IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

23 May 2022, 03:45 WIB

Malapetaka Itu Berusia 74 Tahun

Nakba Palestina sudah berlangsung 74 tahun dan Israel menjadi negara kuat laksana Jalut Sang Raksasa.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI 

Setiap Mei selalu diingat bangsa Palestina sebagai hari-hari nakba (an Nakbah al Falestiniyah). Nakba atau Nakbah yang berarti malapetaka adalah istilah yang disematkan bangsa Palestina terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa mereka.

Yakni saat bangsa Yahudi mengusir orang Palestina dari rumah, desa, dan tanah air. Itu 74 tahun lalu, di masa kolonial. Tepatnya pada 1948, tahun saat mereka terusir tanah airnya untuk didirikan negara Yahudi bernama Israel.

Peristiwa Nakba mencakup pendudukan sebagian besar tanah Palestina, pengusiran lebih dari 750 ribu warga asli dan memaksa mereka menjadi pengungsi, pembantaian serta penjarahan terhadap penduduk Palestina.

Lalu, penghancuran lebih dari 500 desa dan kota utama Palestina untuk diubah menjadi kota-kota Yahudi. Zionis Israel mengubah semua identitas terkait Palestina dan nama geografis Arab dengan nama Ibrani atau identitas Yahudi.

 
Peristiwa Nakba mencakup pendudukan sebagian besar tanah Palestina, pengusiran lebih dari 750 ribu warga asli, dan memaksa mereka menjadi pengungsi, pembantaian serta penjarahan terhadap penduduk Palestina.
 
 

Desa dan kota khas Arab, mereka ganti dengan lanskap Eropa, tempat sebagian besar penduduk Israel berasal. Pembersihan etnis Palestina dimulai pada 1947 ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusulkan resolusi untuk membagi wilayah Palestina.

Ingat, PBB saat itu dikendalikan negara kolonial seperti Prancis, Inggris, dan lainnya. Mafia dan geng Zionis Israel memulai pembersihan etnis Palestina untuk memaksakan ‘fakta di lapangan yang harus diterima’ guna membatalkan resolusi pembagian wilayah Palestina bila PBB benar-benar ingin menerapkannya.

Meski politisi Arab dan Palestina memilih 15 Mei 1948 sebagai awal Nakba, tetapi tragedi kemanusiaan dimulai sebelumnya, yaitu saat gerombolan Zionis Yahudi menyerang desa dan kota Palestina. Mereka sengaja menyebarkan ketakutan dan kepanikan di tengah masyarakat Palestina, sehingga memudahkan mengusir mereka bila waktunya tiba.

Nakba berlangsung hingga kini. Berbagai kekejaman dilakukan Zionis Israel terutama oleh tentara dan kelompok ekstremis Yahudi — kelompok sayap kanan Israel pimpinan Partai Likud dengan ketuanya mantan perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Tujuannya, menghalangi bangsa Palestina mempunyai tanah air dan mendirikan negara merdeka. Kekejaman terbaru, tentara Israel menembak mati wartawati Aljazirah Shireen Abu Akleh saat meliput serangan tentara Israel ke Kota Jenin, Tepi Barat.

 
Nakba berlangsung hingga kini. Berbagai kekejaman dilakukan Zionis Israel terutama oleh tentara dan kelompok ekstremis Yahudi.
 
 

Penembakan terjadi pada Mei, tepatnya 11 Mei 2022, bertepatan dengan hari-hari Nakba Palestina. Tentara Israel bahkan menyerang iring-iringan pembawa jenazah Shireen ke pemakaman. Rombongan yang mengangkat jenazah sempat kocar-kacir dan peti nyaris jatuh.

Saat itu ribuan pelayat membawa peti jenazah Shireen melalui Kota Tua Yerusalem. Polisi Israel berusaha menghentikan mereka dengan menyerang kerumunan. Beberapa memukuli pengusung jenazah dengan tongkat dan menendang mereka.  

