Kegiatan wisuda angkatan VII Ma'had Aly DDI Mangkoso di Barru, Ahad (28/6/2026). | Istimewa

Khazanah

Ma'had Aly DDI Mangkoso Buktikan Pesantren Mampu Cetak Ulama Bertaraf Internasional

Lembaga pendidikan tinggi pesantren perlu terus memperkuat kualitas pembelajaran.

BARRU -- Pendidikan tinggi berbasis pesantren dinilai semakin menunjukkan daya saing di tingkat global. Ma'had Aly DDI Mangkoso di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, disebut menjadi salah satu contoh bagaimana pesantren mampu melahirkan ulama yang menguasai khazanah keilmuan Islam klasik sekaligus memiliki kapasitas akademik yang diakui di tingkat internasional.

Penilaian tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Ma'had Aly Indonesia (AMALI), KH Nur Salikin, saat menghadiri Wisuda Angkatan VII Ma'had Aly DDI Mangkoso di Barru, Ahad (28/6/2026). Menurut dia, capaian yang diraih lembaga tersebut menunjukkan bahwa sistem kaderisasi ulama di lingkungan pesantren mampu beradaptasi dengan perkembangan pendidikan tinggi dunia tanpa meninggalkan tradisi keilmuan Islam.

"Ma'had Aly DDI Mangkoso telah menunjukkan kepada kita bahwa pesantren Indonesia mampu mencetak kader ulama bertaraf internasional. Kader yang kokoh menguasai khazanah turats, tetapi juga mampu berdialog dengan dunia akademik internasional tanpa kehilangan identitas pesantrennya," kata Nur Salikin dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (29/6/2026).

Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan dihadiri sejumlah tokoh nasional maupun daerah, di antaranya Andi Ina Kartika Sari, Syaharuddin Alrif, Basnang Said, para masyayikh, pimpinan pesantren, dosen, alumni, serta orang tua mahasantri.

Menurut Nur Salikin, kebutuhan terhadap ulama yang memiliki kapasitas akademik sekaligus mampu menjawab persoalan kontemporer semakin besar. Karena itu, lembaga pendidikan tinggi pesantren perlu terus memperkuat kualitas pembelajaran, penguasaan bahasa asing, dan jejaring akademik internasional.

Ia mengatakan pesantren tidak lagi cukup hanya melahirkan lulusan yang mampu membaca kitab-kitab klasik, tetapi juga harus mampu mencetak ulama yang dapat memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat modern.

"Pesantren hari ini tidak lagi cukup hanya melahirkan ulama yang mampu membaca kitab. Pesantren harus melahirkan ulama yang mampu menjawab persoalan umat, berdialog dengan perkembangan zaman, dan tetap berpijak pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. DDI Mangkoso telah menunjukkan arah itu," ujarnya.

Ma'had Aly merupakan jenjang pendidikan tinggi khas pesantren yang dikembangkan pemerintah untuk mencetak ulama melalui pendalaman disiplin ilmu keislaman tertentu atau takhassus. Berbeda dengan perguruan tinggi umum, sistem pembelajarannya menitikberatkan pada penguasaan kitab turats, sanad keilmuan, serta tradisi akademik pesantren yang dipadukan dengan pendekatan ilmiah modern.

Ma'had Aly DDI Mangkoso yang berdiri sejak 2013 memilih fokus pada bidang Fikih dan Ushul Fikih dengan konsentrasi Fiqh al-Nawazil, yakni kajian fikih terhadap berbagai persoalan kontemporer yang terus berkembang di masyarakat.

Lembaga tersebut juga mengembangkan sejumlah program yang relatif jarang dimiliki pesantren lain. Seluruh mahasantri memperoleh beasiswa penuh, mengikuti program double degree bersama Al-Azhar University, serta menjalani proses pembelajaran menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar sehari-hari.

Keunggulan lainnya, Ma'had Aly DDI Mangkoso menjadi satu-satunya Ma'had Aly di Indonesia yang memperoleh status mu'adalah atau penyetaraan jenjang M1 dengan program Sarjana (S1) Kulliyah al-'Ulum al-Islamiyyah Al-Azhar University Kairo.

Pada semester akhir, seluruh mahasantri diwajibkan menyusun risalah ilmiah berbahasa Arab di bawah bimbingan para masyayikh Al-Azhar di Kairo. Karya ilmiah tersebut kemudian dipertahankan melalui munaqasyah menggunakan bahasa Arab dengan melibatkan penguji dari Indonesia maupun luar negeri secara virtual.

Atas berbagai capaian tersebut, pada 2026 Ma'had Aly DDI Mangkoso memperoleh predikat Akreditasi Mumtaz (Unggul) dari Majelis Masyayikh.

Nur Salikin mengatakan pengakuan tersebut menunjukkan bahwa pesantren mampu membangun standar akademik yang diakui secara internasional tanpa harus meninggalkan identitas dan tradisi keilmuan yang selama ini menjadi ciri khas pesantren Indonesia.

"Kita tidak sedang memilih antara tradisi atau modernitas. Pesantren harus mampu memadukan keduanya. Turats tetap menjadi fondasi, sementara jejaring internasional menjadi jembatan untuk memperluas kontribusi ulama Indonesia di tingkat dunia," katanya.

Ia juga mengingatkan para wisudawan agar tidak memandang kelulusan sebagai akhir dari proses belajar. Menurut dia, gelar akademik yang diterima justru menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengabdi kepada masyarakat.

"Wisuda bukan garis akhir. Hari ini kalian menerima ijazah, tetapi sesungguhnya yang lebih besar adalah menerima amanah. Masyarakat tidak hanya menunggu kecerdasan kalian, tetapi juga keteladanan, keikhlasan, dan keberanian untuk melayani umat," ujarnya.

Nur Salikin berharap para lulusan Ma'had Aly DDI Mangkoso dapat menjadi duta keilmuan Islam Indonesia, baik di berbagai daerah maupun di tingkat internasional. Menurutnya, dunia saat ini membutuhkan lebih banyak ulama yang mampu menjembatani tradisi keilmuan Islam dengan tantangan zaman.

"Jangan pernah berhenti belajar. Teruslah menjaga sanad keilmuan, memperkuat akhlak, dan menghadirkan Islam yang membawa rahmat. Dunia hari ini membutuhkan ulama yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menghadirkan solusi dan menebarkan ketenangan di tengah masyarakat," katanya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat