Kondisi para peserta Global Sumud Flotilla yang diculik Israel setibanya di Pelabuhan Ashdod, Rabu (20/5/2026). | X

Internasional

Peserta Global Sumud Flotilla Bebas

Peserta Global Sumud Flotilla akan dideportasi dari Turki ke negara masing-masing.

ISTANBUL — Seluruh aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) dan Freedom Flotilla Coalition (FFC) yang ditahan Israel dilaporkan telah dibebaskan dari fasilitas penahanan Ketziot. Kecuali satu warga Israel, semuanya sedang dalam proses deportasi melalui Turki.

Dalam pernyataan resminya, lembaga bantuan hukum Palestina, Adalah, mengatakan operasi Israel sejak pencegatan kapal di perairan internasional hingga penahanan para aktivis sipil merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. Menurut mereka, para peserta misi kemanusiaan mengalami penyiksaan sistematis, penghinaan, serta penahanan sewenang-wenang.

Pembebasan relawan ini disebut hasil kerja tim legal 100 lebih pengacara yang talh disiapkan panitia Global Sumud Flotilla.

Sebagian besar aktivis kini dipindahkan menuju Bandara Ramon untuk diterbangkan keluar dari wilayah Israel. Tim hukum Adalah disebut terus memantau proses pemindahan tersebut guna memastikan seluruh peserta flotilla dapat dideportasi tanpa penundaan lebih lanjut.

Meski sebagian besar aktivis asing telah memasuki tahap deportasi, proses hukum masih berlangsung terhadap seorang aktivis berkewarganegaraan Israel, Zohar Regev. Sidang terhadap Regev digelar di Pengadilan Magistrat Ashkelon.

Otoritas Israel menuduh Regev melakukan “masuk ilegal ke Israel”, “tinggal secara tidak sah”, serta berupaya menembus blokade Gaza. Namun Adalah menilai tuduhan tersebut bertentangan dengan fakta di lapangan.

photo
Kondisi para peserta Global Sumud Flotilla yang diculik Israel setibanya di Pelabuhan Ashdod, Rabu (20/5/2026). - (X)

Menurut tim hukum Adalah, Regev justru dibawa secara paksa oleh militer Israel dari perairan internasional menuju wilayah Israel saat sedang dalam perjalanan menuju Gaza bersama misi kemanusiaan untuk menentang blokade yang menyebabkan krisis kelaparan dan penderitaan warga Palestina.

Adalah menyatakan pihaknya kini mewakili Regev di pengadilan dan menuntut pembebasan segera tanpa syarat terhadap aktivis tersebut.

Panitia Global Sumud Flotilla juga menyampaikan sejumlah sumber diplomatik mengonfirmasi bahwa seluruh anggota GSF diperkirakan akan dibebaskan Israel hari ini. Mereka akan diterbangkan ke Istanbul, Turki, pada Kamis sore waktu setempat melalui bandara Umm Al Rashrash, yang oleh Israel dikenal sebagai Bandara Eilat/Ramon.

Informasi tersebut diterima Republika melalui grup Whatsapp keluarga kapal BoreLize. Mereka mengatakan kabar itu telah dikonfirmasi oleh sejumlah sumber, meski situasi di lapangan masih dapat berubah sewaktu-waktu.

Dalam catatan Tim Pelaporan Insiden GSF, para anggota GSF dijadwalkan diberangkatkan menggunakan tiga penerbangan carter Turkish Airlines yang akan lepas landas dari wilayah Palestina yang diduduki antara pukul 14.50 hingga 15.10 waktu Palestina.

Kondisi para peserta Global Sumud Flotilla yang diculik Israel setibanya di Pelabuhan Ashdod, Rabu (20/5/2026). - (X)  ​

Tiga nomor penerbangan yang disebut akan digunakan adalah TK6919, TK6921, dan TK6925.

