KH Muhammad Idris, seorang ulama besar dari Boyolali. | DOK BLOGSPOT

Mujadid

08 May 2022, 09:25 WIB

KH Muhammad Idris, Mursyid Pejuang dari Boyolali

Kiai Idris yang pernah menuntut ilmu di Haramain ini memimpin tarekat Syadziliyah.

OLEH MUHYIDDIN

 

Ada berbagai cara kaum Muslimin dalam menghayati agamanya. Salah satunya adalah tarekat. Menurut antropolog Dr Martin van Bruinessen dalam bukunya, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, dakwah di Tanah Air bermula ketika tasawuf menjadi corak pemikiran yang dominan di dunia Islam.

Memasuki abad modern, syiar yang dilakukan kaum sufi terus hidup di tengah masyarakat Indonesia. Bahkan, perjuangan mereka turut membuka jalan bagi tumbuhnya kesadaran jihad untuk melawan penindasan kolonial.

Salah seorang mursyid yang berpengaruh di Tanah Air pada abad ke-20 adalah KH Muhammad Idris. Tokoh tersebut lahir di Kalioso, Karanganyar, Jawa Tengah, pada 1 April 1913.

Ayahnya, KH Muhammad Amir Hasan, merupakan seorang alim asal Yogyakarta. Adapun ibundanya, Nyai Aisyah, adalah putri KH Idris, seorang pemuka agama di Boyolali.

Kiai Muhammad Idris tidak hanya berdarah alim ulama. Bila ditelusuri, nasabnya sampai kepada Pangeran Diponegoro, pejuang besar yang menggelorakan Perang Jawa pada 1825-1830. Dengan perkataan lain, dalam dirinya mengalir darah biru atau bangsawan ningrat Keraton Yogyakarta.

 
Kiai Muhammad Idris tidak hanya berdarah alim ulama. Bila ditelusuri, nasabnya sampai kepada Pangeran Diponegoro
 
 

Muhammad Idris menghabiskan masa anak-anak di Kalioso. Nama kecilnya sesungguhnya adalah Suratmo. Barulah nama yang lebih belakangan itu dipakai sejak dirinya menunaikan ibadah haji saat dewasa.

Sejak kecil, Idris telah mendapatkan pendidikan keislaman dari kedua orang tuanya. Tidak hanya mengaji di rumah atau masjid, ia pun menempuh pendidikan formal di Mambaul Ulum Slompretan.

Di lembaga yang setingkat sekolah dasar itu, dirinya sampai tamat kelas enam. Saat berusia sembilan tahun, anak lelaki ini memulai perjalanan intelektualnya dengan menyambangi pesantren-pesantren untuk belajar agama. Salah satu pondok terawal yang didatanginya adalah Pesantren Tremas di Pacitan, Jawa Timur, yang diasuh oleh KH Abdul Rozak.

Setelah nyantri di Tremas, ia melanjutkan pengembaraannya ke Pondok Pesantren Tempusari, Klaten, Jawa Tengah. Lembaga itu diasuh oleh KH Abdul Mu'id. Kemudian, ia juga pernah belajar di Pondok Pesantren Jamsaren, Solo, yang dikelola KH Idris.

Tidak puas sampai di situ, Idris muda melangkah lebih jauh ke Pulau Madura, tepatnya Pondok Pesantren Bangkalan. Usai dari sana, ia kembali ke Jawa Tengah untuk berguru kepada Habib Muhsin bin Abdullah, mualim yang karismatik di Solo. Fokusnya adalah mengkaji kitab Shahihain Bukhari-Muslim.

Ada banyak guru tempatnya menimba ilmu. Bagaimanapun, KH Idris Jamsaren menjadi yang istimewa baginya. Kiai yang memiliki kemiripan nama dengannya itu merupakan mursyid atau pemuka tarekat Syadziliyah. Bahkan, sang penerus kepengasuhan pesantren tertua di Solo itu merupakan pionir diseminasi ajaran sufistik tersebut di Tanah Jawa.

