Petugas amil zakat melayani warga yang membayar zakat fitrah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (29/4/2022). Baznas Masjid Istiqlal membuka layanan zakat fitrah hingga malam takbiran dengan besaran 3,5 liter atau 2,7 kilogram beras atau uang sebesar Rp 50 | Republika/Putra M. Akbar

Opini

11 May 2022, 03:45 WIB

Menakar Kontribusi Zakat Nasional

Data resmi yang menggambarkan besarnya kontribusi zakat dalam pembangunan ekonomi nasional.

AHMAD JUWAINI, Direktur Keuangan Sosial Syariah KNEKS

Kita patut bersyukur perkembangan zakat di Indonesia sangat pesat. Perkembangan ini dapat dilihat pada beberapa aspek, antara lain pertumbuhan penghimpunan dana zakat, jumlah organisasi pengelola zakat (OPZ), dan perbaikan tata kelola zakat dalam bentuk regulasi dan standar pengelolaan zakat.

Pada sisi penghimpunan dana zakat, selama tiga tahun (2018-2020) terjadi akumulasi kenaikan zakat sebesar 98,58 persen atau rata-rata setiap tahun mengalami kenaikan 32,86 persen (Puskas Baznas: 2022).

Pada unsur OPZ, saat ini terdapat Baznas Pusat, 34 Baznas Provinsi dan 463 Baznas Kabupaten/Kota, ditambah 143 unit pengumpulan zakat (UPZ). Sementara pada OPZ yang didirikan masyarakat yang disebut  lembaga amil zakat (LAZ) terdapat 24 Laznas , 14 LAZ Provinsi dan 32 LAZ Kabupaten/Kota (Baznas:2021).

Pada aspek tata Kelola zakat, kita telah memiliki Undang-Undang Pengelolaan Zakat yaitu UU No 23 Tahun 2011, Peraturan Pemerintah No 14  tahun 2014 Tentang Pelaksanaan UU No 23 Tahun 2011, Peraturan Menteri Agama No 52 Tahun 2014 Tentang Syarat dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah serta Pendayagunaan Zakat untuk Usaha Produktif, juga puluhan Peraturan Baznas.

 

 
Pada sisi penghimpunan dana zakat, selama tiga tahun (2018-2020) terjadi akumulasi kenaikan zakat sebesar 98,58 persen atau rata-rata setiap tahun mengalami kenaikan 32,86 persen (Puskas Baznas: 2022).
 
 

 

Bahkan kita telah memiliki Zakat Core Principles, sebuah panduan pengelolaan zakat tingkat dunia, yang diinisiasi dari Indonesia.

Meskipun perkembangan zakat di Indonesia sangat pesat tetapi  banyak masyarakat masih mempertanyakan sejauhmana peran zakat dalam pembangunan ekonomi.

Meski banyak OPZ sudah memublikasikan manfaat program pendistribusian dan pendayagunaan zakat terhadap kelompok masyarakat yang dibantu (mustahik) tetapi karena itu masih bersifat masing-masing OPZ, secara makro belum tergambar kontribusi zakat dalam pembangunan ekonomi nasional.

Apalagi dalam kenyataannya, sering kali informasi manfaat zakat dalam membantu masyarakat yang dipublikasikan masing-masing OPZ belum bisa ditarik sebagai data agregat, akibat perbedaan kandungan informasi dan metode menghasilkan datanya.

Sampai saat ini, kita belum memiliki data resmi yang menggambarkan besarnya kontribusi zakat dalam pembangunan ekonomi nasional.

Dampak dari belum tersedianya data resmi tersebut, masih banyak orang yang skeptis terhadap zakat dan memandang zakat adalah domain keagamaan yang tidak cocok untuk dibawa ke ranah pembangunan ekonomi.

 

 
Sampai saat ini, kita belum memiliki data resmi yang menggambarkan besarnya kontribusi zakat dalam pembangunan ekonomi nasional.
 
 

Dampak berikutnya, orang memandang kontribusi zakat untuk pembangunan ekonomi sangat minimalis sehingga tidak substansial untuk digunakan sebagai salah satu faktor penentu perubahan ekonomi masyarakat.

 

Dampak lainnya, kegiatan perzakatan tidak disinergikan secara nyata dengan program pembangunan yang dilakukan pemerintah dalam upaya mengatasi kemiskinan. Dampak akhirnya, masih belum seutuhnya pemerintah memberikan insentif perpajakan bagi para pembayar zakat, yaitu merealisasikan zakat sebagai pengurang pajak (zakat pengganti pajak).

Apabila kita telaah lebih jauh tentang sejauhmana dampak zakat terhadap pembangunan ekonomi, maka kita memerlukan beberapa data penting.

Empat data penting untuk menggambarkan sejauhmana kontribusi zakat terhadap pembangunan ekonomi adalah berapa jumlah mustahik yang dibantu zakat dalam satu tahun? Apa saja bentuk bantuan (program) yang diberikan untuk mustahik?

Bagaimana perubahan kesejahteraan ekonomi mustahik setelah mendapat bantuan zakat? Berapa banyak mustahik yang setelah dibantu dengan zakat berubah dari mustahik menjadi muzaki?

Untuk mendapatkan data jumlah mustahik yang dibantu dalam setahun relatif lebih mudah karena proses ini hanya memerlukan inventarisasi jumlah mustahik yang dibantu masing-masing OPZ dalam setahun. Tantangannya adalah kita harus memastikan setiap OPZ mencatat jumlah mustahiknya yang dibantu setiap tahun.

 
Masyarakat masih mempertanyakan sejauhmana peran zakat dalam pembangunan ekonomi.
 
 

Adapun untuk mendapatkan data bentuk bantuan (program) yang diberikan untuk mustahik, opsinya cukup dikategorisasi pada empat bentuk bantuan saja yaitu bantuan sosial, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

Sementara, untuk mendapatkan data bagaimana perubahan kesejahteraan ekonomi mustahik setelah mendapat bantuan zakat, maka perlu ditentukan metode perhitungannya (proxy-nya). Misalnya yang mau diukur adalah perubahan pendapatan per kapita mustahik setelah dibantu zakat.

Metode perhitungannya perlu dijelaskan dan disosialiasikan kepada semua OPZ atau kepada semua mitra yang akan menghitung besaran pada masing-masing OPZ.

Demikian juga dengan mendapatkan data jumlah mustahik yang berubah dari mustahik menjadi muzaki, perlu ditentukan metode perhitungannya dan perlu disosialisasikan kepada setiap OPZ atau mitra yang melakukan perhitungan pada setiap OPZ.

Semua data tersebut, kemudian diagregasi untuk mendapat data nasional kontribusi zakat dalam pembangunan ekonomi.

Dengan adanya data kontribusi zakat dalam pembangunan ekonomi ini akan mendorong perbaikan proses pendistribusian dan pendayagunaan zakat pada setiap OPZ, sekaligus mendorong munculnya kebijakan zakat nasional yang semakin kondusif untuk memperkuat dan mengembangkan zakat di Indonesia. 


Pesan Perpisahan Ramadhan

Kepergian Ramadhan meninggalkan pesan perpisahan berharga.

SELENGKAPNYA

Risiko Ekonomi Pasca-Lebaran

Pascamudik, ada beberapa risiko ekonomi yang bersumber dari luar maupun dalam negeri.

SELENGKAPNYA

Arus Balik

Upaya mencegah arus balik pasca-Lebaran, perlu dibarengi perkembangan kota-kota menengah.

SELENGKAPNYA
×