Dialog Jumat edisi Jumat 10 Juni 2022. Hasad dan Kehancuran Diri | Republika/Thoudy Badai

Laporan Utama

19 Jun 2022, 04:35 WIB

Waspadai Hasad demi Keutuhan Bangsa

Hasad dapat memasuki relung hati orang yang beriman.

 

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Dalam sejarah umat manusia, pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi dipicu oleh sifat hasad yang dilakukan Qabil saat membunuh saudaranya, Habil. Apa itu hasad dan bagaimana bisa sifat itu begitu berbahaya bagi keutuhan umat?

Pengasuh Pesantren al-Hikam KH Muhammad Yusron Shidqi menjelaskan bahwa definisi hasad itu adalah menginginkan nikmat yang diterima orang lain. Dalam bahasa Arab, makna hasad dibagi menjadi dua, yakni iri dan dengki.

"Kalau iri itu menginginkan nikmat yang dimiliki orang lain, sedangkan dengki ini levelnya sudah lebih tinggi. Dia ingin menghilangkan nikmat yang diterima orang lain," kata Gus Yusron saat dihubungi Republika, Rabu (8/6).

Meski demikian, beliau menjelaskan, sikap iri terbagi menjadi dua. Ada iri yang berkonotasi baik seperti iri terhadap orang alim dan orang kaya yang memanfaatkan ilmu serta hartanya di jalan Allah SWT dan ada pula iri yang berkonotasi buruk. Iri dalam konotasi buruk, kata dia, diistilahkan sebagai sesuatu yang berbahaya dan dapat menjadi haliqatuddin (mencukur agama).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Hal itu sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW mengenai bahaya hasad, iri, dan dengki. Gus Yusron menjelaskan, dosa pertama yang dilakukan setan adalah karena bersifat dengki kepada Nabi Adam AS. Yang mana hal itu telah mencukur gundul agama atau pengetahuan setan terhadap Allah SWT.

"Jadi, sifat dengki itu bagaikan api yang menghabisi kayu. Agama kita bisa gundul jika kita ikut terseret dalam jeratan hasad," kata dia.

Menurut Gus Yusron, hasad dapat memasuki relung hati orang yang beriman. Biasanya hal ini karena adanya obsesi terhadap sesuatu dan tidak menyukai apabila ada pesaing. Dari sinilah apabila terus diikuti, dikhawatirkan orang tersebut tidak bisa mengalahkan kebenciannya.

Selanjutnya, beliau menjelaskan, hasad juga dapat memasuki relung jiwa manusia apabila dia disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Beliau mengutip pernyataan Imam Ghazali yang pernah mengatakan bahwa jika orang tidak memiliki kesibukan, pasti memiliki waktu untuk berbuat keburukan.

Untuk itu, beliau berpesan bahwa umat Islam seyogianya dapat menghindari sifat hasad ini seperti yang dipesankan dalam agama sebagai upaya preventif. Rasulullah SAW bersabda, "La tahaasaduu wa la tanaajasyuu wa la tabaghaadhu wa la tadaabaruu". Yang artinya, "Janganlah kalian saling mendengki, jalan saling menipu, jangan saling membenci, dan jangan saling membelakangi."

Maka untuk menghindari hasad, keutuhan dan persaudaraan harus terus dieratkan. Dalam konteks keindonesiaan, kata beliau, bangsa Indonesia perlu menghindari hasad dengan cara adanya pemerataan ekonomi dari Sabang sampai Merauke.

"Sebab rusaknya persaudaraan adalah pembagian rezeki yang tidak rata," ujarnya.

photo
ILUSTRASI. Hasad dapat memasuki relung hati orang yang beriman. - (FutureConnet)

Untuk itu, bangsa Indonesia dinilai perlu merealisasikan keadilan sosial, keadilan pendidikan, keadilan ekonomi, keadilan hukum, dan keadilan sosial dalam berbangsa dan bernegara. Pemerintah harus menjadi naungan yang menjamin keberlangsungan hidup warganya. Dengan demikian, kehidupan masyarakat berjalan dengan baik sehingga mereka sibuk dengan aktivitasnya. Itulah yang akan melindungi negara dari hasud dan menjaga NKRI dari separatisme dan disintegrasi.

Ustazah Izza Farhatin Ilmi menambahkan, untuk menghindari dan mengobati sikap hasad, seseorang harus belajar qanaah dan bersyukur. Sebab, kata beliau, jika seseorang memiliki rasa qanaah yang cukup, ia tidak akan melirik apa yang didapatkan orang lain.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran surah an-Nisa ayat 31, yang artinya, "Janganlah kalian mengharap apa yang dilebihkan Allah kepada di antara kalian yang lain."

"Sehingga kalau sudah diberikan oleh Allah, ya sudah terima," kata Ustazah Izza.

Sebab menurut Ustazah Izza, orang yang sudah terlatih dengan sifat qanaah dan rasa syukur, dia akan senantiasa menerima takdir Allah dan tidak akan bersifat hasud kepada nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Sikap syukur yang paling mudah dan ringan dilakukan, kata Ustazah Izza, adalah dengan sering-sering mengucapkan alhamdulillah.

Syukur merupakan sikap terpuji yang oleh sebagian ulama disebut sebagai separuh agama setelah sabar. Artinya adalah berterima kasih kepada Allah SWT. Apa yang dimiliki setiap makhluk adalah nikmat yang luar biasa.

Syukur diwujudkan dengan memperbanyak ibadah dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Yang harus dilakukan kemudian adalah memperbanyak memberikan manfaat kepada orang lain. Dengan berbuat seperti itu, seseorang akan memiliki hati yang lembut, lebih banyak merasakan nikmat, dan selalu berupaya berbuat hal yang terbaik untuk Allah.

 


Metafisika Kehidupan

Hidup dan mati umat Bani Adam di muka bumi menembus wilayah metafisika.

SELENGKAPNYA

Amal Tersembunyi

Bagaimana dengan kita? Adakah amalan tersembunyi yang cukup hanya diri dan Allah yang tahu?

SELENGKAPNYA
×