Haedar Nashir | Daan Yahya | Republika

Refleksi

Metafisika Kehidupan

Hidup dan mati umat Bani Adam di muka bumi menembus wilayah metafisika.

OLEH PROF HAEDAR NASHIR

Sebulan lalu, pada 27 Mei 2022 tokoh dan guru bangsa Buya Ahmad Syafii Maarif dipanggil Allah ke haribaan-Nya setelah dirawat beberapa hari di RSU PKU Muhammadiyah Gamping Sleman-Yogyakarta. Kepergian Buya yang tergolong sehat dalam usia 87 tahun itu mengundang duka dan kehilangan yang meluas dari seluruh penduduk negeri dan mancanegara.

Figur teladan yang bersahaja itu wafat meninggalkan jejak hidup yang dikenang banyak orang yang cinta ilmu, keadaban, kebinekaan, kedamaian, kebaikan, dan persatuan bangsa. Hingga hari-hari terakhir ini pelayat masih berziarah ke makamnya di Taman Makan Husnul Khatimah Kulon Progo.

Senin berlalu, Erril putra tercinta Ridwan Kamil dimakamkan di Cimaung Bandung Selatan dalam iringan doa ribuan orang yang ikut berduka atas kepergiannya menghadap Allah Maha Pemilik Kehidupan. Lebih dua pekan putra sulung gubernur Jawa Barat itu dalam pencarian yang tak kenal lelah di sungai Aare.

Jenazahnya akhirnya ditemukan di Bendungan Swiss Bern oleh otoritas setempat pada Rabu pagi (8/6/2022) kemudian dibawa ke Tanah Air. Sebuah musibah yang memperoleh simpati luas, ketika pemuda baik hati bernama Emmeril Kahn Mumtadz itu pergi untuk perjalanan mulia mencari ilmu.

Setiap hari, pekan, bulan, dan tahun orang meninggal melalui berbagai kisah di panggung kehidupan ini. Sudah berapa ratus juta insan ciptaan Allah itu mati sebagaimana  lahir dan hidup dalam siklus sunatullah yang pasti di jagad raya ini.

Hingga  Kamis, 16 Juni 2022, saudara sebangsa yang meninggal terkait Covid-19 tercatat 156,670 jiwa, sedangkan di tingkat dunia 6,334,518 orang. Ada yang terpahami, tidak sedikit yang menjadi misteri di balik kematian anak cucu Adam itu. Satu hal yang pasti, semuanya berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. 

Setiap kematian itu duka dan berharga, karena menyangkut nyawa manusia. Kematian manusia siapapun dia bukanlah peristiwa biasa laksana barang yang terbuang. Jangan pernah membandingkan jumlah kematian satu musibah dengan kasus lain yang lebih besar, hanya untuk menganggap ringan sebuah musibah, lebih-lebih yang merenggut nyawa. Satu jiwa manusia sangatlah berharga, karena Tuhan Yang Maha Pencipta menghormati dan memuliakan insan ciptaan-Nya!

 
Setiap kematian itu duka dan berharga, karena menyangkut nyawa manusia. Kematian manusia siapapun dia bukanlah peristiwa biasa laksana barang yang terbuang.
 
 

Memaknai Kehidupan

Kematian adalah matarantai dari siklus manusia lahir dan hidup. Jangan pernah memandang kematian secara instrumental dalam logika verbal “mati ya mati, setiap orang pasti mati”. Benar, bahwa setiap orang pasti mati dan siapapun tidak dapat mencegahnya, meski bersembunyi di “benteng yang tinggi dan kokoh” (fii buruji musyadah).

Begitulah peringatan Tuhan dalam Alquran Surat An-Nisa ayat 78.  Ajal kematian ketika datang sungguh tidak dapat diakhirkan atau diawalkan (QS Al-‘Araf: 34; An-Nahl: 61; Yunus: 49; Al-Mu’minun: 43; Al-Hijr: 5). Hukum kematian itu pasti dan menjadi sunatullah di muka bumi.

Namun bukan berarti mati sebagaimana lahir dan hidup harus dipandang murah dan peristiwa praktis belaka sebagaimana nalar sekular sejarawan Noah Harari. Bagi umat beragama, mati dan hidup itu bersifat metafisika dalam relasi sunatullah yang multidimensi.

Jangan pernah menganggap kematian manusia seperti urusan ragad fisik yang gampang terbuang. Kucing mati saja bagi si pemelihara yang mencintainya sangatlah bermakna, apalagi untuk nyawa manusia.

Allah mengingatkan, “Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS Al-Maidah: 32).

Demikian berharganya jiwa manusia, maka Islam menempatkan “pemeliharaan jiwa” (hifdz an-nafs) sebagai bagian dari tujuan bersyariat (maqashid asy-syari’ah) bersama dengan pemelihara agama (hifdz ad-diin), pemeliharaan akal (hifdz al-‘aql), pemeliharaaan harta (hifdz al-maal), dan pemeliharaan keturunan (hifdz al-nasl).

 
Kematian adalah matarantai dari siklus manusia lahir dan hidup.
 
 

Musibah pun bukan peristiwa yang berlalu begitu saja. Musibah pandemi Covid-19 misalnya, meski sudah mulai landai, janganlah dianggap peristiwa lumrah dan berlalu  begitu saja. Perlu tafakur dan kearifan yang mendalam bagi setiap manusia khususnya kaum beriman.

Penting meletakkan musibah pandemi  sebagai ‘am al-hazm atau tahun kedukaaan. Betapa berat korban sakit dan meninggal aikbat virus Corona ini baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Para para dokter, tenaga kesehatan, relawan, dan berbagai pihak yang terlibat dalam usaha penanganan Covid-19 selama tiga tahun lebih merasakan beban luar biasa. Banyak saudara-saudara sebangsa terutama di akar-rumput yang terdampak sosial ekonomi dan psikososial yang sangat berat akibat pandemi tersebut. Menyikapinya memang jangan larut dan jatuh diri, tetapi juga tidak instrumental disertai arogansi.

Boleh jadi ada banyak orang yang tidak terkena oleh virus yang menatikan ini. Namun tidak bijak manakala angkuh diri dan memandang pandemi berlalu tanpa arti.

Menghadapi musibah yang dialami siapapun diperlukan jiwa empati, simpati, peduli, dan sikap kemanusiaan luhur dari seluruh anak bangsa dan semua pihak dalam mengatasi musibah berat ini. Lebih-lebih bagi kaum muslimin yang diajari ihsan dalam kehidupan.

Iman setiap muslim diuji dalam menghadapi musibah bersama ini sebagaimana sabda Nabi, “La yu’minu ahadukum hatta yuhibba li-akhihi ma yuhibbu li-nafsihi”, artinya “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya” (HR Bukhari-Muslim dari Hamzah Anas bin Malik).

Musibah niscaya menjadikan insan mukmin tercerahkan hatinya dengan cahaya hidayah (QS Ath- Thagabun: 11). Bukan menjadi sosok keras hati nir-jiwa irfani dalam keangkuhan sikap membatu.

Memaknai kematian dalam perspektif metafisika Islam berbanding lurus dengan memberi arti hakiki pada kehidupan manusia dan alam semesta ciptaan Tuhan. Manusia itu insan yang diciptakan dalam sebaik-baik penciptaan atau fiy ahsan at-tqwim (QS At-Tin: 4) dan Tuhan sendiri memuliakannya di banding dengan dengan makhluk lainnya (QS Al-Isra: 70). Manusia ketika hidup maupun meninggal haruslah dihormati dan dimuliakan keberadaannya.

 
Memaknai kematian dalam perspektif metafisika Islam berbanding lurus dengan memberi arti hakiki pada kehidupan manusia dan alam semesta ciptaan Tuhan.
 
 

Sebaliknya setiap diri manusia mesti menempatkan diri dalam kehormatan dan kemuliaan. Manusia tidak saling merendahkan dan memghinakan, sebagaimana setiap insan tidak menjatuhkan diri pada kehinaan yang menyebabkan martabat kemanusiaannya hilang. Hidup dan mati bagi anak cucu Adam mesti diletakkan dalam mozaik penghormatan dan kemuliaan di bawah cahaya transendensi Ilahi. 

Hidup dan mati itu batu uji bagi setiap insan tentang siapa yang paling baik amalnya (QS Al-Mulk: 2). Bukan siapa yang paling kaya atau miskin, bertahta atau rakyat biasa, public figure atau awam, dan segala atribut duniawi tanpa pemaknaan dan fungsi kebaikan yang berarti.

Legasi manusia hidup juga bukan pada segala kemegahan dan keperkasaan duniawi yang nirarti, tetapi pada kemaslahatan terbaik yang menebar rahmat bagi semua. Demikian halnya dalam beragama.

Melalui parameter amaliah terbaik itu beragama tidak berhenti pada kefasihan akan ayat-ayat Kitab Suci dan sederet verbalitas keagamaan yang ritual simbolik; melainkan pada praktik hidup yang terbaik dan menjadi uswah hasanah.

Ilmu orang beragama niscaya mencerahkan hati, rasa, pikiran, sikap, ucapan, dan tindakannya yang serbamulia. Agama menjadi laku diri yang adiluhung. Insan beragama tampil menjadi ‘abdullah dan khalifah di muka bumi untuk menghadirkan peradaban mulia bagi kehidupan semesta.

Lahir, hidup, dan mati insan beriman memiliki faedah dan tujuan utama untuk meraih kebahagiaan sejati dunia-akhirat dalam limpahan ridha dan karunia Tuhan (QS Al-Fath: 29). 

Rahasia Kehidupan

Hidup dan mati bagian dari sunatullah bagi manusia sebagaimana berlaku untuk makhluk Tuhan lainnya. Insan beriman tidak perlu takut mati, tapi jangan ambisius mengejar kematian.

Pahamilah hidup dan mati secara bermakna, serta berbuatlah amal terbaik selama hidup di dunia menuju keabadian di Hari Akhir pasca kematian. Hidup, mati, dan segala dimensi di mana manusia bertempat tinggal di muka bumi dengan segala relasi kesemestaannya sungguh kompleks dan tidak sederhana.

 
Manusia bukan hanya mampu berpikir tentang  dirinya serta makhluk dan alam semesta ciptaan Tuhan lainnya. Manusia dengan akal pikirannya berani berpikir tentang Tuhan yang menciptakannya.
 
 

Ada banyak ranah yang terbaca dan terbuka dalam kehidupan umat manusia dengan relasi lingkungannya, tidak sedikit yang tak terjangkau nalar verbal dan bersifat rahasia dalam wilayah metafisikan kehidupan yang serbamelintasi atau melampaui kemampuan manusia.

Nalar bayani (verbal-tekstual), burhani (rasional-ilmu-kontekstual), dan irfani (spiritual-ruhaniah) maupun dimensi syariat, hakikat, dan makrifat perlu dikoneksikan dan diintergarasikan dalam memahami dunia kehidupan di alam semesta ini. Agar manusia tidak dangkal dan kerdil dalam memahami kehidupan yang multidimensional itu.

Manusia sendiri memiliki ranah kehidupan yang lebih rumit dan kompleks karena dirinya diberi akal pikiran, hati, dan perasaan disertai relasi sosial yang saling terkoneksi. Manusia sering dijuluki homo ludens (makhluk bermain), homo faber (makhluk pekerja), homo sapiens (makhluk sosial), dan Harari memperkenalkan predikat homo deus untuk manusia yang superdewa karena kemampuannya menggunakan teknologi baru yang sangat canggih. Karena manusia diberi anugerah akal pikiran, maka insan yang satu ini kemampuannya melampaui makhluk Tuhan lainnya.

Manusia bukan hanya mampu berpikir tentang  dirinya serta makhluk dan alam semesta ciptaan Tuhan lainnya. Manusia dengan akal pikirannya berani berpikir tentang Tuhan yang menciptakannya.

Lebih jauh dengan akal pikirannya yang liar, tidak segan ada manusia yang dengan arogansinya tidak mempercayai Tuhan dan anti Tuhan. Fir’aun dengan angkuhnya memproklamasikan diri, “Fa-qala ana rabbukum al-a'laa”, artinya  “(Seraya Fir’aun) berkata, "Akulah tuhanmu yang paling tinggi." (QS An-Nazi’at: 24). 

Perangai ala Raja Ramses itu kini tersebar di muka bumi dalam beragam perilaku angkuh, otoriter, merasa diri paling benar, gemar merendahkan sesama, dan segala sikap digdaya kepada sesama.  Perang dan konflik antar manusia terjadi akibat sikap tamak dan arogansi manusia. Keangkuhannya tidak pernah berhenti meski Tuhan memberi banyak peristiwa, isyarat, dan pertanda agar dirinya sadar akan keterbatasannya sebagai manusia dhaif.

 
Perangai ala Raja Ramses itu kini tersebar di muka bumi dalam beragam perilaku angkuh, otoriter, merasa diri paling benar, gemar merendahkan sesama, dan segala sikap digdaya kepada sesama. 
 
 

Baju kebesaran agama dan kitab suci tidak jarang dipakai insan beriman,  dengan kebiasaan menghakimi orang lain sebagai sesat, salah, dan rendah. Surga dan neraka seolah miliknya. Padahal Tuhan mengingatkan, “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS Al-Isra: 37).

Manusia dituntut untuk memiliki kesadaran hidup yang semakin rendah hati dan sarat makna yang bersifat melampaui agar alam pikiran dan sikp tindaknya dalam kehidupan tidak serba isntrumental, kerdil, angkuh, dan rendahan. Memaknai dan menyikapi kematian memerlukan pemahaman dan penghayatan metafisika yang sarat makna mendalam, hakiki, dan mengandung hikmah.

Memahami hidup dan mati memerlukan tingkatan ilmu dan hikmah yang melampaui nalar verbal, sehingga dapat menembus batas ke ranah hakikat dan makrifat.

Sebab masih banyak rahasia kehidupan di alam semesta ini yang tidak sepenuhnya dapat terjangkau nalar verbal manusia dalam wilayah metafisika yang sebagian dapat dipahami, sebagian lagi merupakan sesuatu yang penuh rahasia. Layaknya memahami hakikat ruh sebagaimana firman Allah, “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (QS Al-Isra: 85).

Rahasia yang sama tentang kematian manusia menuju Hari Akhir. Manusia pada titik paling akhir tidak akan pernah tahu kapan, bagaimana, dengan cara apa, dan di tempat mana dia akan mati. Sakit atau tidak serta melalui cara apapun manusia menuju kematian, hanyalah wasilah atau jalan lahiriah yang sejatinya tidak akan pernah sampai pada pengetahuan yang pasti kenapa dan bagaimana seseorang mati.

 
Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
 
 

Wasilah itu tidak selalu dapat terbaca atau bahkan ada kematian tanpa wasilah ketika ajal sudah saatnya tiba. Nabi Muhammad yang maksum dan dicintai Allah melebihi para nabi lainnya bahkan sakit di ujung hayatnya. Ada itibar apa yang ingin dipesankan Tuhan bagi kaum beriman untuk menjadi ranah tafakur dan tazakkur mengenai hakikat hidup dan mati di alam raya ini. 

Kehidupan di dunia ini sungguh mengandung banyak rahasia, hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Ilmu manusia seluas apapun tetap terbatas. Lebih-lebih tentang Hari Akhir dalam satu matarantai hidup dan mati sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok.

Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34).

Hidup dan mati umat Bani Adam di muka bumi menembus wilayah metafisika yang tidak seluruhnya dapat terjangkau nalar verbal manusia dalam lintasan cakrawala mahaluas kekuasaan Tuhan di alam semesta!

Ar-Rubayyi Berjuang dengan Pena dan Pedang

Sahabiyah yang aktif dalam jihad dan ilmu agama.

SELENGKAPNYA

Rakernas Nasdem: Anies, Ganjar, Erick Tiga Besar

Tidak ada DPW Nasdem yang mengusulkan Prabowo Subianto sebagai capres.

SELENGKAPNYA

Masjid Nabawi dan Visi Saudi 2030

Semoga kita semua bisa menjaga Madinah, kota tempat berpulangnya iman.

SELENGKAPNYA