Laporan itu juga menyebut penerbangan Turkish Airlines menuju bandara tersebut bukan merupakan rute reguler. Pemerintah Turki disebut menyewa penerbangan khusus untuk proses pemindahan anggota GSF ke Istanbul.

Selain itu, laporan tersebut menyinggung sejarah wilayah Umm Al Rashrash yang kini menjadi lokasi bandara. Menurut laporan GSF, bandara tersebut dibangun di atas tanah desa Palestina Umm Al Rashrash, yang penduduknya terusir dalam peristiwa Nakba pada 1948.

Sebelumnya, Israel dilaporkan akan mulai membebaskan sejumlah relawan Global Sumud Flotilla 2.0 hari ini waktu Israel. Langkah ini setelah Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez melayangkan kecaman keras atas perlakuan terhadap para relawan itu.

Perdana Menteri Pedro Sanchez mengecam video yang menampilkan menteri Israel Itamar ben Gvir “mempermalukan” peserta armada. ia mengatakan tindakan itu keterlaluan dan tak bisa diterima.

photo
Demonstran pro-Palestina melakukan aksi di Madrid, Spanyol, Kamis, 2 Oktober 2025, sebagai solidaritas dengan Global Sumud Flotilla setelah kapal-kapal dibajak angkatan laut Israel. - ( Foto AP/Bernat Armangue)

“Kami tidak akan mentolerir siapa pun yang menganiaya warga negara kami,” kata dia dalam unggahan di X.

Dia menegaskan larangan wilayah nasional terhadap Ben-Gvir yang dia umumkan pada September. “Sekarang kami akan mendorong Brussel agar sanksi ini segera ditingkatkan ke skala Eropa,” tulisnya.

Tak lama setelah kecaman itu, Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengumumkan sebanyak 44 aktivis Spanyol yang diculik Israel akan dideportasi ke Spanyol melalui Turki dalam penerbangan yang berangkat pada pukul 15.00, Kamis (21/5/2026) waktu Israel.

Pada Rabu, Albares mengutuk perilaku Israel terhadap aktivis armada tersebut, dan menyebut perlakuan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir terhadap mereka sebagai tindakan yang "mengerikan, tidak bermartabat, dan memalukan." 

Armada tersebut dicegat oleh Angkatan Laut Israel pada Selasa malam, dan 428 peserta dari lebih dari 40 negara ditahan.  Sekitar 90 aktivis yang ditahan mulai melakukan mogok makan, menurut Global Sumud Flotilla.

photo
Kapal Global Sumud Flotilla berlayar meninggalkan perairan Turki menuju perairan Internasional, Kamis (14/5/2026). Sebanyak 59 kapal GSF yang ditumpangi oleh sekitar 500 partisipan dari sekitar 50 negara resmi berlayar menuju perairan Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan, vitamin, kebutuhan bayi dan logistik lainnya. Republika/Thoudy Badai - (Thoudy Badai/Republika)

Pada Rabu, Ben-Gvir membagikan video dirinya melecehkan aktivis armada yang ditahan di Ashdod, yang langsung memicu kecaman baik secara internasional maupun dari pejabat Israel, dan menyebabkan beberapa negara, termasuk Spanyol, memanggil kuasa usaha Israel mereka.

Diplomat utama UE, Kaja Kallas, juga mengecam video yang menunjukkan Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir mengejek para aktivis ketika mereka dipaksa berlutut di lantai dengan tangan terikat di belakang punggung.

Kallas menggambarkan perlakuan terhadap para aktivis yang diculik sebagai tindakan yang “merendahkan dan salah” dan mengatakan bahwa tindakan Ben-Gvir “tidak pantas bagi siapa pun yang memegang jabatan di negara demokrasi”.

Beberapa negara – termasuk Italia, Perancis, Belanda, dan Kanada – telah memanggil duta besar Israel ke ibu kota mereka untuk menyatakan “kemarahan” atas perlakuan Israel terhadap aktivis armada Gaza.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat