Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meninjau sejumlah sarana prasarana haji di Makkah, Arab Saudi, Jumat (20/5/2022) | Dok Kemenag

Kabar Utama

23 May 2022, 03:45 WIB

Hotel untuk Jamaah Bagus dan Dekat Masjid Nabawi

Menag diketahui melakukan kunjungan kerja ke Saudi sejak Rabu (18/5) untuk memastikan kesiapan layanan bagi calhaj Indonesia.

JAKARTA – Pemerintah memastikan layanan akomodasi, transportasi, hingga konsumsi untuk calon jamaah haji (calhaj) Indonesia di Makkah dan Madinah sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa hotel untuk jamaah menginap di Madinah bahkan terletak relatif dekat dengan Masjid Nabawi.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam kunjungannya ke Arab Saudi meninjau Hotel Jiwar al Tsaqifah di wilayah Markaziyah Gharbiyyah, Madinah, yang akan ditempati jamaah haji Indonesia 1443 H/2022 M. Jarak hotel dengan masjid Nabawi hanya 180 meter. Sementara Hotel Riyadh Azzahra di wilayah Markaziah Syimaliah berjarak 240 meter dari Masjid Nabawi.

“Saya puas dengan kondisi hotel yang dikunjungi. Sebagian besar jaraknya dekat dengan Masjid Nabawi. Kondisinya juga siap menerima jamaah. Saya coba  lift hotel juga masih terawat dan terlihat catatan servisnya rutin. Tempat makannya luas dan bersih,” kata Menag Yaqut dalam keterangannya, Ahad (21/5).

Layanan akomodasi jamaah haji Indonesia di Madinah menggunakan sistem full musim dan penyewaan blocking time. Hotel yang disewa terpusat pada tiga wilayah, yaitu Markaziyah Syimaliah, Markaziyah Gharbiah, dan Markaziyah Janubiah. Total ada 29 hotel yang tersebar di tiga wilayah tersebut dengan kapasitas 24.315 jamaah haji

photo
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meninjau sejumlah sarana prasarana haji di Makkah, Arab Saudi, Jumat (20/5/2022) - (Dok Kemenag)

Jamaah haji di Indonesia akan tinggal paling lama sembilan hari di Madinah. Mereka akan menjalani ibadah Arbain, yakni shalat berjamaah di Masjid Nabawi dalam 40 waktu. Setelah itu, jamaah gelombang pertama yang lebih dulu ke Madinah, akan diberangkatkan ke Makkah untuk menjalani proses haji dan setelah itu kembali ke Tanah Air.

Sedangkan jamaah yang berangkat pada gelombang kedua, lebih dulu ke Makkah. Setelah proses haji, mereka diberangkatkan ke Madinah untuk menjalani Arbain, lalu kembali ke Tanah Air.

Menag melakukan kunjungan kerja ke Saudi sejak Rabu (18/5) untuk memastikan kesiapan layanan bagi calhaj Indonesia. Sebelum mengunjungi fasilitas untuk calhaj di Madinah, Menag juga mengunjungi beberapa layanan untuk calhaj di Makkah.

Ada dua hotel di Madinah yang ditinjau Menag, yakni Hotel Al Khulafaa-3 yang berada di daerah Syisyah dengan kapasitas 800 jamaah, dan Hotel Tharawat Al-Rawda di daerah Raudhah 1 dengan kapasitas 499 jamaah. “Saya pastikan kapasitas hotel memadai dan fasilitasnya sesuai standar kontrak. Saya lihat hotelnya bagus,” ujar Menag Yaqut.

photo
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meninjau sejumlah sarana prasarana haji di Makkah, Arab Saudi, Jumat (20/5/2022) - (Dok Kemenag)

Gus Yaqut juga bertemu dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Tawfiq F Al-Rabiah di Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Jeddah, Arab Saudi. Dia memastikan, Pemerintah Indonesia akan mengikuti seluruh peraturan Pemerintah Arab Saudi, termasuk terkait protokol kesehatan.

Kepada Menteri Tawfiq, Gus Yaqut mengatakan, kehadirannya di Jeddah untuk memastikan kesiapan dan kualitas layanan yang diberikan kepada jamaah haji Indonesia.

Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Tawfiq, kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan layanan kepada seluruh jamaah haji, termasuk Indonesia. Dengan kuota mencapai 100.051 orang, Indonesia adalah negara yang

memberangkatkan jamaah haji paling banyak di dunia. “Indonesia mendapat tempat istimewa di warga dan Pemerintah Arab Saudi,” kata dia.

