Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

10 May 2022, 06:44 WIB

Pesan Perpisahan Ramadhan

Kepergian Ramadhan meninggalkan pesan perpisahan berharga.

OLEH AHMAD AGUS FITRIAWAN

Adalah sunnatullah, setiap pertemuan ada perpisahan. Begitu pun Ramadhan tiba, kepergiannya menjadi keniscayaan yang tak dapat terelakkan lagi.

Itulah siklus kehidupan yang senantiasa datang dan pergi. Itulah roda kehidupan terus berjalan dan berputar mengitari kehidupan manusia (QS 3: 140).

Kepergian Ramadhan meninggalkan pesan perpisahan berharga. Ramadhan tidak butuh tangisan sesaat yang hanya dijadikan ratapan dan nostalgia tanpa dampak yang membekas dalam kehidupan kita. Proses pembiasaan ibadah Ramadhan hilang seketika ditelan waktu seiring dengan kepergiannya.

Kondisi inilah yang senantiasa dikhawatirkan Rasulullah SAW: “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala puasanya selain lapar dan berapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan pahala shalat malamnya selain begadang semata” (HR Ahmad).

Pertama, puasa. Bukan hanya puasa secara lahir, melainkan kita juga harus mampu berpuasa secara batin, yakni menjaga hati dan pancaindra dari sesuatu yang dilarang Allah. Untuk menghidari kegagalan puasa Ramadhan, marilah kita lanjutkan mengerjakan tradisi Ramadhan, dengan puasa sunah seperti puasa Syawal, puasa Senin Kamis, puasa pertengahan bulan (ayyamul bidh) tanggal 13, 14, dan 15, atau puasa Daud.

Kedua, ibadah malam (qiyamul lail). Kebiasaan ibadah malam seperti Tarawih atau Tahajud sejatinya menjadi bekal agar terbiasa shalat malam pada sebelas bulan mendatang. Jika mampu istiqamah ibadah malam, kita mendapat kemuliaan atau makam yang terpuji, baik di hadapan Allah maupun di mata manusia (QS 17:97).

Ketiga, Qiratul Quran. Beragam cara kita berinteraksi dengan Aluran, baik melalui tadarus, kajian tafsirnya, maupun kegiatan tadabur Alquran pada bulan Ramadhan harus dipertahankan. Jangan sampai tensinya menurun, grafik spiritnya jatuh pada level terendah, bahkan Alquran tak pernah disentuh dan dibaca kembali seusai Ramadhan.

Maka teruslah perbanyak membaca Alquran, sebagaimana sabda Rasulullah, “Terangilah rumahmu dengan shalat dan bacaan Quran” (HR Baihaqi).

Keempat, sedekah. Saat Ramadhan, kita banyak memburu pahala dengan berlomba mengeluarkan harta demi membantu sesama. Kebiasaan baik ini harus terus berlanjut hingga sebelas bulan mendatang. Jika kita memiliki kelebihan rezeki, berbagilah pada kaum tak punya karena kebiasaan ini dapat menyuburkan harta dan membuat hidup kita lebih berkah (QS 57:7).

Kelima, zikir. Dalam Ramadhan diajarkan banyak berzikir. Zikir dengan beristighfar menjelang berbuka, saat shalat malam, dan zikir lainnya. Setelah Ramadhan kebiasaan ini harus terjaga, agar hati terus sehat karena mendapat asupan gizi melalui zikir kepada Allah SWT (QS 13: 28, QS 33: 41-42). 

Keenam, silaturahim. Keakraban silaturahim Ramadhan tergambar dari shalat Tarawih, tadarusan, buka puasa bersama, bahkan sahur bersama. Seusai Ramadhan, kekompakan dan keharmonisan ini harus kita pelihara, agar sekat-sekat perbedaan di antara kita menjadi kekuatan untuk kemajuan bersama.

Ya Allah, janganlah Kau jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan Ramadhan terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai Ramadhan terakhirku, jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi. Amin.


Ekonomi Kian Pulih

BPS mencatat aktivitas produksi, konsumsi, dan investasi mengalami peningkatan.

SELENGKAPNYA

Presiden Targetkan Tiga Besar di SEA Games

Tim Indonesia yang akan berpartisipasi dalam gelaran SEA Games tahun ini berjumlah 499 atlet yang terdiri dari 313 atlet putra dan 186 atlet putri.

SELENGKAPNYA

Minyak Goreng Hingga Bensin Kerek Inflasi

Tingginya angka inflasi pada April memberikan sentimen negatif terhadap kurs rupiah.

SELENGKAPNYA
×