Pria Palestina menggiling gandum pada musim panen di pertanian di Khan Younis. Jalur Gaza, Sabtu (21/6/2022). | REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

Kisah Mancanegara

24 May 2022, 03:45 WIB

Kini, Pabrik Gandum di Gaza Hadapi Krisis

Panen tahunan hampir tak memenuhi permintaan di Gaza dengan populasi 2,3 juta orang.

OLEH RIZKY JARAMAYA

Kenaikan harga tepung telah membuat Amani Ayyad kebingungan. Ibu dari enam anak ini tinggal di Desa Mughraqa di Jalur Gaza tengah. Menurutnya kenaikan harga bahan pokok dapat menimbulkan ancaman kelaparan di tengah blokade Israel.

"Harga minyak goreng, tepung, dan gula semuanya naik. Kami mentolerir blokade dan pembagian tapi apa yang bisa dilakukan orang ketika mereka tidak punya makanan? Ini kematian yang lambat," kata Ayyad kepada Reuters.

Lima pabrik gandum di Gaza mulai kekurangan pasokan akibat invasi Rusia ke Ukraina yang telah berlangsung sejak 24 Februari. Invasi tersebut telah menutup akses pengiriman gandum di Laut Hitam.

Harga gandum telah melonjak sekitar 20 persen. Hal ini membuat lima pabrik gandum di Gaza harus bersusah payah bersaing dengan Mesir dan Tepi Barat, yang memiliki biaya produksi lebih rendah daripada Gaza. Direktur Umum Al-Salam yang merupakan pabrik gandum terbesar di Gaza, Abdel-Dayem Abu Awwad, mengatakan krisis telah memaksa mereka untuk memberhentikan sebagian besar dari 54 pekerja dan mempersingkat jam kerja.

photo
Penampakan dari udara penggilingan gandum Al-Salam diDeir al-Balah, Jalur Gaza, Rabu (18/5/2022). - (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

"Kapasitas kami mencapai 400 ton gandum per hari atau 300 ton tepung. Saat ini, telah turun menjadi (hanya) 10 hingga 20 persen dari itu," kata Abu Awwad kepada Reuters.

Pabrik gandum Al-Salam terletak Gaza selatan. Sebagian besar mesin di pabrik itu telah dimatikan. Pabrik Al-Salam menjual satu karung tepung seberat 50 kilogram seharga 120 shekel atau 35,91 dolar AS. 

Sementara tepung yang diimpor dari Mesir dan wilayah pendudukan Tepi Barat harganya sekitar 10 shekel lebih murah. Sebelum konflik Rusia-Ukraina, satu karung tepung dengan berat 50 kilogram dijual seharga 97 shekel.

"Alasan utamanya adalah perang Rusia-Ukraina. Kami memiliki toko selama dua hingga tiga bulan, tetapi ketika mereka habis, kami wajib membeli gandum dengan harga baru, dan itu sangat tinggi," kata Abu Awwad. 

Rusia dan Ukraina menyumbang hampir sepertiga dari pasokan gandum global. Gangguan pengiriman gandum yang disebabkan oleh perang telah mendorong harga naik di seluruh dunia. 

photo
Pria Palestina menggiling gandum pada musim panen di pertanian di Khan Younis. Jalur Gaza, Sabtu (21/6/2022). - (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

 

Krisis itu bertepatan dengan dimulainya panen gandum di Gaza. Tetapi panen tahunan hampir tidak dapat memenuhi permintaan di daerah yang memiliki populasi sekitar 2,3 juta orang. Warga Gaza mengkonsumsi hingga 500 ton tepung per hari.

Dua pertiga warga Gaza bergantung pada bantuan dari Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB atau UNRWA. Mereka memberikan distribusi makanan triwulanan kepada keluarga pengungsi.  Sejauh ini, UNRWA telah mempertahankan pengiriman bantuan. Organisasi tersebut telah meminta dana tambahan dari negara-negara donor untuk menutupi harga pangan yang melonjak.

“Jika (bantuan) UNRWA dihentikan atau ditunda, akan terjadi krisis karena pengungsi bergantung padanya,” kata seorang ayah empat anak, Samir Al-Adham, yang berbicara kepada Reuters di pusat distribusi makanan di kamp pengungsi Beach. 

photo
Pria Palestina menggiling gandum pada musim panen di pertanian di Khan Younis. Jalur Gaza, Sabtu (21/6/2022). - (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)

Sebelumnya, Bank Dunia akan menggelontorkan 30 miliar dolar AS untuk menahan krisis pangan yang disebabkan invasi Rusia di Ukraina. Pasalnya perang tersebut memangkas ekspor gandum dua negara itu.

Bank Dunia mengatakan dana yang disediakan terdiri dari 12 miliar dolar AS untuk proyek-proyek baru yang berkaitan dengan pangan dan nutrisi. Serta 18 miliar dolar AS lagi untuk proyek-proyek yang sudah ada dan telah disetujui tapi belum dicairkan.

"Kenaikan harga pangan berdampak sangat menghancurkan pada yang paling miskin dan rentan," kata Presiden Bank Dunia David Malpass dalam pernyataannya, Rabu (18/5).

"Untuk menstabilkan dan menginformasikan pasar, sangat penting negara-negara segera memberi penjelasan yang jelas mengenai kenaikan produksi di masa depan dalam merespon invasi Rusia di Ukraina," tambahnya.  


Sejarah Emas Basket

Torehan prestasi tersebut menjadi momentum menatap FIBA Asia Cup dan FIBA World Cup.

SELENGKAPNYA

Hotel untuk Jamaah Bagus dan Dekat Masjid Nabawi

Menag diketahui melakukan kunjungan kerja ke Saudi sejak Rabu (18/5) untuk memastikan kesiapan layanan bagi calhaj Indonesia.

SELENGKAPNYA
×