Nasional
bjb KUR, Sukseskan Bisnis Abon Ikan Bude Jawin Sumedang
Mengolah Hasil Alam menjadi Produk Bernilai
Berawal dari hasil tangkapan ikan yang melimpah dari bendungan, kini menjadi produk olahan yang diminati konsumen di berbagai daerah. Itulah kisah inspiratif di balik lahirnya Abon Ikan Bude Jawin, usaha mikro asal Desa Cikadu, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang. Dan kini usaha itu terus berkembang dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar.
Owner Abon Ikan Bude Jawin, Ade Fitriyani (51 tahun), tidak pernah menyangka hobinya mengolah ikan akan berkembang menjadi bisnis yang mampu menjangkau pasar di berbagai kota di Jawa Barat. Bersama sang suami, Jajawinardja, Ade memulai usaha tersebut setelah melihat potensi besar dari hasil tangkapan ikan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
‘’Awalnya saya bingung, ikan sebanyak ini mau diapakan. Dikasih ke tetangga, dibagikan ke saudara, bahkan dikirim ke Jakarta. Lama-kelamaan saya berpikir bagaimana caranya ikan ini bisa memiliki nilai ekonomi,’’ ujar Ade.
Suaminya yang hobi menjala ikan di sejumlah bendungan besar seperti Jatigede dan Sadawarna, kerap mendapatkan ikan dalam jumlah besar. Dari situlah muncul ide untuk mengolah ikan menjadi abon yang lebih tahan lama dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Perjalanan usaha Abon Bude Jawin dimulai pada 2022, setelah pandemi Covid-19 mulai mereda. Saat itu, Ade mencoba mengolah seekor ikan gabus berukuran sekitar tujuh Kilogram (Kg) menjadi abon.
Hasilnya di luar dugaan. Produk pertama tersebut mendapat respons positif dari konsumen dan langsung habis terjual. Melihat peluang yang menjanjikan, Ade kemudian mengembangkan produk abon ikan nila yang hingga kini menjadi produk unggulan.
Nama ‘Bude Jawin’ sendiri memiliki cerita tersendiri. Kata Bude berasal dari panggilan akrab masyarakat kepada Ade Fitriyani. Sementara Jawin diambil dari nama sang suami, Jajawinardja, yang menjadi pemasok utama bahan baku ikan.
"Awalnya hanya Abon Ikan Bude. Tetapi saat mendaftarkan merek ke Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), harus ada nama tambahan. Akhirnya saya memilih nama suami dan jadilah Abon Ikan Bude Jawin,’’ katanya.
Kini merek Bude Jawin telah resmi terdaftar dalam HAKI, menjadi identitas yang memperkuat posisi produk di pasar. Salah satu keunggulan utama Abon Ikan Bude Jawin adalah penggunaan bahan baku ikan alami yang berasal dari Bendungan Jatigede dan Bendungan Sadawarna.
Ikan yang digunakan bukan hasil budidaya intensif, melainkan ikan liar yang hidup secara alami di perairan bendungan. Karena itu, kualitas daging ikan dinilai lebih segar dan memiliki cita rasa khas.
Ade mengaku tidak mengalami kesulitan memperoleh bahan baku. Selain berasal dari hasil tangkapan suami, ia juga didukung komunitas nelayan yang siap memasok ikan saat dibutuhkan.
‘’Alhamdulillah untuk bahan baku tidak pernah kesulitan. Kalau dari suami kurang, masih ada komunitas yang membantu menyediakan ikan dengan harga nelayan,’’ ujarnya.
Begitu ikan diperoleh, proses pengolahan langsung dilakukan untuk menjaga kesegaran. Ikan dibersihkan, dikukus, disuwir, digoreng, lalu dipres hingga kadar minyaknya sangat rendah.
Keunggulan lain yang menjadi daya tarik konsumen adalah komitmen menjaga kualitas produk. Abon Bude Jawin diproses tanpa menggunakan bahan pengawet maupun msg. Produk dibuat dari bahan-bahan alami sehingga kandungan gizi ikan tetap terjaga.
Menurut Ade, produk ini menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin mengonsumsi ikan tetapi kurang menyukai bentuk ikan utuh. ‘’Ini cocok untuk yang ingin makan ikan dalam bentuk yang lebih praktis. Gizinya tetap ada, tanpa pengawet dan tanpa MSG,’’ katanya.
Tekstur abon yang lembut dan bebas duri membuat produk ini aman dikonsumsi oleh berbagai kalangan, mulai dari balita hingga lansia. Untuk memenuhi selera konsumen yang beragam, Bude Jawin menghadirkan beberapa pilihan produk.