 
Ada banyak guru tempatnya menimba ilmu. Bagaimanapun, KH Idris Jamsaren menjadi yang istimewa baginya.
 
 

Pesantren Jamsaren Solo saat itu menjadi pusat pendidikan serta penyebaran tarekat Syadziliyah. Fakta itu menarik hati Muhammad Idris sehingga dirinya berkomitmen untuk mereguk ilmu dan hikmah dari sang mursyid.

Tarekat Syadziliyah mengambil nama dari Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili. Ulama dari abad ke-13 Masehi itu merupakan seorang sufi sekaligus aulia keturunan Nabi Muhammad SAW. Nasab yang mulia itu melalui garis Fathimah az-Zahra, istri Ali bin Abi Thalib. Asy-Syadzili sendiri berasal dari Maghribiyah atau Maroko.

Di Jamsaren, Idris mendalami dengan sungguh-sungguh seluk beluk tarekat Syadziliyah. Kecapakannya dalam mencerna ilmu membuatnya terkenal di tengah lingkungan pesantren. Sementara itu, gurunya pun memahami bahwa sang santri menyimpan ketertarikan pada dunia sufistik. Maka, seorang ustaz setempat, KH Abdul Mu’id, lantas membimbingnya. Hingga pada 1937, Idris yang saat itu berusia 24 tahun diangkat menjadi mursyid Tarekat Syadziliyah.

Saat masih menjadi santri, Idris terbiasa dengan pelbagai latihan diri (riyadhah), seperti puasa sunah dan shalat malam. Ia pun selalu menyempatkan diri untuk membaca buku, menelaah gagasan demi gagasan dalam konteks sufi.

Keseriusannya menekuni dunia salik sangat kentara. Bahkan, dirinya merantau hingga ke Tanah Suci guna mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait tasawuf. Beberapa gurunya di Makkah, seperti Syekh Mufthi Kamal dan Syekh Muhtarom, merupakan alim yang juga mengajarkan tarekat Syadziliyah.

Selama menggeluti dunia sufi, KH Muhammad Idris tidak hanya memperoleh ijazah dari satu guru, tetapi juga banyak alim ulama. Di antara para pembimbingnya adalah KH Abdul Mu’id Tempur Sari, KH Ahmad Siroj Keprabon, KH Abdul Rozaq Termas, KH Ahmad Ngadirejo, dan KH Idris Jamasaren.

Syiar dakwah

Kedatangan KH Muhammad Idris dari Makkah al-Mukarramah disambut suka cita kaum Muslimin di Kalioso. Untuk beberapa lama, sang alim menyebarkan syiar Islam di kampung halamannya sembari berbagi ilmu dan pengalaman. Kemudian, pada 1950-an ia mendapatkan isyarat dari seorang gurunya untuk berhijrah ke Desa Kacangan, Kecamatan Andong, Boyolali, Jawa Tengah.

Sesampainya di sana, sang guru menganjurkannya untuk memperkuat dakwah Islam. Pada awal kehadirannya, Kiai Idris baru mengetahui, Kacangan lekat dengan pelbagai kesan di mata masyarakat sekitar. Desa tersebut didominasi kelompok abangan. Bahkan, basis-basis Partai Komunis Indonesia (PKI) dapat dijumpai dengan cukup mudah di sana.

Kiai Idris pun merasa tertantang untuk memaksimalkan dakwah Islam di daerah tersebut. Dalam melakukan pengajaran, dia tidak hanya berfokus di Kacangan. Desa-desa sekitarnya pun diperhatikan sang alumnus Masjidil Haram.

 
Dalam menyampaikan nasihat, Kiai Idris selalu menggunakan kosa kata yang santun dan lugas sehingga menarik dan mudah dipahami masyarakat awam.
 
 

Yang tidak kurang pentingnya dalam berdakwah adalah metode. Dalam menyampaikan nasihat, Kiai Idris selalu menggunakan kosa kata yang santun dan lugas sehingga menarik dan mudah dipahami masyarakat awam. Karena itu, pada akhirnya banyak warga desa yang secara rutin menghadiri majelis-majelis taklimnya.

