Petugas kesehatan memeriksa hasil tes usap antigen pelajar di SMP Assalaam, Regol, Kota Bandung, Selasa (25/1/2022). WHO menyatakan, prevalensi BA.2 yang dimasukkan ke GISAID meningkat dari hari ke hari. | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

Omikron BA.2

WHO menyatakan, prevalensi BA.2 yang dimasukkan ke GISAID meningkat dari hari ke hari.

TJANDRA YOGA ADITAMA; Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Guru Besar FKUI

Kita tahu, dunia kini dilanda varian omikron. Kasus meningkat termasuk di negara kita, walaupun jumlah kasus sedang dan berat lebih rendah daripada varian delta. Untuk negara kita, kasus tertinggi harian pada 16 Februari 2022 adalah 64.718 orang.

Jelas lebih tinggi dari ketika puncak kasus delta yang 56.757 orang pada 15 Juli 2021. Sampai 18 Februari 2022, ada 1.752 warga meninggal pada masa omikron mendominasi kasus Covid-19 di Indonesia.

Memang angka kematian jauh lebih rendah daripada delta. Namun, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, setiap nyawa amat berharga. Kedua, angka kematian terus naik dari hari ke hari. Pada 11 Februari 2022, ada 100 orang wafat.

 
Memang angka kematian jauh lebih rendah daripada delta. Namun, ada dua hal yang perlu diperhatikan.
 
 

Pada 17 Februari, naik dua kali lipat menjadi 206 kasus dan pada 18 Februari naik lagi jadi 216 yang meninggal. Kita tahu, sejak 1 Oktober 2021, jumlah yang wafat sehari karena Covid-19 selalu di bawah 100, bahkan pernah empat orang wafat sehari pada 6 Januari 2021.

Tentang jenis varian omikron, WHO menyebutkan yang dimonitor sebagai omikron adalah B.1.1.529 dengan berbagai bentuknya, yaitu BA.1, BA.1.1, BA.2, dan BA.3. Kita tahu, di dunia dan di negara kita yang dominan sekarang adalah BA.1. Dalam perkembangannya, makin banyak yang memberi perhatian pada jenis BA.2 dari varian ini.

Pada 15 Februari 2022, WHO menyatakan, prevalensi BA.2 yang dimasukkan ke GISAID meningkat dari hari ke hari dan pada pekan kelima 2022 mencapai 21,09 persen. Jadi, sekitar seperlima varian omikron di dunia sekarang ini jenis BA.2.

Kalau kita lihat data sampai 14 Februari 2022, ada 10 negara yang BA.2-nya dominan, lebih dari 50 persen dari populasi omikron di negara mereka, yaitu Bangladesh, Brunei Darussalam, Cina, Denmark, Guam, India, Montenegro, Nepal, Pakistan, dan Filipina.

Ini berdasarkan data ke GISAID, badan yang mengompilasi genome sekuen dari berbagai negara, pada 13 Januari sampai 11 Februari 2022. Tentu belum sepenuhnya sama dengan di lapangan, tetapi setidaknya memberi gambaran situasi yang ada.

Terkait dampak BA.2, belum ada data pasti. WHO pada 15 Februari 2022 menyebutkan, berdasar pada data dari Denmark dan Inggris, pertumbuhan BA.2 lebih tinggi dari BA.1, kendati belum ada bukti BA.2 menimbulkan dampak kasus menjadi lebih berat.

Dampak pada pengobatan, belum ada informasi memadai untuk mengatakan, ada beda dampak pengobatan pada BA.2 dan jenis lainnya. WHO juga menyatakan, sejauh ini tak ada perbedaan akurasi diagnosis dengan PCR serta tes antigen dan antibodi.

 
Dampak pada pengobatan, belum ada informasi memadai untuk mengatakan, ada beda dampak pengobatan pada BA.2 dan jenis lainnya.
 
 

Kita tahu, pada varian omikron yang BA.2 punya hal spesifik, yaitu tak memiliki fenomena SGTF (“S gene target failure”). Pada mikron BA.1, ada fenomena SGTF sehingga pada hasil PCR yang positif, gen S-nya tidak terdeteksi (negatif).

Ini semacam pertanda awal kemungkinan mikron, lalu dilanjutkan sekuens genomik. Dengan tidak adanya SGTF, hasil PCR pada BA.2 sama saja dengan varian lainnya sehingga deteksi tidak adanya gen S tidak dapat digunakan lagi.

Bila BA.2 makin banyak di negara kita, perlu dipikirkan pemanfaatan PCR SGTF yang banyak digunakan untuk menentukan status “probable” omikron. Bukan tak mungkin perlu metode lain atau memperbanyak pemeriksaan “Whole Genome Sequencing”.

Penelitian di Jepang, “Virological characteristics of SARS-CoV-2 BA.2 variant” yang masih dalam analisis pakar memberi gambaran berbeda, dan hasil ini diberitakan di media internasional dan nasional sejak 17 dan 18 Februari 2022.

Hasil awal penelitian, BA.2 menyebar lebih cepat daripada BA.1 dan memengaruhi berbagai modalitas penanganan. BA.2 memungkinkan menyebabkan penyakit serius sebagaimana varian terdahulu, termasuk delta.

 
BA.2 memungkinkan menyebabkan penyakit serius sebagaimana varian terdahulu, termasuk delta.
 
 

BA.2 dapat menembus kekebalan yang dibentuk vaksin. Pemberian booster meningkatkan dan mengembalikan proteksi, juga dapat mengurangi sampai 74 persen kemungkinan sakit sesudah terinfeksi.

Penelitian di Jepang ini menyebut, pada infeksi BA.2 obat antibodi monoklonal seperti sotrovimab efektivitasnya turun.

Antisipasi

Menurut informasi, tampaknya BA.2 sudah ada di negara kita, tetapi jumlahnya masih kecil. Bagus kalau kita punya data lengkapnya. Tes dan telusur amat penting dan perluas pemeriksaan dengan “Whole Genome Sequencing” untuk mendeteksi varian ini.

Lebih baik, sekarang persiapkan antisipasi dan mitigasi. Kalau BA.2 ini memang lebih mudah menular, upaya 3M dan 5M jelas harus lebih ketat. Kita harus ubah pengertian “new normal” menjadi "now normal" di masyarakat.

Apalagi, kalau kelak memang ada perbedaan dalam derajat beratnya penyakit, persiapan rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya harus diwaspadai.

Selain itu, pemberian vaksin primer dan booster harus terus digalakkan sambil mempertimbangkan booster kedua bagi kelompok yang amat rentan. Apa pun yang terjadi dan tindakan yang akan dilakukan, harus berdasarkan bukti ilmiah sahih.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Kasus Covid-19 di DKI Mereda, Daerah Melonjak

Secara nasional, jumlah kasus harian Covid-19 menurun.

SELENGKAPNYA

Omikron Ada di Mana-Mana

Meluasnya omikron akan tidak tertahankan di negara mana pun atau di daerah mana pun.

SELENGKAPNYA