Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Senin (25/4/2022). Bank Indonesia (BI) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik tahun 2022 menjadi 4,5 sampai 5,3 persen. | ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Tajuk

12 May 2022, 03:45 WIB

Menjaga Ekspektasi Ekonomi

Indikator negatif yang terus terjadi harus ditahan agar tidak makin dalam penurunannya.

Sejumlah indikator menunjukkan perekonomian nasional kian pulih. Badan Pusat Statistik mencatat, ekonomi Indonesia pada kuartal I 2022 tumbuh 5,01 persen secara tahunan (yoy). Capaian ini bahkan sudah menyamai kondisi sebelum pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir telah merusak sendi-sendi kesehatan masyarakat dan perekonomian global, termasuk Indonesia. Tak sedikit negara-negara maju yang perekonomiannya tumbuh negatif.

Namun, selepas melandainya kasus Covid-19 pada awal tahun ini, kondisi perekonomian berangsur membaik.

Data BPS menyebutkan, menurut lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi penggerak utama perekonomian nasional, sebesar 65,74 persen dengan pertumbuhan 5,71 persen secara yoy. Posisi kedua, industri perdagangan dan pertanian yang masing-masing tumbuh 5,71 persen dan 1,16 persen secara yoy.

 

 
Namun, selepas melandainya kasus Covid-19 pada awal tahun ini, kondisi perekonomian berangsur membaik.
 
 

 

Hanya dua sektor yang mengalami kontraksi pada kuartal I 2022: pengaturan harga barang oleh pemerintah dan jasa pendidikan, masing masing 1,45 persen dan 1,7 persen. Data BPS ini sejatinya menunjukkan hampir semua sektor tumbuh.

Mesin-mesin penggerak pertumbuhan ekonomi sudah mulai berfungsi. Data BPS juga memperlihatkan, hampir semua komponen pengeluaran mulai tumbuh positif. Kondisi yang hampir serupa dengan kuartal I 2019. Bahkan, untuk kuartal I 2022 ada perbaikan dari sisi ekspor.

Capaian ini juga memperlihatkan, mesin pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2022 tak hanya didorong dari belanja pemerintah. Kegiatan ekspor dan impor yang mulai bergeliat serta investasi, menandakan perekonomian dipicu aktivitas masyarakat.

Dibandingkan negara lain, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I relatif lebih baik. Ekonomi Cina tumbuh 4,8 persen, AS  4,29 persen, Jerman empat persen, Singapura 3,4 persen, Korea Selatan 3,07 persen .Tentu capaian ini perlu dijaga.

 

 
Dibandingkan negara lain, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I relatif lebih baik. 
 
 

 

Momentum pembaikan perekonomian ini jangan menjadi pembalikan. Bergeliatnya perekonomian yang tak hanya disokong dari belanja pemerintah harus terus dikuatkan. Perekonomian berbasis penguatan usaha rakyat kecil dan menengah mesti diamplifikasi.

Tren pertumbuhan ekonomi yang positif sejak akhir 2021 dan berlanjut pada awal tahun ini harus dijaga.

Kendati sejumlah indikator perekonomian kian pulih, catatan dalam Laporan Survei Konsumen Bank Indonesia tentang Indeks Ekspektasi kondisi Ekonomi (IEK) 2022 harus jadi perhatian. IEK April 127,2 lebih rendah dari IEK Maret yang 128,1.

Menurut laporan tersebut, ekspektasi konsumen terhadap perkiraan kondisi ekonomi enam bulan ke depan lebih rendah dari sebulan sebelumnya, meski masih pada level optimistis.  Yang menjadi perhatian, ekspektasi itu terkait kondisi usaha, penghasilan, dan ketersediaan lapangan kerja.

Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja pada April 2022 di level 125,2 atau turun dari 126,4 pada Maret. Apalagi, dari sisi usia, pada laporan itu mengungkapkan, mayoritas kelompok usia responden terdalam di rentang 20 hingga 30 tahun.

 

 
Indikator positif yang mesti terus dikawal. Sedangkan indikator negatif yang terus terjadi harus ditahan agar tidak makin dalam penurunannya.
 
 

Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha juga turun. Responden khawatir terhadap melemahnya daya beli masyarakat akibat dampak kenaikan harga sejumlah komoditas, misal minyak goreng, bahan bakar minyak, dan pemberlakuan PPN 11 persen.

Indikator positif yang mesti terus dikawal. Sedangkan indikator negatif yang terus terjadi harus ditahan agar tidak makin dalam penurunannya.

Untuk itu, momentum yang terjaga saat ini harus dipertahankan dengan memfokuskan pada sektor perdagangan, ekspor, dan penguatan daya beli masyarakat. Rencana kenaikan sejumlah bahan pokok jangan direalisasikan.

BBM bersubsidi, tarif dasar listrik, gas 3 kilogram harus dicarikan formuliasinya agar tak naik harga karena bakal mengerek biaya produksi, yang ujung-ujungnya kenaikan bahan pokok lainnya. Efek domino mesti dicegah untuk menjaga momentum indikator perekonomian tetap positif.

Dalam kondisi ini, belanja pemerintah untuk mendukung konsumsi masyarakat masih dibutuhkan.

Kemampuan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok terus dijaga untuk mengompensasi kualitas pertumbuhan ekonomi. Ekonomi yang berkualitas harus ditumbuhkan agar tidak tergerus inflasi, yang bisa menjadi ancaman.


Di Balik Kearifan Permainan Angklung Anak Usia Dini

Pada awalnya, angklung digunakan untuk kegiatan pertanian, seperti untuk kegiatan waktu mengarak padi ke lumbung.

SELENGKAPNYA

Menakar Kontribusi Zakat Nasional

Data resmi yang menggambarkan besarnya kontribusi zakat dalam pembangunan ekonomi nasional.

SELENGKAPNYA

Kesiapan Hadapi Hepatitis Akut

Di Indonesia, kasus hepatitis misterius ini sudah ditemukan di DKI Jakarta, Tulungagung, Sumatra Barat, dan Bogor.

SELENGKAPNYA
×