IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

04 Apr 2022, 03:45 WIB

Dunia Bisa Kacau Bila Putin Jadi Contoh

Doktrin Putin akan menjadikan perang wasit utama dalam hubungan antarnegara, yang kuat berkuasa.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Tindakan Presiden Rusia Vladimir Putin menyerang Ukraina, terlepas hasilnya belum kita ketahui, akan berakibat panjang. Salah satunya, perang menjadi solusi menyelesaikan masalah politik global atau dalam bahasa kolumnis Arab Saudi, Abdurrahman al Rasyid, ‘perang, dan bukan perdamaian, yang membentuk dunia’.

Sebelum agresi Rusia ke Ukrania, mengutip kolumnis Iran, Amir Tohiry, ada semacam ‘konsensus diam-diam’, perang hanya di dunia (negara) berkembang. Misalnya, Arab dan Israel, Arab dengan Arab, atau antarnegara Afrika, juga India dan Pakistan.

Pada waktu yang sama, Barat termasuk AS meyakini telah menutup pintu perang. Perang Dunia (PD) I, mereka percaya sebagai akhir perang karena kehancuran yang ditimbulkannya. Ternyata, 21 tahun kemudian, meletus PD II.

Dalam perang ini, 60 juta orang tewas, PD I menewaskan 40 juta orang. Masyarakat Barat mengira, 2 September 1945 hari terakhir peperangan di benua mereka, hingga militer Rusia menyerang Ukraina pada 24 September lalu.

 
Bayangkan, negara terbesar di Eropa menyerang negara terbesar kedua di benua itu. Sulit dipercaya masyarakat Eropa, yang telah mengucapkan selamat tingggal pada perang sejak 76 tahun dan sembilan bulan lalu.
 
 

Bayangkan, negara terbesar di Eropa menyerang negara terbesar kedua di benua itu. Sulit dipercaya masyarakat Eropa, yang telah mengucapkan selamat tingggal pada perang sejak 76 tahun dan sembilan bulan lalu.

Perang Balkan pada 1990-an, mereka pandang ‘perang kecil’ yang melibatkan tujuh provinsi bekas Federasi Yugoslavia. Mengenai agresi militer Rusia ke Ukraina, Presiden Putin beralasan, antara lain demi menyatukan dua negara dari satu bangsa.

Juga karena tuntutan warga, yakni warga Rusia di wilayah Ukraina, munculnya gerakan Nazi di Ukrania, dan demi keamanan nasional Rusia. Jika alasan Putin diadopsi sebagai pembenaran yang bisa diterima, banyak kasus serupa di seluruh dunia.

Cina misalnya, bisa seenaknya menyerang Taiwan. Argumen sama digunakan Jepang atas Rusia karena masih menduduki Pulau Kuril, yang diklaim Jepang. India bisa mengambil kembali Kashmir, bagian dari Pakistan sejak pemisahan jadi dua negara — India dan Pakistan.

Iran bisa mencoba untuk mendapatkan kendali atas wilayah yang hilang yang dikuasai Tsar di Kaukasus dan Cekungan Kaspia, menghidupkan kembali ‘hak pengawasan’ atas kota-kota suci kaum Syiah di Irak berdasarkan Perjanjian Qasr al Shshyry.

 
Cina misalnya, bisa seenaknya menyerang Taiwan. Argumen sama digunakan Jepang atas Rusia karena masih menduduki Pulau Kuril, yang diklaim Jepang.
 
 

Turki, penerus Kekhalifahan Utsmaniyah, dapat menghidupkan klaim untuk menguasai sebagian Irak utara dan sebagian Suriah. Suriah bisa mengeklaim kembali Perkebunan Shebaa Lebanon dan Dataran Tinggi Golan. Kini Sheeba dan Golan dikendalikan dan dicaplok Israel.

Di Amerika Latin, Bolivia dapat menggunakan argumen Putin menyerang Chile demi akses ke laut. Chile dan Argentina bisa berperang menyelesaikan perselisihan abadi mereka atas Tira del Fuego.

Bagaimana dengan Meksiko yang berusaha ‘membebaskan’ Kalifornia dan Texas dari imperialis Amerika? Kembali ke Eropa, bagaimana dengan restorasi Italia atas Savoy, yang dianeksasi Prancis pada 1870-an?

Lalu dengan Corsica, yang direbut Prancis dari Genoa? Prancis, yang saat ini terlibat konflik dengan Inggris atas penangkapan ikan di perairan Kepulauan Anglo-Norman, dapat mengikuti pendekatan Rusia dengan menginvasi Jersey dan Guernsey.

Dalih ala Putin bisa pula digunakan melawan Rusia sendiri di Eropa dan Asia. Bukankah daerah kantong Kaliningrad, jantung Prusia dan tempat kelahiran Kant, harus kembali ke Jerman? Bagaimana jika Finlandia menginvasi Rusia untuk mendapat kembali tanah yang hilang?

 
Konsep pertahanan -- nasional atau regional -- adalah persiapan untuk perang dan bukan untuk perdamaian.
 
 

Ini belum lagi kengerian akibat perbuatan Tsar (Kaisar Rusia) yang merebut sejumlah wilayah dari para khan (penguasa Mongol) di Asia Tengah. Wilayah Rusia terus meluas pada era Tsar kemudian Uni Soviet.

Putin pun menampilkan diri sebagai ‘penyerang hebat’ ketika menginvasi Georgia pada 2008, dan memulai perangnya dengan Ukraina sejak 2014 ketika menganeksasi Krimea.

Dengan menggunakan argumen Putin, bisa saja negara-negara Baltik kembali ke pemerintahan Rusia. Atau sebaliknya, Rusia kembali ke Lituania atau Swedia. Polandia mungkin sekali akan kembali menghilang dari peta.

Krisis Ukraina berakhir, cepat atau lambat. Berakhirnya belum jelas, apakah kedaulatan Ukraina akan kembali atau negara ini bagian dari Rusia. Namun, perang Rusia-Ukrania akan banyak mengubah hubungan internasional.

Konsep pertahanan -- nasional atau regional -- adalah persiapan untuk perang dan bukan untuk perdamaian.

Dengan kata lain, kalau kita mengadopsi ‘Doktrin Putin’, dunia akan tanpa hukum, di mana slogan Adolf Hitler akan berlaku ‘Force is Right’ alias kekuatan atau perang adalah hukum — anehnya, justru Presiden Putin menuduh Ukraina sebagai Nazi Hitler.

Doktrin Putin akan menjadikan perang wasit utama dalam hubungan antarnegara, yang kuat berkuasa. ‘Konsep kekuatan’ di sini tidak sepenuhnya militer, juga budaya, sains dan teknis, serta ekonomi.

Uni Soviet runtuh karena alasan ekonomi, padahal saat itu kekuatan militer terbesar kedua di dunia. Karena itu, dunia kacau balau bila Putin dijadikan contoh. Wallahu a’lam. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan.


Longsor di Brasil, Belasan Tewas

Longsor telah menutup jalan hingga mengisolasi sebagian besar wilayah kota di Brasil.

SELENGKAPNYA

Sri Lanka Blokir Akses Media Sosial

Saat ini Sri Lanka tengah menghadapi krisis yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

SELENGKAPNYA

Menikmati Kembali Indahnya Sakura

Sakura yang juga dikenal sebagai Cherry blossoms adalah bunga favorit Jepang.

SELENGKAPNYA
×