Melayani jamaah

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Prof Nizar Malik meminta agar Petugas Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) sensitif terhadap kebutuhan jamaah haji selama di Tanah Suci. Nizar menjelaskan, petugas harus proaktif melihat kondisi di lapangan. Menurut dia, permintaan layanan seharusnya jangan datang dari jamaah tetapi berasal dari inisiatif petugas.

“Petugas harus punya sensitivitas,” ujar Nizar saat menutup Bimbingan Teknis PPHI Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Ahad (22/5).

photo
Peserta pembekalan petugas penyelenggaraan ibadah haji sudah mulai di apel. Pejabat Lakespra TNI AU dan Kementerian Kesehatan haji telah hadir di lokasi. - (Ali Yusuf/Republika)

Menurut Nizar, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh petugas dalam melayani jamaah. Pertama, petugas harus tetap prima dalam memberi pelayanan untuk memuaskan jamaah haji.

Dia menjelaskan, tingginya tingkat kepuasan jamaah haji Indonesia pada 2019 yang mencapai skor 85 seharusnya menjadi cermin dari petugas tahun ini untuk meningkatkan pelayanan. Dia pun meminta indeks kepuasan jamaah bisa naik setidaknya hingga 86.

Nizar menjelaskan, jamaah haji Indonesia dikenal sebagai jamaah yang tertib dan ramah. Hal tersebut seharusnya bisa menjadi modal bagi petugas untuk memaksimalkan kualitas pelayanan. “Selama ini jamaah haji kita menempati jamaah yang sangat baik di mata dunia karena dikenal ramah, santun, dan tertib. Jadi modal petugas dalam melayani jamaah,” jelas dia.

Keuntungan lainnya, ujar Nizar, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi memberlakukan pembatasan usia maksimal hingga 65 tahun. Dia berharap, adanya aturan tersebut bisa menekan tingkat kematian jamaah haji yang selalu mencapai rata-rata 2 per 1.000 orang (per mil).

Nizar juga membeberkan beberapa kasus yang bisa menjadi evaluasi untuk perbaikan penyelenggaraan haji tahun ini. Pertama, ujar dia, jangan sampai kunci kamar diberikan kepada yang tidak berhak. Dia menegaskan, panitia harus memastikan agar kunci kamar diberikan kepada ketua kloter, ketua rombongan, dan ketua regu.

Saat kunci diberikan kepada yang tidak berhak, ujar dia, maka kamar yang ditempati jamaah berpotensi tak sesuai dengan kapasitas. “Kamar untuk empat orang jadi ditempati oleh dua orang. Itu tidak boleh terjadi,” ujar dia.

Kasus lainnya yakni tentang safari wukuf. Dia menjelaskan, petugas harus memastikan jamaah yang hendak safari wukuf untuk menjalankan safari wukuf sesuai dengan waktu yang ditentukan syariat. Koordinasi dan konsolidasi dari petugas bimbingan ibadah dan petugas kesehatan menjadi kunci agar terhindar permasalahan ini.

Direktur Bina Haji Arsyad Hidayat menjelaskan, bimtek yang berlangsung dari 16-22 Mei diikuti oleh 674 calon petugas haji. Komposisinya yakni 448 berasal dari penunjukan Kementerian Agama, sementara 226 sisanya dari Kementerian Kesehatan.

Menurut dia, para calon petugas ini sudah mengikuti materi, diskusi hingga gladi posko yang disesuaikan dengan kondisi di Tanah Suci. Arsyad menjelaskan, mereka bahkan sama-sama merasakan panas yang mirip dengan di Tanah Suci. “Karena itu kami mengusulkan kepada menteri agama agar mereka dapat dijadikan petugas,” kata Arsyad.


Kebut Persiapan Haji

Waktu persiapan haji terbilang singkat, persiapan haji dimatangkan.

SELENGKAPNYA

Petugas Kesehatan Jamaah Haji Siap Diterjunkan

Tidak boleh lengah, para petugas kesehatan haji perlu terus meningkatkan pelayanan kesehatan

SELENGKAPNYA

Tabrani, Komunitas Cina, dan Menteri Tahu-Tempe

Tabrani yang dari Madura dianggap lebih layak menjadi menteri karena ia telah banyak berbuat untuk warga Cina peranakan.

SELENGKAPNYA
×