Warga Iran berjalan melewati papan iklan besar anti-AS yang mengacu pada presiden AS Donald Trump dan Selat Hormuz di alun-alun Valiasr di Teheran, Iran, 2 Mei 2026. | EPA/ABEDIN TAHERKENAREH

Nasional

AS-Iran Kembali ke Meja Perundingan

Perundingan lanjutan akan dilakukan di Qatar.

WASHINGTON – Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan untuk melanjutkan perundingan teknis di Doha pekan ini. Kelanjutan ini setelah beberapa hari konfrontasi militer sempat mengancam kelangsungan Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni untuk mengakhiri konflik.

Menurut pejabat AS, kedua belah pihak telah sepakat untuk menangguhkan tindakan militer lebih lanjut selama perundingan berlangsung. 

"Pembicaraan teknis dijadwalkan berlanjut mencakup seluruh aspek MoU," ujar seorang pejabat AS, seraya menambahkan bahwa "kedua pihak akan menahan diri untuk saat ini dan kapal-kapal dapat bergerak dengan bebas."

Axios melaporkan bahwa perundingan diperkirakan akan kembali digelar pada hari Selasa di ibu kota Qatar, sementara CNN mengutip seorang pejabat pemerintahan Trump yang mengonfirmasi kembalinya Washington ke meja perundingan.

Salah satu tanda paling nyata meredanya ketegangan adalah kembalinya aktivitas pelayaran komersial secara bertahap melalui Selat Hormuz. Berdasarkan laporan pemantauan maritim, kapal-kapal telah kembali melintasi jalur perairan strategis tersebut setelah sempat terganggu selama beberapa hari akibat aksi saling serang militer antara AS dan Iran.

photo
Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026. - (EPA/Stringer)

Namun, volume lalu lintas pelayaran masih berada di bawah tingkat normal karena perusahaan-perusahaan pelayaran terus mengevaluasi risiko keamanan. Sejumlah kapal dilaporkan telah kembali menggunakan koridor navigasi yang ditetapkan dalam aturan baru, sementara kapal-kapal lainnya masih bersikap hati-hati.

Kendati demikian, otoritas keamanan maritim tetap mengategorikan tingkat ancaman di kawasan tersebut sebagai "signifikan," yang mencerminkan masih adanya ketidakpastian meskipun proses diplomatik telah dimulai kembali.

Richard Schmierer, mantan Duta Besar AS untuk Oman, mengatakan bahwa mediasi oleh Qatar dan Pakistan telah berhasil membawa Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan, dan bahwa aksi saling serang militer tampaknya telah berakhir untuk saat ini.

"Menurut saya, kita mungkin telah melihat mediasi yang baik dari Qatar dan Pakistan dalam upaya membuat kedua belah pihak menahan diri," ujarnya kepada Al Jazeera, seraya menambahkan bahwa "kedua belah pihak kini merasa telah menyampaikan pesan mereka".

Masing-masing pihak telah "menggunakan tindakan militer untuk mempertegas interpretasi mereka" terhadap nota kesepahaman (MoU) tersebut, dan kedua belah pihak tampaknya beranggapan bahwa mereka kini dapat "kembali ke jalur diplomasi".

photo
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menunjukkan naskah memorandum kesepakatan damai Amerika Serikat-Iran yang telah ditandatangani Presiden AS Donald Trump, Kamis (18/6/2026) - (IRNA)

Schmierer mengatakan ia berharap Qatar dan Pakistan akan berpartisipasi dalam pembicaraan hari Selasa untuk membantu meredakan ketegangan.

"Mungkin sekarang, untuk sementara waktu, kita telah melewati fase aksi militer yang saling berbalasan, dan pada hari Selasa kita akan menyaksikan—seperti yang saya harapkan—upaya diplomasi yang sukses serta klarifikasi mengenai situasi di Selat Hormuz," tambahnya.

Harga minyak naik menyusul serangkaian serangan balasan antara AS dan Iran yang kembali mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik 58 sen, atau 0,8 persen, menjadi 72,57 dolar AS per barel pada pukul 02.07 GMT, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level 70,11 dolar AS per barel, naik 88 sen atau 1,3 persen.

Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak mentah Brent turun 10,6 persen pekan lalu—penurunan mingguan ketiga berturut-turut—menyusul lonjakan pengiriman minyak mentah melalui selat tersebut ke tingkat tertinggi sejak agresi AS-Israel melawan Iran dimulai pada akhir Februari.

Sebelumnya, PBB pada 23 Juni mengumumkan dua jalur evakuasi bagi kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz, termasuk melalui perairan Oman. Namun, Iran menolak rencana tersebut dengan alasan pengumuman dilakukan tanpa konsultasi dengan Teheran.

Pada 25 Juni, kapal Ever Lovely yang dioperasikan perusahaan Taiwan dilaporkan terkena serangan di lepas pantai Oman. Sehari kemudian, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran dengan tuduhan bahwa Teheran telah melanggar nota kesepahaman (MoU) terkait serangan terhadap kapal tersebut.

Eskalasi berlanjut pada 27 Juni ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah merespons tindakan AS dengan menyerang pasukan Amerika di kawasan. Bahrain melaporkan adanya sejumlah serangan drone, sementara sebuah kapal tanker kembali dilaporkan menjadi sasaran serangan di Selat Hormuz pada hari yang sama. Di tengah meningkatnya ketegangan, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan gelombang kedua serangan udara ke wilayah Iran.

Pada 28 Juni, Iran melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Teheran juga menegaskan bahwa hanya Iran yang memiliki tanggung jawab untuk mengelola lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Teluk, dengan Selat Hormuz kembali menjadi titik strategis yang memicu kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran internasional.

 

Pengelolaan Hormuz

Seiring dimulainya kembali perundingan, Teheran telah mulai menerapkan salah satu mekanisme kelembagaan utama dalam nota kesepahaman tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengumumkan bahwa Iran dan Oman telah mengadakan pertemuan pertama Komite Bersama Hormuz dalam kunjungannya ke Muscat.

Menurut Gharibabadi, kedua belah pihak membahas pengelolaan Selat Hormuz di masa depan sesuai dengan nota kesepahaman tersebut, sembari tetap menjamin hak-hak seluruh negara yang berbatasan langsung dengan selat itu.

Komite ini diharapkan dapat mengoordinasikan prosedur navigasi, keamanan maritim, dan pelaksanaan pengaturan baru yang mengatur salah satu jalur perairan paling strategis di dunia.

Para pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa tanggung jawab untuk mengelola navigasi di Selat Hormuz berada di tangan Republik Islam Iran berdasarkan Nota Kesepahaman Islamabad.

Teheran berpendapat bahwa kesepakatan tersebut mengakui peran utama Iran dalam mengatur lalu lintas maritim di selat itu, sekaligus menetapkan mekanisme koordinasi dengan negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

Iran juga tetap berpendirian bahwa pengaturan keamanan maritim di masa depan harus dilaksanakan melalui kerja sama regional, bukan melalui intervensi militer pihak luar.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat