Sejumlah peserta bertanding dalam babak grand final kompetisi eSport PUBG Mobile | ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA

Olahraga

Unjuk Gigi Pentolan Esport di PUBG Mobile

Esport diharapkan menjadi kreativitas siswa dan menginspirasi mereka untuk lebih giat belajar.

PUBG Mobile merupakan salah satu game esports paling populer. Permainan tersebut akan menjadi tuan rumah dua bintang League of Legends, Zachary 'Sneaky' Scuder dan Yiliang "Doublelift" Peng. Mereka akan bertemu dalam showmatch yang mendebarkan pada mode bertema Arcane, Mirror World.

Kedua bintang tersebut akan bekerja sama dengan pembuat konten League of Legends, antara Tyler 1 dan Yassuo. Juga dua pemain pro teratas PUBG Mobile antara Xifan dan Karnage, serta kreator Rolex dan Jacob Gaming. Mereka akan berhadap-hadapan dalam pertandingan yang juga diisi oleh 72 konten kreator PUBG Mobile populer lainnya.

Setiap mantan pemain pro akan memimpin tim beranggotakan 4 orang, bertarung di pulau terapung sebagai Jinx, Vi, Jayce, atau Caitlyn. Mereka yang jatuh akan kembali ke Erangel, berjuang untuk menang dalam pertandingan klasik. "Dua pertandingan akan menentukan pemenang, dengan skor dihitung untuk mengungkapkan tim yang paling dominan," demikian pernyataan PUBG Mobile.

Doublelift akan bergabung dengan Xifan dari PUBG Mobile, seorang pemain profesional Kanada untuk Nova Esports NA yang baru-baru ini meraih posisi ke-3 di PMPL: NA Season 2 Finals, dan Rolex, mantan pemain pro AS yang telah beberapa kali meraih peringkat pertama di turnamen tingkat atas.

Bergabung dengan mereka, akan menjadi konten kreator League of Legends Tyler1. Tim milik Sneaky akan didukung oleh Jacob Gaming, pemain PUBG Mobile yang terampil dan konten kreator populer, dan Karnage, pemain pro AS, dengan streamer Yassuo yang melengkapi skuad dengan pengetahuan mendalamnya di League of Legends.

Adapun Mirror World memperkenalkan elemen ekstensif dari dunia Arcane, serial animasi League of Legends baru, ke dalam PUBG Mobile termasuk lokasi, karakter, dan gameplay dari alam semesta yang tercinta. Pemain yang berhasil mendarat di Mirror Island dapat bermain sebagai Champion ikonik Jinx, Vi, Jayce, atau Caitlyn, serta menggunakan senjata dan skill unik untuk bertarung melawan pemain lain. The Mirror World Showmatch telah tayang perdana pada 18 Desember.

Esports masuk sekolah

Esports sudah diakui pemerintah sebagai cabang olahraga (cabor) prestasi. Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI) kini sudah menjadi anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat dan memiliki 34 pengurus provisin (pemprov). Artinya, sudah ada perwakilan di seluruh provinsi Indonesia.

Esports juga sudah dipertandingkan sebagai cabor ekshibisi pada PON Papua 2021. Pada PON selanjutnya, Esports akan menjadi cabor yang resmi dipertandingkan dan bukan sekadar ekshibisi lagi.

Untuk lebih memasyarakatkan Esports dan mencari bibit berbakat, PBESI kini tengah berjuang agar Esports menjadi kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah. 

Pengamat olahraga nasional Djoko Pekik Irianto mengatakan, PBESI harus bisa meyakinkan masyarakat bahwa kelak Esports masuk ekskul di sekolah, itu tidak akan mengganggu kognisi siswa.

Menurut Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori) ini, ekskul di sekolah harus bisa menjadi pijakan dalam mengawali niatan siswa untuk menjadi atlet. Dengan demikian, hobi yang terasah bisa menjadi hal berguna bagi masa depan masing-masing anak atau remaja di sekolah.

"Untuk melakukan pembibitan atlet, melalui sekolah memang tempatnya. Di sana adalah asal muasal atlet berbakat usia muda. Namun, PBESI harus mengkaji lebih bijak terkait Esports masuk ekskul sekolah," kata Djoko Pekik kepada Republika, Kamis (23/12).

"Harus ada riset dulu dari PBESI jika Esports masuk ekskul sekolah tidak merugikan kognisi pelajar. Karena, saat ini Esports identik dengan games yang bisa bikin anak kecanduan," ujarnya menambahkan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ESPORTS STAR INDONESIA (esportsstarindonesia)

Djoko Pekik menegaskan, harus ada penelaahan yang mendalam untuk meyakinkan orang tua siswa bahwa Esports benar-benar bermanfaat. "Bukan hanya orang tua, semua pihak, termasuk masyarakat, juga harus diyakinkan. Setelah ada kajian, nanti baru bisa diambil keputusan, apakah Esports layak atau tidak didorong jadi ekskul sekolah," kata dia.

Mantan deputi bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ini mengatakan, Esports punya kesamaan dengan cabor catur dan bridge. Pada dua cabor tersebut, selain skill, juga dibutuhkan kognisi. 

"Ekskul itu sifatnya minat dari siswa. Jadi, harus bisa meyakinkan sekolah kegiatan ini tidak akan mengganggu proses akademik. Mungkin bisa lebih mudah meyakinkannya karena ini ekskul, belum jadi kurikulum," ujar dia.

Sekretaris Jenderal PBESI, Frengky Ong, mengatakan, program ekskul telah bergulir mulai pekan lalu diawali dengan pelatihan bagi guru dan coach. Selanjutnya, ekskul esport akan ditujukan bagi peserta didik SMP, SMA, dan SMK.

"Kita coba memenuhi permintaan dari beberapa sekolah swasta yang sekarang ini sudah meminta kepada PBESI untuk ekstrakurikuler esport. Pada pekan lalu, kita baru melakukan suatu kegiatan pelatihan untuk guru-guru coach agar bisa berjalan sesuai dengan perencanaan dari PBESI dan tentunya sesuai standar-standar yang kita sudah buat," ujar Frengky.

Ia mengatakan, setiap pelatih ekskul esport wajib mengikuti pelatihan dan mendapatkan sertifikasi. Frengky menjelaskan, sertifikasi pelatih akan terdiri atas tiga tier, yakni lisensi A untuk tim profesional dan nasional, lisensi B untuk tim semi amatir dan akademi, dan lisensi C untuk tim amatir dan ekstrakurikuler.

"PBESI berkomitmen untuk terus mencetak lebih dari 200 pelatih baru setiap tahunnya untuk program ekstrakurikuler esport," kata dia.

 
PBESI berkomitmen untuk terus mencetak lebih dari 200 pelatih baru setiap tahunnya untuk program ekstrakurikuler esport
 
 

Ekstrakurikuler esport diharapkan dapat memperkenalkan industri digital kepada siswa didik, menjadi jembatan dunia pendidikan dengan esport, memberikan wawasan esport sebagai karier potensial, yang berujung pada regenerasi atlet esport Indonesia dari dunia pendidikan.

"Saat ini ekstrakurikuler esport masih berfokus di Pulau Jawa dimulai dengan sekolah swasta, sementara sekolah negeri harus menunggu tahun ajaran baru," kata dia.

Frengky mengatakan, PBESI telah melakukan penjajakan perjanjian dengan sekolah-sekolah swasta serta pendekatan pada persatuan orang tua murid.

"Kita juga bekerja sama dengan asosiasi-asosiasi orang tua. Tentunya sebelum masuk satu sekolah, kita mencoba me-meeting-kan bersama-sama bahwa program yang kita lakukan membawa manfaat ke depannya. Kita coba untuk mengurangi ekses-ekses negatif yang sekarang ada dalam esport," ujar Frengky.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat