Sajadah Ayah | Rendra Purnama/Republika

Sastra

08 May 2022, 08:45 WIB

Sajadah Ayah

Kata ayah, sajadah yang ia pakai masih layak digunakan meski di beberapa bagian sudah mengelupas warnanya.

OLEH RISEN DHAWUH ABDULLAH

Sudah berapa kali aku menyuruh ayah untuk berhenti menggunakan sajadahnya. Aku telah membelikannya yang baru beberapa hari yang lalu. Sajadah pemberianku masih tersimpan rapi di almari.

Entah, dengan apalagi aku harus menasihati ayah supaya ia mau memensiunkan sajadahnya. Ayah memang tidak pernah malu dengan sajadahnya. Setiap ke masjid, ia selalu menggunakan sajadah itu. Sajadah itu satu-satunya sajadah yang ayah punya. Aku tidak ingat, kapan sajadah itu ada di rumah ini.

Kata ayah, sajadah yang ia pakai masih layak digunakan meski di beberapa bagian sudah mengelupas warnanya. Hal itu membuat gambar sajadah sedikit cacat. Menurutku, sajadah itu sudah waktunya untuk diistirahatkan. Maka, aku membelikannya yang baru. Sajadah berwarna biru. Tapi, kembali lagi, ayah masih menggunakan sajadahnya. Aku tidak habis pikir dengan ayah.

“Jujur, saya malu, Yah. Sajadah itu sudah waktunya ditepikan,” ucapku. Aku akhirnya mengatakan apa adanya.

“Malu kenapa? Hanya gara-gara di beberapa bagian sudah brodol? Ini masih bisa digunakan,” kata ayah sembari memperlihatkan sajadahnya.

 

 
Kata ayah, sajadah yang ia pakai masih layak digunakan meski di beberapa bagian sudah mengelupas warnanya.
 
 

 

“Saya heran dengan Ayah, mengapa Ayah tidak malu? Sebentar lagi bulan Ramadhan tiba, Ayah pasti akan bertemu banyak orang, sebab kalau Ramadhan orang-orang akan berbondong ke masjid. Yang tahu kalau sajadah Ayah seperti itu akan semakin banyak. Yakin, Ayah tidak malu?”

“Untuk apa? Sajadah ini nyatanya masih pantas digunakan. Sajadah ini telah menemani ayah selama bertahun-tahun. Kalau sajadah punya perasaan, betapa sakitnya ia. Sudah bertahun-tahun, akhirnya ayah tinggalkan. Ibarat manusia, sajadah ini sudah berumur tua, tapi belum mati. Kerusakannya belum parah,” terang ayah.

“Kalau Ayah masih menggunakan sajadah itu, nanti yang terkena getahnya saya, Yah.” Aku masih terus berupaya agar ayah segera meninggalkan sajadah itu.

“Kena getahnya? Mengapa?”

“Saya dikira tidak perhatian dengan Ayah. Apalagi, ini menyangkut ibadah. Padahal saya sudah membelikan Ayah sajadah.”

Ayah hanya tersenyum mendengar penjelasanku. Senyum yang membuatku semakin sebal. Mengapa Ayah begitu keras kepala? Umumnya orang-orang akan senang jika memperoleh sesuatu hal yang serbabaru. Tapi, Ayah?

“Ayah kira tidak perlu malu. Biarkan saja orang-orang mbatin sajadah ayah. Toh, namanya hidup, di mana-mana pasti kita ketemu orang yang tidak suka dengan apa yang kita punya,” ucap Ayah.

“Ayah ini sering menjadi imam, Yah.”

“Ibadah itu tidak dipandang dari fasilitasnya. Tapi dari hati, apakah sungguh-sungguh atau tidak.”

 

 
Aku kehabisan kata-kata. Segala ucapanku tetap tidak mempan. Ayah tetap mengenakan sajadah itu.
 
 

 

Aku kehabisan kata-kata. Segala ucapanku tetap tidak mempan. Ayah tetap mengenakan sajadah itu. Sajadah berwarna hijau yang beberapa bagiannya berwarna putih karena bulu halusnya terlepas.

Aku berpikir keras, mencari cara supaya ayah mau berganti sajadah. Berhari-hari tidak kutemukan caranya. Bahkan, sampai bulan Ramadan tiba, tetap saja. Tidak kutemukan jalan keluar.

Saat berangkat ke masjid untuk shalat Tarawih, ayah tetap menggunakan sajadah itu. Begitu pun di waktu shalat yang lain. Ayah nyaris tidak pernah absen ke masjid. Shalat lima waktu selalu ia lakukan di masjid. Ya, semenjak ayah pensiun, ayah selalu shalat di masjid. Semenjak ayah pensiun, ayah semakin sering menjadi imam. Ayah sering azan. Dan, sajadah itu….

“Tidak ada suara yang membuat Ayah terganggu, soal sajadah itu?”

“Suara apa?”

“Ya, suara tetangga, Yah.”

Lagi-lagi ayah merespons dengan tersenyum. Hingga Ramadhan usai, ayah masih setia. Sementara, sajadah pemberianku masih tersimpan di dalam almari ayah. Aku ingin memaksa ayah untuk menggunakan sajadah pemberianku dengan membuang atau membakar sajadah ayah. Ya, aku sudah tidak tahu lagi dengan kata-kata apa supaya ayah mau menggunakan sajadah pemberianku. Apakah aku akan melakukannya?

Aku berpikir akibatnya. Ayah bukan tidak mungkin akan memarahiku habis-habisan. Kubayangkan kemarahannya akan bertahan hingga beberapa hari. Aku tidak diajaknya berbicara. Aku telah menggoreskan luka padanya. Berhari-hari luka itu bisa tidak sembuh. Aku pun akan semakin merasa berdosa. Doa ayah pasti tidak lagi mengalir padaku. Aku akan menjadi anak durhaka. Hanya gara-gara selembar sajadah.

 
Lagi-lagi ayah merespons dengan tersenyum. Hingga Ramadhan usai, ayah masih setia.
 
 

Maka, aku berpikir ulang untuk melakukan hal itu. Namun, pikiran negatifku tidak bisa hilang bahwa tetangga akan menganggapku sebagai anak yang kurang perhatian terhadap orang tuanya. Mereka akan menyindir-nyindirku di forum kampung atau saat bertemu di jalan.

Bagaimanapun, aku tidak mau dibegitukan. Hanya, pikiran itu hanyalah pikiran belaka. Kenyataannya memang tidak pernah kudapati ada yang menyindirku atau bahkan langsung blak-blakan bilang kepadaku mengenai sajadah ayah.

Ini belum saja. Pasti besok-besok akan ada yang menyindirku atau bahkan mengatakan dengan gamblang,” ucapku dalam hati. Tetap saja prasangkaku ada. Ayah tetap tenang-tenang saja. Sajadah yang kuanggap sudah rusak itu ayah letakkan di almari.

Kemarin hari Ahad. Teman ayah datang di rumah menjelang waktu Zhuhur. Saat Zhuhur tiba, ayah mengajak temannya ke masjid. Setiap kedatangan tamu, ayah selalu mengupayakan mengajak tamunya shalat di masjid. Itulah yang kusalut dari ayah. Aku mendengar dari kamar ketika temannya nyeletuk.

“Wah, setia banget kamu. Sampai belum ganti,” kata temannya. “Tapi aku salut, sajadahmu justru menggambarkan kalau sering dipakai oleh yang punya.”

Dadaku seperti dilempari beratus-ratus batu. Pikiranku langsung berkata kalau teman ayah membatin, kebangetan anaknya, tidak membelikan sajadah yang baru. Apakah begitu?

 
Meski teman ayah juga memujinya, tetap saja, pujian itu tidak membuatku bangga sebagai anaknya. 
 
 

Meski teman ayah juga memujinya, tetap saja, pujian itu tidak membuatku bangga sebagai anaknya. Pikiranku sudah dikuasai pikiran negatif. Jika Tuhan memberikan sebuah kesempatan kepadaku, aku hanya ingin ayah menyingkirkan sajadah itu. Memang dalam beribadah, bukan fasilitasnya yang menjadi tolok ukur.

Bagiku tidak ada salahnya kita sebagai manusia menyajikan yang terbaik. Termasuk sajadah untuk beribadah. Bukankah Tuhan akan senang, jika hambanya bersungguh-sungguh? Dalam hal ini termasuk bersungguh-sungguh dalam menyiapkan segala hal untuk menyembah-Nya?

“Ayah mendengar sendiri bukan, teman ayah sampai berkata seperti itu? Gantilah, Yah. Kali ini saja turuti kata-kata saya,” ucapku dengan nada sedikit memaksa.

“Memangnya kenapa kalau sudah berkata begitu. Belum tentu dia bermaksud seperti yang kamu prasangkakan. Sudahlah, kamu tidak capek apa mengurusi sajadah? Daripada mengurusi sajadah, mending perbaiki ibadahmu. Ayah lihat, kamu tidak pernah menghiraukan kata-kata ayah yang menyuruhmu shalat tepat waktu.”

Ayah sama sekali tidak goyah. Justru aku yang mendapat nasihat. Aku malu, sungguh malu dengan teman ayah. Mengapa ayah sekeras batu? Karena ayah yang begitu, pikiranku untuk membuang atau membakar sajadah ayah masih ada. Saat ayah tertidur, tebersit di benakku. Lagi-lagi sisi baikku mencegahku. Aku tidak mau menjadi anak yang membuat hati ayah terluka.

 
Semakin hari sajadah ayah semakin parah kerusakannya. Bahkan, di salah satu sudutnya hampir tidak berbentuk sembilan puluh derajat.
 
 

Semakin hari sajadah ayah semakin parah kerusakannya. Bahkan, di salah satu sudutnya hampir tidak berbentuk sembilan puluh derajat. Ayah masih tetap memakainya. Dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Ayah seperti masih menganggap kalau sajadah itu baik-baik saja. Lalu kutanyakan kepada ayah, untuk yang kesekian kalinya, alasan ayah tidak mau berganti sajadah. Kali ini ayah mau menjawab pertanyaanku.

“Sajadah ini pemberian almarhum ibumu. Dulu ibumu berpesan kepada ayah, supaya jangan meninggalkan shalat di mana pun berada. Maka dari itu, kenapa ayah tidak mau mengganti sajadah? Ayah takut lupa dengan pesan ibumu,” ucap ayah dengan suara lemah. “Ayah meminta maaf, baru mengatakan yang sebenarnya sekarang. Selama ini, alasan ayah kalau sajadah ini masih bisa digunakan, memang benar. Tapi, alasan yang baru ayah sebutkan adalah yang tepat.”

Mendengar keterangan ayah, aku menjadi bersalah. Kukatakan kepada ayah, jika ayah mengatakan yang sesungguhnya tentu aku tidak akan mengejar-ngejar ayah, sehingga mungkin telah membuatnya kesal. Aku paham sekarang, ayah begitu mencintai sajadahnya, seperti cintanya kepada ibu. Hingga kemudian aku mendengar ucapan ayah yang mendatangkan rasa tenteram.

“Tapi, ayah juga sadar. Sejatinya kita ini harus mengingat Tuhan setiap saat. Jadi, tanpa pesan dari ibumu, seharusnya ayah terus mengingat Tuhan. Ayah tidak ingin membuatmu terus kecewa. Akhir-akhir ini ayah memang sudah kepikiran untuk menggantinya,” ucap ayah.

Kata-kata itu membuatku bahagia. Kata-kata itu membuatku tidak bisa berucap apa-apa.

Jejak Imaji, 19 April 2022

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2021. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.


Jangan Takut Berinvestasi

Pahami cara memilih produk dan layanan keuangan yang aman.

SELENGKAPNYA

Banyak Anak Banyak Rezeki, Benarkah?

Memperbanyak anak itu dilakukan dengan memastikan adanya niat, komitmen, dan kemampuan.

SELENGKAPNYA

Kembali ke Fitrah

Tidak pantas jika kemudian pada hari pertama bulan Syawal langsung berbuat dosa.

SELENGKAPNYA
×