Abon ikan nila tersedia dalam varian original dan pedas dengan harga Rp 35 ribu per kemasan 100 gram. Selain itu, tersedia pula abon ayam original dan pedas yang dibandrol Rp 25 ribu per kemasan 100 gram.
Meski sama-sama menggunakan resep khas Bude Jawin, setiap produk memiliki karakter rasa yang berbeda. ‘’Banyak pelanggan bilang rasanya berbeda dari abon yang lain. Cenderung lebih gurih dan cocok dimakan dengan nasi hangat, sesuai selera masyarakat Sunda,’’ tutur Ade.
Permintaan abon ayam juga cukup tinggi karena harganya lebih terjangkau. Namun abon ikan tetap menjadi produk favorit karena memiliki cita rasa khas dan nilai gizi yang tinggi. Dalam menjalankan usaha, Ade mengelola produksi secara fleksibel sesuai permintaan pasar.
Untuk produksi skala kecil sekitar 10 hingga 20 Kg, proses dilakukan bersama suami di rumah. Namun saat pesanan meningkat, kapasitas produksi dapat mencapai tiga kuintal dalam sekali pengerjaan. Saat pesanan membludak, Ade melibatkan ibu-ibu di lingkungan sekitar untuk membantu proses produksi, mulai dari mengupas bawang, menggoreng, hingga pengemasan.
‘’Alhamdulillah bisa ikut membantu tetangga mendapatkan tambahan penghasilan. Walaupun tidak besar, setidaknya bisa membantu kebutuhan sehari-hari mereka,’’ tuturnya.
Keberadaan usaha ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga, tetapi juga menciptakan peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Meski belum memiliki toko sendiri, jaringan pemasaran Abon Bude Jawin terus berkembang. Produk dipasarkan melalui sistem titip jual di warung dan toko sekitar, reseller, serta sejumlah pusat oleh-oleh. Salah satunya melalui konsinyasi bersama Amanda Brownies.
Saat ini produk Bude Jawin telah menjangkau berbagai daerah seperti Bandung, Bogor, Depok, Garut, Kuningan, Cirebon, hingga sejumlah outlet oleh-oleh di Sumedang. Pemasaran digital juga menjadi andalan melalui Instagram, Facebook, dan TikTok dengan akun @abonbudejawin.atau bisa ke Nomer WhatsApp 0812-227-311.
Respons konsumen sejauh ini sangat positif. Bahkan tidak sedikit pelanggan yang memesan sebelum proses produksi selesai dilakukan. ‘’Kalau mereka tahu saya sedang produksi, sering kali langsung pesan. Kadang belum jadi pun sudah ada yang menunggu,’’ kata Ade.
Di tengah perkembangan usaha yang terus menunjukkan tren positif, Ade masih menyimpan mimpi besar. Ia berharap suatu hari nanti dapat memiliki toko sendiri yang representatif di Kecamatan Situraja. Tidak hanya itu, ia juga bercita-cita membawa produk abon ikan khas Sumedang menembus pasar internasional.
Dengan kualitas bahan baku alami, proses produksi yang higienis, serta cita rasa khas yang telah mendapat tempat di hati konsumen, Abon Ikan Bude Jawin menjadi contoh bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.
Perjalanan bisnis Abon Ikan Bude Jawin tidak terlepas dari peran bank bjb. Bisnisnya dibantu oleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank bjb, atau bjb KUR. Proses pengajuan bjb KUR relatif mudah. Kala itu, Ade mengajukan pinjaman KUR ke bank bjb Kantor Cabang Sumedang.
Skema pinjaman modal Bisnis Abon Ikan Bude Jawin selaras dengan produk yang dimiliki bank bjb. bjb KUR adalah fasilitas pinjaman yang diberikan kepada pelaku usaha, baik perorangan, badan usaha atau kelompok usaha dengan skala mikro kecil dan menengah.
Keunggulan bjb KUR adalah suku bunganya kompetitif dan bebas biaya provisi. bank bjb berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta bank bjb merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Informasi lebih lanjut mengenai bjb KUR dapat diperoleh dengan mengunjungi kantor cabang bank bjb terdekat, atau melalui call center bjb Call 14049 atau kunjungi website resmi bank bjb infobjb.id/KUR.
"Kami ucapkan terimakasih banyak kepada bank bjb yang selalu support, hingga bisnis kami tumbuh dan berkembang dan semakin dikenal secara nasional,’’ tandasnya.
advertorial
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
