Cover Islam Digest edisi Ahad 22 Mei 2022. Sejarah Awal Kekhalifahan Kordoba. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

22 May 2022, 17:42 WIB

Sejarah Awal Kekhalifahan Kordoba

Munculnya Daulah Abbasiyah bukanlah akhir bagi Bani Umayyah. Di Eropa, mereka menjadi khalifah baru.

OLEH HASANUL RIZQA

Munculnya Daulah Abbasiyah bukanlah akhir bagi Bani Umayyah. Di Eropa, mereka menjadi khalifah baru. Persaingan antara Kordoba dan Baghdad pun dimulai.

Era Umayyah di Kordoba 

Kemenangan Abdurrahman ad-Dakhil dalam Pertempuran al-Musharah pada 138 H/756 M mengawali babak baru sejarah Andalusia. Semenanjung Iberia sejak saat itu menjadi tempat tumbuhnya kembali Daulah Umayyah yang berpusat di Kordoba. Satu tahun sebelumnya, kekhalifahan yang dirintis Mu’awiyah bin Abi Sufyan (597-680) itu kehilangan seluruh wilayah di timur dunia Islam akibat pecahnya Revolusi Abbasiyah.

Prof Raghib as-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia (2013) mengatakan, Abdurrahman ad-Dakhil berkuasa selama 34 tahun. Dalam masa pemerintahannya, cucu khalifah ke-10 Bani Umayyah itu berupaya meneguhkan stabilitas politik di seluruh Andalusia.

Terhadap kaum pemberontak, ia tidak langsung memerangi. Terlebih dahulu mereka ditawari perundingan sehingga gejolak ketidakpuasan di antara sesama Muslim dapat mereda. Kalau pun masih ada yang memberontak, usaha-usaha kudeta dibasminya sama sekali.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Sebelum wafat pada Jumadil Ula 172 H/Oktober 788 M, Abdurrahman sudah menetapkan putranya, Hisyam, sebagai pengganti. Sepeninggalan ad-Dakhil, sebagian besar Andalusia telah bersatu di bawah bendera Umayyah.

Karena itu, sang pangeran dapat relatif mudah mempersatukan kelompok-kelompok Muslim setempat. Pada 793, Hisyam memimpin mereka untuk berjihad melawan Kerajaan Frank, yang hendak merebut Septimania, Prancis selatan, dari tangan Islam.

Seperti bapaknya, Hisyam merupakan pemimpin yang cakap dan bijaksana. Dalam masa damai, ia membangun berbagai sarana publik, semisal masjid, sekolah, perpustakaan, dan jalan raya di berbagai daerah Andalusia. Masjid Raya Kordoba yang dibangun ad-Dakhil pada 785 juga turut diperluasnya.

Dalam setiap ekspedisi militer, ia merupakan ahli strategi yang brilian, bersama dengan jenderalnya yang setia, yakni Abdul Malik dan Abdul Karim bin Abdul Wahid. Karena itu, pelbagai ancaman dari luar negeri dapat diatasinya dengan efektif-efisien.

Menurut as-Sirjani, kepemimpinan amir Kordoba itu mengingatkan orang-orang pada sosok Umar bin Abdul Aziz. Khalifah kedelapan Dinasti Umayyah tersebut selalu mengedepankan keadilan dalam memimpin negeri.

Walaupun tidak ada yang menghalanginya untuk berfoya-foya, sang “khulafaur rasyidin kelima” memilih hidup sederhana. Hisyam dan Abdurrahman ad-Dakhil juga tidak silau akan kenikmatan duniawi. Keduanya sibuk membangun peradaban Islam di Andalusia tanpa mendahulukan kepentingan diri dan golongan di atas rakyat.

photo
Patung Abdurrahman ad-Dakhil di Granada, Spanyol. - (DOK PINIMG)

Salah satu jasa Hisyam adalah penggunaan bahasa Arab secara masif di Iberia. Pemimpin dari trah Umayyah itu mengerahkan upaya yang besar untuk itu. Hingga kemudian, bahasa Arab diajarkan bukan hanya di semua madrasah yang didirikan negara, tetapi juga sekolah-sekolah swasta milik komunitas Yahudi dan Kristen setempat.

Ia juga berperan dalam menyebarkan Mazhab Maliki di negerinya. “Hisyam bin Abdurrahman ad-Dakhil adalah seorang alim yang mencintai ilmu. Ia mendekatkan dirinya dengan para fukaha,” tulis as-Sirjani.

Amir kedua dalam sejarah Umayyah di Andalusia itu wafat pada Safar 180 H/April 796 M. Putranya, al-Hakam, kemudian diangkat menjadi penerusnya. Pada masa ini, sempat terjadi perlawanan di mana-mana.

Sebagian rakyat tidak merasa senang dengan kepemimpinannya. Tidak seperti para pendahulunya, al-Hakam berperangai egois. As-Sirjani mengatakan, pengganti Hisyam bin ad-Dakhil itu tidak populer dalam pandangan masyarakat. Sang amir biasa meminum khamar dan senang berpesta pora. Kegemarannya adalah berburu di hutan, bukannya menuntut ilmu kepada alim ulama.

 
Hisyam bin Abdurrahman ad-Dakhil adalah seorang alim yang mencintai ilmu. Ia mendekatkan dirinya dengan para fukaha.
 
 

Kemarahan rakyat semakin menjadi sejak dirinya menetapkan kenaikan berbagai jenis pajak. Massa yang marah dihadapinya dengan cara meninggikan tembok pembatas istana dan memperbanyak jumlah prajurit jaga. Emosi masyarakat tidak lagi terbendung sejak beredar kabar, al-Hakam telah membunuh sejumlah tokoh Muslim Kordoba.

Mereka kemudian menyerbu istana. Perlawanan tersebut dapat dengan mudah dipadamkan al-Hakam. Tidak puas hanya dengan itu, sang amir membakar rumah-rumah warga luar Kordoba yang dituduh mendukung pemberontak.

Para pemuka oposisi terpaksa kabur ke luar Andalusia. Beberapa dari mereka mengarungi Laut Mediterania sampai Pulau Kreta. Di sana, Abu Hafs Umar—pemimpinnya—mendirikan kerajaan kecil yang bertahan hingga 100 tahun.

Turbulens politik dalam negeri mewarnai masa pemerintahan al-Hakam. Tidak mengherankan bila ia kewalahan dalam mengatasi musuh dari luar. Beberapa bagian Andalusia bahkan jatuh ke tangan pihak Kristen.

Salah satunya adalah Barcelona, yang direbut seorang putra Karel yang Agung (Charlemagne) pada 801. Di kemudian hari, wilayah di timur-laut Spanyol itu dikenal dengan nama Kerajaan Aragon.

photo
ILUSTRASI Corak seni bangunan Islam era Umayyah di Andalusia. Bani Umayyah sejak abad kedelapan mengalami pasang surut kekuasaan di Spanyol. - (DOK WIKIPEDIA)

Fase terbaik

As-Sirjani menuturkan, al-Hakam akhirnya bertobat beberapa tahun menjelang wafat. Ia menyadari segala kesalahannya. Bahkan, dirinya tidak segan-segan meminta maaf secara terbuka kepada rakyat.

Al-Hakam meninggal dunia pada 822. Sebelum ajal datang, amir Kordoba itu masih sempat menunjuk penggantinya. Pangeran yang dipilihnya bukanlah si anak sulung, melainkan putra yang dinilai paling saleh di antara keturunannya. Dialah Abdurrahman al-Awsath. Namanya juga disebut sebagai Abdurrahman II.

Menurut as-Sirjani, era pemerintahan Abdurrahman II al-Awsath merupakan puncak peradaban Islam di Andalusia. Inilah fase terbaik dari masa kejayaan Muslimin di Benua Eropa abad pertengahan. Gangguan dari pihak Kristen di dekat perbatasan mereda atau bahkan redup sama sekali. Hal itu disebabkan tangguhnya operasi jihad yang digencarkan sang pemimpin Muslim.

 
Era pemerintahan Abdurrahman II al-Awsath merupakan puncak peradaban Islam di Andalusia. Inilah fase terbaik dari masa kejayaan Muslimin di Benua Eropa abad pertengahan.
 
 

As-Sirjani mengatakan, Abdurrahman II merupakan sosok yang memedulikan kesejahteraan rakyat. Kepala negara Andalusia itu mengalokasikan dana tidak kurang dari 1 juta dinar per tahun untuk anggaran publik, termasuk sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Ia juga tegas terhadap peredaran minuman keras—sesuatu yang menjerumuskan penguasa sebelumnya. Tidak ada satu pun tempat penjualan dan distribusi khamar yang boleh berdiri di negerinya.

Ilmu pengetahuan dan sains merupakan tulang punggung peradaban. Karena itu, Abdurrahman II berupaya mewujudkan ekosistem yang mendukung aktivitas keilmuan. Ia memperbanyak jumlah sekolah dan perpustakaan umum. Begitu pula dengan pusat-pusat penelitian. Alhasil, Andalusia menjadi tempat munculnya berbagai saintis terkemuka pada abad pertengahan.

Di antara sarjana yang masyhur pada era Abdurrahman II al-Awsath adalah Abbas bin Firnas (274 H/887 M). Orang Eropa memanggilnya dalam pelafalan Latin, Armen Firman. Berasal dari suku Berber Muslim, ia merupakan ilmuwan yang serba bisa (polymath). Bukan hanya ahli dalam bidang fisika, dia juga mendalami disiplin kimia, astronomi, dan sastra.

Inovasinya membuahkan gagasan tentang pembuatan kaca dari bebatuan serta jam untuk mengetahui waktu. Dalam ranah puitik, salah satu sajak karyanya dibacakan saat pemakaman putra sang amir Andalusia. Kontribusinya yang paling dikenang hingga era modern berkaitan dengan aviasi.

Philip K Hitti dalam History of  the Arabs berkata, “Kisah Ibnu Firnas telah menginspirasi banyak orang untuk dapat terbang. Ia adalah orang pertama dalam sejarah yang melakukan upaya ilmiah untuk terbang.”

 
Kisah Ibnu Firnas telah menginspirasi banyak orang untuk dapat terbang. Ia adalah orang pertama dalam sejarah yang melakukan upaya ilmiah untuk terbang.
 
 

Al-Awsath mengukuhkan fondasi kekuasaan Bani Umayyah di Iberia, kawasan paling barat dari dunia Islam abad pertengahan.

Sementara itu, di belahan timur dunia Islam Kekhalifahan Bani Abbasiyah semakin stabil. Terlebih lagi, khalifah Abbasiyah sejak tahun 762 mendirikan ibu kota baru di tepian Sungai Tigris, Irak, yakni Baghdad.

Saat itu, hubungan antara Kordoba dan Baghdad masih diwarnai persaingan atau bahkan ketegangan. Abbasiyah memiliki Bait al-Hikmah. Umayyah tidak mau kalah.

Amirnya berupaya menarik kaum intelektual untuk datang ke Andalusia. Mereka diberi berbagai fasilitas dan insentif yang tinggi sehingga terdorong untuk memajukan perkembangan ilmu pengetahuan di Iberia.

Andalusia bahkan bertindak lebih jauh, yakni menjalin hubungan diplomatik dengan Romawi Timur (Bizantium). Hal itu bermula dari kekhawatiran kerajaan Kristen Ortodoks itu terhadap ekspansi Abbasiyah. Sejak 838, Khalifah al-Mu’tashim telah berhasil merebut kota-kota penting di Anatolia, termasuk Ankara dan Amorium.

photo
ILUSTRASI Detail pada bagian Masjid Kordoba, Spanyol. Kota Kordoba menjadi pusat pemerintahan Bani Umayyah di Andalusia sejak kemenangan dalam Perang al Musharah. - (DOK WIKIPEDIA)

Kaisar Theophilos mengutus dutanya yang bernama Karteros ke Kordoba, bersama dengan hadiah dan persembahan yang banyak. Tujuannya untuk memohon pembentukan persekutuan antara negerinya dan Bani Umayyah dalam membendung kekuatan Abbasiyah.

Pada 840, Abdurrahman II tidak hanya menerima utusan tersebut. Amir ini juga memerintahkan seorang penyair Arab kelahiran Jaen, Abu Zakariya al-Ghazal, untuk mendampingi Karteros pulang ke negerinya. Keputusan itu dimaknai sebagai restu al-Awsath untuk terbentuknya aliansi dengan Bizantium.

Sekitar tiga tahun kemudian, bangsa Viking mendarat di Cadiz. Dari sana, bangsa Eropa utara itu bergerak ke utara hingga menguasai sebagian besar Seville. Penduduk setempat bertahan di dalam benteng hingga pasukan-bantuan datang dari Kordoba.

Perang terjadi 100 hari lamanya antara kedua belah pihak. Setelah sukses mengusir Viking, Abdurrahman II memperkuat pertahanan di pantai selatan Iberia. Ia juga mengirimkan al-Ghazal sebagai duta ke Irlandia, salah satu basis kekuasaan Viking masa itu.

Pada 852, amir Andalusia itu wafat. Jenazahnya dikebumikan di kompleks kuburan Bani Umayyah, Kordoba. Salah seorang putranya, Muhammad, kemudian naik takhta. Namun, karakter sang pangeran berbeda dengan almarhum ayahnya. As-Sirjani mengatakan, dengan wafatnya al-Awsath dimulailah masa degradasi dalam sejarah Daulah Umayyah di Andalusia.

Bagaikan siklus, negeri Muslim di Iberia itu pernah melalui masa keemasan. Begitu jayanya, sampai-sampai, menurut as-Sirjani, tidak ada satu pun wilayah Andalusia yang miskin ketika itu. Maka usai era al-Awsath, kekayaan menjadi salah satu faktor yang “mengantarkan” negeri tersebut pada kelengahan, dan pada akhirnya kelemahan.


Masjid Kapsarc, Wajah Futuristik Saudi

Masjid Kapsarc dipuji sebagai bangunan ramah lingkungan dan hemat energi.

SELENGKAPNYA

Balas Keburukan dengan Kesabaran

Dengan kesabaran, jiwa dan pikiran menjadi lebih tenang sehingga siap menemukan solusi.

SELENGKAPNYA

Tabrani, Komunitas Cina, dan Menteri Tahu-Tempe

Tabrani yang dari Madura dianggap lebih layak menjadi menteri karena ia telah banyak berbuat untuk warga Cina peranakan.

SELENGKAPNYA
×