaftaran pemeriksaan kesehatan menjelang vaksinasi Covid-19 di salah satu pabrik teh Banjaran, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (17/6/2022). | ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/foc.

Opini

22 Jun 2022, 03:45 WIB

Transisi Pandemi ke Endemi

Transisi pandemi menuju endemi membutuhkan kesiapan Indonesia menekan efek negatif subvarian omikron.

BUDI SETIADI DARYONO, Guru Besar dan Dekan Fakultas Biologi UGM

Sejak pidato Presiden Jokowi, Selasa (17/5), kebijakan bebas masker di area terbuka mulai diterapkan. Ini dilatarbelakangi kasus Covid-19 yang trennya turun signifikan hingga 0 kasus baru pada 2-4 April 2022 dengan rata-rata  kurang dari 500 kasus selama April-Mei 2022.

Namun sepanjang Juni, kasus Covid-19 di Indonesia mengalami tren peningkatan hingga 500 kasus harian. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan, penyebabnya bukan arena Lebaran tetapi ditemukannya subvarian omikron BA.4 dan   BA.5.

Varian terbaru SARS-CoV-19 B.1.1.529 atau omikron ditemukan setelah varian alpha (B.1.1.7), beta (B. 1.351), delta (B.1.617.2), dan diprediksi 50 varian lainnya. Varian tersebut muncul karena virus melakukan replikasi dengan cara copy-paste materi genetiknya.

Jika replikasi terlalu cepat, dapat menaikkan potensi mutasi atau kesalahan dalam pengkodean materi genetik yang menyebabkan perbedaan karakteristik pada tiap varian Covid-19.

 
Jika replikasi terlalu cepat, dapat menaikkan potensi mutasi atau kesalahan dalam pengkodean materi genetik yang menyebabkan perbedaan karakteristik pada tiap varian Covid-19.
 
 

Contohnya, varian omikron memiliki 45-52 mutasi asam amino, dibandingkan strain awalnya, termasuk 26-32 mutasi di protein Spike yang diprediksi berhubungan dengan kemampuan immune escape dan penularan yang lebih tinggi.

Studi menunjukkan, omikron empat kali lebih menular dibandingkan varian delta. Bahkan CNBC dalam salah satu artikelnya  menyatakan, akhirnya varian omikron dapat menjadi virus paling menular.

Kementerian Kesehatan sudah mengumumkan ditemukannya varian baru omikron di Indonesia, kemudian dikenal sebagai subvarian BA.4 (V-22APR-03) dan BA.5 (V-22APR - 04).

Kasus pertama BA.4 dan BA.5 dilaporkan pada 6 Juni 2022, terdiri atas satu orang terdiagnosis positif BA.4 tanpa gejala klinis serta tiga orang positif BA.5 dengan dan tanpa gejala klinis serta sudah vaksinasi 3-4 kali. Pasien terdiagnosis positif setelah ikut pertemuan di Bali.

Subvarian BA.4, sudah dilaporkan 6.903 sekuens melalui GISAID dan berasal dari 58 negara, lima negara dengan laporan BA.4 terbanyak, antara lain Afrika Selatan, AS, dan Britania Raya. Sedangkan BA.5 sudah dilaporkan sebanyak 8.687 sekuens dari 63 negara.

 
Subvarian BA.4 dan BA.5 memiliki banyak mutasi yang sama dengan varian omikron asli serta subvarian lainnya (BA.1, BA. 2, BA. 3), tetapi memiliki lebih banyak kesamaan dengan subvarian BA.2.
 
 

Ada lima negara dengan laporan sekuens terbanyak yaitu AS, Portugal, Jerman, Inggris, dan Afrika Selatan.

Subvarian BA.4 dan BA.5 memiliki banyak mutasi yang sama dengan varian omikron asli serta subvarian lainnya (BA.1, BA. 2, BA. 3), tetapi memiliki lebih banyak kesamaan dengan subvarian BA.2.

Karakteristik kedua subvarian mengandung substitusi asam amino L452R, F486V, dan R493Q dalam spike receptor binding domain dibandingkan BA.2.

Mutasi L452R, yang juga terdeteksi pada varian delta diperkirakan membuat virus lebih menular dan menghindari penghancuran sebagian oleh sel-sel imun. Mutasi F486V juga membantu menghindari pengenalan sistem imun atau immune escape

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr Mohammad Syahril, Sp.P, MPH menyampaikan, transmisi BA.4 maupun BA.5 memiliki kemungkinan menyebar lebih cepat dibandingkan subvarian omikron BA.1 dan BA.2.

Tingkat keparahan BA.4 dan BA.5, tidak ada indikasi menyebabkan kesakitan lebih parah daripada varian omikron lainnya. Namun, yang perlu diwaspadai yaitu immune escape, artinya imunitas seseorang memiliki kemungkinan lolos dari perlindungan kekebalan yang disebabkan infeksi varian omikron.

 
Tingkat keparahan BA.4 dan BA.5, tidak ada indikasi menyebabkan kesakitan lebih parah daripada varian omikron lainnya. 
 
 

Terkait gejala baru subvarian omicron, masih belum bisa diketahui pasti karena kecilnya jumlah kasus terkonfirmasi subvarian BA.4 dan BA.5. Namun, mengingat garis keturunan masih diklasifikasikan sebagai varian omikron, kemungkinan besar gejalanya sama.

Berdasarkan laporan 43 kasus varian omikron di AS pada 1-8 Desember 2021, data gejala awal dari 37 pasien simptomatik terdiri atas batuk 89 persen, fatigue 65 persen, hidung tersumbat 59 persen, demam 38 persen, mual atau muntah 22 persen, sesak napas 16 persen, diare 11 persen, serta anosmia delapan persen.

Transisi

Gagasan transisi pandemi yang disebabkan Covid-19 menjadi endemi pada dasarnya harus memenuhi beberapa indikator. Di antaranya, laju penularan harus kurang dari 1, angka positivity rate kurang dari lima persen, tingkat perawatan rumah sakit harus kurang dari 5 persen.

Selain itu, fatality rate harus kurang dari 3 persen, level PPKM berada pada transmisi lokal level tingkat 1, serta kondisi ini harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya enam bulan.

 
Selain itu, fatality rate harus kurang dari 3 persen, level PPKM berada pada transmisi lokal level tingkat 1, serta kondisi ini harus terjadi dalam rentang waktu tertentu misalnya enam bulan.
 
 

Dari indikator tersebut menunjukkan, meskipun kasus meningkat, positivity rate belakangan ini masih relatif rendah, yakni 1,44 persen (standar WHO positivity rate 

Selain itu, kecepatan transmisi lokal di Indonesia masih rendah di 1,03/100rb/pekan (standar WHO, level 1 Transmisi Komunitas

Maka, dengan adanya subvarian omikron, pandemi di Indonesia masih dalam kategori terkendali.

Kesiapan transisi

Walaupun begitu, transisi pandemi menuju endemi membutuhkan kesiapan Indonesia dalam mempersiapkan dan menekan efek negatif subvarian omikron yang sudah ada dan akan datang.

Langkah konkret untuk mempercepat transisi, yaitu dengan meningkatkan cakupan vaksinasi, baik dosis primer maupun booster.

Adanya gap cukup tinggi dari penerima dosis 1 yaitu 199.719. 672 dosis (95,90 persen), dosis 2 sebesar 166.408. 403 (79,90 persen), dengan penerima dosis 3 (booster) yaitu 43.016.550 dosis atau hanya 20,65 persen, menunjukkan tak ratanya pemberian vaksinasi di daerah.

Pemerataan program vaksinasi dosis 2 serta meningkatkan booster atau vaksin Covid-19 dosis 3 dinilai memiliki dampak besar dalam pengendalian gelombang omikron.

 
Walaupun begitu, transisi pandemi menuju endemi membutuhkan kesiapan Indonesia dalam mempersiapkan dan menekan efek negatif subvarian omikron yang sudah ada dan akan datang.
 
 

Booster penting untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan meringankan gejala, terutama dari varian terbaru termasuk subvarian omikron BA.4 dan BA.5. Sebab, efektivitas vaksin menurun setelah enam bulan, jadi perlu booster minimal tiga bulan dari dosis kedua. 

Selain itu, kepatuhan terhadap protokol kesehatan juga tetap harus diperhatikan. Walaupun peraturan penggunaan masker di luar ruangan sudah tidak diwajibkan tetapi kegiatan di ruang tertutup dan transportasi publik tetap harus menggunakan masker.

Serta, masyarakat rentan, lansia, atau dengan penyakit komorbid tetap memakai masker. IHME memperkirakan, dengan menggunakan masker sesuai aturan WHO minimal 80 persen dari keseluruhan masyarakat, dapat mengurangi infeksi kumulatif omikron sebesar 10 persen.

Hal terpenting tetapi sering luput, urgensi meningkatkan surveilans genomik pada pasien Covid-19 bergejala sedang/berat/kritis/meninggal dan pengiriman sampel kasus positif Covid-19 untuk di-WGS (whole genome sequencing) sesuai proporsi.

Ini akan meningkatkan tracing dan dapat memastikan kesiapan Indonesia melakukan transisi dari pandemi ke endemi secara valid tanpa dipaksakan. 


Lobster dan Mafia

Penyelundupan benih bening lobster masih berlangsung karena pelaku utamanya belum tertangkap.

SELENGKAPNYA

Mengawal Penerapan Pajak Karbon

Beban pajak karbon akhirnya diteruskan produsen ke konsumen.

SELENGKAPNYA

Aneka Trik Berhemat Bensin di Seluruh Dunia

Harga bensin dan solar meroket, yang dipicu perang Rusia di Ukraina dan pandemi Covid-19

SELENGKAPNYA
×