Lalu apa alasan Israel untuk membenarkan serangan keji terhadap jenazah Shireen Abu Akleh? Bukankah prosesi pemakaman jenazah sakral bagi setiap agama? Apa pula pendapat rabi Yahudi?

Seperti dikutip media Inggris Daily Mail, seorang polisi Israel memberi jawaban tak masuk akal. Katanya, aparat keamanan justru ingin menyelamatkan peti jenazah yang dicuri gerombolan massa dari keluarga.

Ia menambahkan, massa mengancam sopir yang akan membawa jenazah Shireen sebelum mereka mengambil peti jenazah itu. Mereka dituding mencegah anggota keluarga membawa peti jenazah sebagaimana dikoordinasikan keluarga dan kepolisian Israel.

 
Lalu apa alasan Israel untuk membenarkan serangan keji terhadap jenazah Shireen Abu Akleh? Bukankah prosesi pemakaman jenazah sakral bagi setiap agama? Apa pula pendapat rabi Yahudi?
 
 

Jawaban aneh karena belum pernah ada proses pemakaman warga Palestina dikoordinasikan dengan aparat keamanan Israel. Bahkan seorang rabi Yahudi, sebagaimana dituturkan Hamad al Majid, anggota Dewan Direktur King Abdullah International Center untuk Dialog Agama dan Peradaban di Wina, Autstria, tak percaya klaim si polisi Israel tadi.

Kata rabi Yahudi yang tak mau disebutkan namanya itu, penyerangan terhadap pembawa peti jenazah, apa pun alasannya tak bisa dibenarkan.

Inti dari semua itu, Zionis Israel yang mendatangkan malapetaka kepada bangsa Palestina sejak 74 tahun lalu semakin tak peduli dengan siapa pun.

Sebaliknya, bangsa Palestina yang lemah dan terpecah, terutama antara Hamas dan Fatah, memberi peluang kepada Zionis Israel melakukan apa yang mereka inginkan. Termasuk melancarkan teror kepada yang hidup dan mati.

 
Bayangkan, jurnalis yang harusnya dilindungi UU pun menjadi sasaran tembak tentara Israel. Bahkan jenazah dan prosesi pemakamannya yang mestinya dihormati oleh siapa pun, juga diserang.
 
 

Apalagi negara-negara Arab telah lama tak berdaya menghadapi kesewenang-wenangan Zionis Israel. Namun, terlepas dari semua itu, kondisi ini mengindikasikan Zionis Israel masih terus diliputi ketakutan atas keamanan nasionalnya.

Bayangkan, jurnalis yang harusnya dilindungi UU pun menjadi sasaran tembak tentara Israel. Bahkan jenazah dan prosesi pemakamannya yang mestinya dihormati oleh siapa pun, juga diserang.

Kondisi itu jelas menunjukkan, entitas Israel dengan senjata militernya yang mematikan dan nuklirnya yang ampuh tampak masih belum cukup. Mereka masih dihantui ketakutan atas keamanan dalam negerinya.

Nakba Palestina sudah berlangsung 74 tahun dan Israel telah menjadi negara kuat laksana Jalut Sang Raksasa. Namun, mereka masih terus dililingkupi waswas, sewaktu-waktu bangsa Palestina menjelma bagaikan Dawud yang mengalahkan Sang Jalut. 


Lahirnya Kekhalifahan Baru di Kordoba

Abdurrahman III memaklumkan dirinya sebagai khalifah Umayyah di Kordoba.

SELENGKAPNYA

Sejarah Awal Kekhalifahan Kordoba

Munculnya Daulah Abbasiyah bukanlah akhir bagi Bani Umayyah. Di Eropa, mereka menjadi khalifah baru.

SELENGKAPNYA

Tabrani, Komunitas Cina, dan Menteri Tahu-Tempe

Tabrani yang dari Madura dianggap lebih layak menjadi menteri karena ia telah banyak berbuat untuk warga Cina peranakan.

SELENGKAPNYA
×