Jamaah membaca Alquran bersama-sama di Masjid Raya Nurul Islam, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (27/4/2022). Orang yang hasad akan menderita di dunia dan tersiksa di akhirat. | ANTARA FOTO/Makna Zaezar

Laporan Utama

20 Jun 2022, 00:00 WIB

Pelajaran dari Orang-Orang Hasad

Orang yang hasad akan menderita di dunia dan tersiksa di akhirat.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Dalam sejarah Islam, sifat hasad menjadi salah satu dosa pertama yang menjadi petaka bagi kehidupan. Orang-orang yang hasad dalam perjalanannya selalu tak mendapatkan apa-apa kecuali kebinasaan yang menyengsarakannya. 

Dalam sejarahnya, sifat hasad merupakan warisan yang dipertontonkan setan kepada makhluk-makhluk Allah. Dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 30, Allah SWT berfirman, "Wa idz qaala lil-malaaikati inniy jailun fil-ardhi khalifatan qaalu ataj'alu fiha man yufsidu fiha wa yasfiku ad-dimaa-a, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddisu laka qaala inniy a'lamu maa la ta'lamun". 

Artinya, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi'. Mereka berkata, 'Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?'. Tuhan berfirman, 'Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,". 

Prof Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa kelompok ayat ini dimulai dengan penyampaian keputusan Allah SWT kepada para malaikat tentang rencana-Nya menciptakan manusia di bumi. Penyampaian kepada malaikat ini penting karena para malaikat akan dibebani sekian tugas yang menyangkut manusia. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Para malaikat bertanya kepada Allah atas maksud dan rencana tersebut, bukan menentang atau berkeberatan atas rencana-Nya. Beda halnya dengan setan yang menentang, bahkan menolak perintah Allah untuk bersujud kepada manusia.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 34, Allah SWT berfirman, "Wa idz qulna lil-malaikatisjuduu li-adama fasajaduu illa iblisa aba wastakbara wa kaana minal-kaafirin". Artinya, "Dan (renungkanlah pula) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kepada Adam', maka mereka pun sujud. Tetapi, iblis enggan dan angkuh. Dan dia termasuk kelompok yang kafir. 

Prof Quraish menjelaskan, keengganan iblis bersujud kepada Adam bukan beralasan bahwa bersujud kepada Adam adalah perbuatan syirik. Keengganan iblis/setan karena bersumber dari keangkuhan yang menjadikan ia menduga dirinya lebih baik dari Adam. 

"Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah,". Demikian jawaban setan ketika ditanya mengapa ia menolak bersujud kepada Adam. Dalam Alquran surah al-Isra ayat 61 disebutkan, "Apakah saya wajar bersujud kepada apa yang Engkau ciptakan dari tanah?"

Meski demikian, Allah memasukkan Adam dan Hawa ke dalam surga. Di surga Adam dan Hawa digoda oleh setan sehingga tergelincir melanggar larangan Allah dengan memakan buah khuldi. Godaan setan kepada Adam didasari oleh sifat hasad dan dengki yang dilancarkan hingga mereka berdua terusir dari surga.

 
Sebagaimana yang terjadi, Allah tidak memaafkan setan atas perilaku sombong dan angkuhnya.
 
 

Sebagaimana yang terjadi, Allah tidak memaafkan setan atas perilaku sombong dan angkuhnya, tapi mengabulkan permintaan setan untuk menggoda manusia di muka bumi hingga hari kiamat tiba. Meski hancur lebur dan binasa akibat hasad yang berujung pada neraka, setan tetap tak bergeming dan tetap melancarkan sifat hasadnya kepada anak-cucu Adam. 

Petaka akibat hasad tak berhenti di setan saja. Manusia yang sejatinya bukanlah anak-cucu setan nyatanya tergoda dengan hasad yang dilancarkan setan. Dalam sejarah, pembunuhan pertama yang dilakukan umat manusia di muka bumi terjadi akibat sikap hasad yang merasuk ke jiwa Qabil. 

Alquran mengabadikan kisah Qabil yang membunuh saudaranya, Habil, dalam surah al-Maidah ayat 27-31. Yang mana dalam rangkaian ayat tersebut diceritakan mengenai sikap Qabil yang membunuh saudaranya, Habil, karena sikap iri-dengkinya. Qabil merasa bahwa dirinyalah yang berhak menikahi Iqlima, saudara kembarnya yang berparas cantik, bukan Habil. Atas sikap hasadnya ini, dia membunuh saudaranya sendiri.

photo
Dialog Jumat edisi Jumat 10 Juni 2022. Hasad dan Kehancuran Diri. Petaka akibat hasad tak berhenti di setan saja. Manusia yang sejatinya bukanlah anak-cucu setan nyatanya tergoda dengan hasad yang dilancarkan setan. - (Republika/Thoudy Badai)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan dampak dari sikap hasad yang dilakukan Qabil terhadap Habil. Kejahatan, kedengkian, dan kezaliman yang dilakukan oleh putra Nabi Adam tersebut merupakan malapetaka bagi dirinya sendiri. Dia ingkar, menolak takdir yang diberikan Allah SWT kepadanya dan berlaku hasad dan zalim kepada saudaranya.   

Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan, sifat hasad lebih buruk dari sifat bakhil dan dampaknya lebih dahsyat hasad. Sebab orang yang hasad tidak menginginkan nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain dan kufur terhadap nikmat yang Allah berikan kepadanya.

 
Sifat hasad lebih buruk dari sifat bakhil dan dampaknya lebih dahsyat hasad.
 
 

Pernah suatu ketika iblis datang menggoda Firaun dengan mengatakan bahwa ada yang lebih hebat, dahsyat, dan durjana melebihi apa yang dipikirkan Firaun. Hal itu adalah sifat hasad karena dampaknya yang luar biasa yang dapat memicu perpecahan dan kehancuran. 

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Al-hasadu ya'kulul-hasanaati kamaa ta'kulu an-naarul-khataba". Artinya, "Sifat hasad itu memakan akan pahala kebaikan sebagaimana api yang memakan (habis) kayu bakar".

Orang yang memiliki sifat hasad, menurut Imam Al-Ghazali, kerap terobsesi agar nikmat yang Allah berikan kepada orang lain hilang dan lenyap. Walaupun dia sendiri tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari hilangnya nikmat tersebut. Sehingga menurut Rasulullah SAW, sifat hasad merupakan kejahatan yang luar biasa merusak diri manusia. 

Di sisi lain, orang yang bersifat hasad sebenarnya senantiasa jauh dari kasih sayang dan senantiasa berada di dalam siksaan dunia dan di akhirat nanti. Imam Ghazali menyebut, orang yang hasad di dunia akan tersiksa dengan tekanan perasaannya dan di akhirat pun akan merana. 


Tumpang Tindih di Indo-Pasifik

Stabilitas ekonomi dan keamanan di Indo-Pasifik memang saling terkait, sehingga terkesan tumpang tindih.

SELENGKAPNYA

Waspadai Hasad demi Keutuhan Bangsa

Hasad dapat memasuki relung hati orang yang beriman.

SELENGKAPNYA

Zikir Itu Sunah atau Wajib?

Baik di langit maupun di bumi, semua makhluk berzikir mengingat Allah.

SELENGKAPNYA
×