Bahkan, tidak sedikit masyarakat dari luar daerah Boyolali datang ke sana untuk belajar langsung kepada Kiai Idris. Makin lama, kian banyak jumlah pengikutnya. Mereka kemudian meminta kepada sang kiai untuk dibaiat ke dalam tarekat Syadziliyah. Jamaah tersebut tidak hanya diisi kalangan orang tua, melainkan juga para pemuda.

Kiai Idris biasanya menganjurkan beberapa amalan kepada mereka yang ingin masuk ke dalam tarekat. Umpamanya, berpuasa selama tiga hari berturut-turut. Saat menjalankan puasa ini, jamaah dilarangnya untuk memakan makanan yang mengandung telur, ikan, gula, dan daging. Alasannya cukup sederhana: untuk memurnikan hawa nafsu.

 
Untuk menghindari retaknya umat, ia pun masuk organisasi Muhammadiyah meskipun ber-amaliah Nahdlatul Ulama (NU).
 
 

Dalam menjalankan misi dakwahnya, Kiai Idris juga selalu merangkul semua golongan Muslimin. Ia tidak ingin umat Islam terpecah belah hanya karena perbedaan ideologi dan pemikiran. Untuk menghindari retaknya umat, ia pun masuk organisasi Muhammadiyah meskipun ber-amaliah Nahdlatul Ulama (NU).

Sebagai mursyid tarekat Syadziliyah, ia membimbing puluhan ribu pengikut. Mereka berasal dari pelbagai macam lapisan sosial. Salah seorang tokoh yang pernah mengambil ijazah tarekat Syadziliyah darinya adalah Habib Luthfi bin Aly bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Tidak hanya ijazah terkait tarekat Syadziliyah, melainkan juga tarekat Naqsabandiyah diperoleh dari Kiai Idris Boyalali.

Di samping itu, ada Habib Syekh Abdul Qodir Assegaff. Tokoh alawiyin tersebut juga mengambil baiat tarekat kepada Kiai Idris. Beberapa bulan sebelum wafatnya, sang kiai masih sempat membaiat sekitar 200 orang untuk masuk ke dalam tarekat. Hal itu dilakukannya sembari merebahkan badan karena alasan uzur atau sakit.

 
Sebagai guru tarekat, Kiai Idris ternyata menaruh kepedulian terhadap pelestarian budaya Jawa, selama itu tidak bertentangan dengan akidah Islam.
 
 

Sebagai guru tarekat, Kiai Idris ternyata menaruh kepedulian terhadap pelestarian budaya Jawa, selama itu tidak bertentangan dengan akidah Islam. Misalnya, wayang kulit atau gaya busana Jawa. Ia bahkan sangat fasih dalam menuturkan isi Babat Tanah Jawa yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Umumnya, kaum sufi dekat dengan ekspresi kesenian atau kesusastraan, semisal musik, puisi, dan prosa. Bagi Kiai Idris, musik dapat menjadi sarana atau metode dakwah. Karena itu, ia mengaku gemar mendengarkan gambus religius.

Saat mengisi pengajian, ia juga sering menyelipkan shalawat-shalawat yang diiringi dengan tabuhan rebana. Cara dakwah via musik dan shalawat itu bertujuan menjaring orang-orang yang menyukai musik agar lebih tertarik pada aktivitas ibadah, semisal mengaji, membaca shalawat, dan mendirikan shalat.

Selain berdakwah menyebarkan agama Islam, Kiai Muhammad Idris juga sangat memperhatikan kondisi masyarakatnya, terutama pada bidang pendidikan formal. Ia bersama dengan sejumlah tokoh masyarakat turut berupaya membangun pendidikan Islam formal di Boyolali.

Pada 1961, berdirilah dua unit sekolah Islam. Keduanya merupakan hasil inisiasi Kiai Idris di Desa Kacangan, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah yang dipimpin oleh Kiai Idris dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang dikepalai Syamsul Hadi. Di sekolah ini, ulama dari Boyolali tersebut berperan menjadi pendidik sekaligus guru agama.

Pada 1968 pemerintah menjadikan lembaga pendidikan Islam itu selevel sekolah negeri. Dari nama yang awalnya adalah MTs Muhammadiyah kemudian beralih menjadi MTs Negeri Kacangan Andong—klebih dikenal dengan MTs Negeri 1 Boyolali.

Sosok Perintis, Pejuang, dan Alim

KH Muhammad Idris merupakan seorang tokoh dalam sejarah syiar Islam di Boyolali, Jawa Tengah. Walaupun tidak pernah mendirikan pesantren, reputasinya sama besar dan penting dengan kiai-kiai pesantren, yakni dalam merintis penyebaran ilmu dan dakwah.

Ia tercatat membentuk kelompok kajian yang dinamakannya al-Idrissiyah atau Majelis Sholawatunnabi wa Taslim wa Majelisun Ddzikri wa Ta’lim. Tidak hanya itu, dia juga memprakarsai berdirinya Masjid Muqorrobin di Desa Kacangan.

Tidak hanya dikenal sebagai pemuka agama, Kiai Idris juga turut berjuang pada zaman kolonial. Saat masih nyantri di Solo, ia berlatih pencak silat dengan para pendekar setempat.

Untuk mengamalkan ilmu bela diri yang telah dia pelajari, ia pun tergabung dalam barisan Laskar Hizbullah. Ketika terjadi pertempuran di Mranggen, pemilik nama asli Suratmo itu memimpin pasukan Hizbullah untuk melawan para prajurit Belanda.

 
Ketika terjadi pertempuran di Mranggen, pemilik nama asli Suratmo itu memimpin pasukan Hizbullah untuk melawan para prajurit Belanda.
 
 

Di masa dewasa hingga uzurnya, ia semakin khusyuk dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini, Kiai Idris memang sosok yang sangat mencintai ilmu. Semangatnya dalam belajar di pesantren-pesantren sangat tinggi. Sejak nyantri hingga menjadi seorang mursyid, ia sangat senang mempelajari kitab-kitab tasawuf, fikih, hadis, tafsir Alquran, dan lain-lain.

Setelah mengkajinya, Kiai Idris biasanya akan merangkum dan menulisnya kembali dalam bentuk catatan-catatan kecil yang lebih mudah dipahami. Rangkuman kitab yang ditulis secara sistematis tersebut akan membantu muridnya untuk lebih mudah memahami ajaran para ulama terdahulu. Dengan begitu, mereka insya Allah akan lebih semangat dalam menuntut ilmu.

Mengutip hasil penelitian Fajar Nurdin (2020), sebagian besar kitab karangannya telah digandakan oleh muridnya untuk digunakan sebagai rujukan dakwah. Salah satu karya Kiai Idris adalah Kitab Asyhuril Hurum, yang berisi penjelasan tentang kemuliaan bulan-bulan suci.

Kiai Idris juga menulis kitab Pasholatan Jilid I-V, yang berisi tentang tuntunan atau tata cara melaksanakan ibadah shalat fardhu maupun sunnah. Selain itu, kitab ini juga menjelaskan tentang ibadah yang berkenaan dengan shalat, seperti azan sebelum shalat, wudhu dan hal-hal yang membatalkannya, tayamum, doa-doa wirid dan faedah-faedah.

KH Muhammad Idris wafat pada 26 Jumadil Akhir 1423 H atau 4 September 2012 M.


Onrust: Dari Westerling ke Kartosuwirjo

Pemimpin DI/TII yang ingin mendirikan negara Islam melalui perjuangan bersenjata itu dihukum mati di Onrust pada 1962.

SELENGKAPNYA

Sajadah Ayah

Kata ayah, sajadah yang ia pakai masih layak digunakan meski di beberapa bagian sudah mengelupas warnanya.

SELENGKAPNYA

Banyak Anak Banyak Rezeki, Benarkah?

Memperbanyak anak itu dilakukan dengan memastikan adanya niat, komitmen, dan kemampuan.

SELENGKAPNYA
×