Seorang dokter memperlihatkan vaksin Covid-19 Moderna untuk dosis ketiga (booster) bagi tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah Dumai, Riau, Selasa (24/8/2021). Kekurangan dokter dan relawan menghambat proses vaksinasi. | ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/foc.

Jakarta

26 Aug 2021, 17:37 WIB

Polisi Kekurangan Dokter dan Relawan Kawal Vaksinasi

Kekurangan dokter dan relawan menghambat proses vaksinasi.

JAKARTA -- Polres Metro Jakarta Barat mengakui sempat kekurangan tenaga dokter dan relawan untuk melakukan vaksinasi selama program "Vaksin Merdeka" pada sekitar pertengahan Juli 2021. Karena, banyak juga dari anggota kepolisian yang terpapar Covid-19.

"Kami sempat kekurangan. Jadi, empat gerai vaksin dijaga oleh satu dokter dan beberapa relawan. Ini terjadi pada pertengahan Juli lalu," kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Ady Wibowo, Rabu (25/8).

Praktik di lapangan, kata Ady, sempat waktu itu satu dokter mengawasi gerai vaksin secara bergantian dan berpindah tempat agar empat gerai ini bisa berjalan dengan mekanisme sesuai medis. Oleh karena itu, lanjutnya, pelayanan di beberapa gerai vaksin sempat terhambat karena dokter harus berpindah-pindah melayani masyarakat.

Bahkan, Kata Ady, satu gerai di Jakarta Barat sempat tidak memiliki dokter sehingga proses vaksinasi warga terhambat. "Ada satu satu posko, dokter tidak hadir sehingga satu dokter itu harus bisa menangani tiga sampai empat gerai. Itulah salah kendala saat itu," kata Ady.

Bukan hanya dokter, pihaknya juga kekurangan tenaga relawan yang bertugas di setiap gerai vaksin. Beberapa dari tenaga relawan tersebut tidak bisa bekerja secara penuh di gerai vaksin. "Mereka adalah relawan-relawan yang mendarmabaktikan waktu senggangnya sehingga tidak bisa tiap hari," ujar Ady.

Ady memastikan akan merekrut relawan dan berkoordinasi dengan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat terkait kebutuhan dokter di program vaksin massal tahap dua.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Barat Kristi Wathini mengatakan, sebanyak 1.300 tenaga kesehatan (nakes) dinyatakan sudah sembuh dari Covid-19. Tim garda terdepan tersebut terpapar saat puncak kasus Covid-19 di DKI Jakarta meninggi pada awal Juli lalu. "Jadi, ada 1.700 yang terpapar. Alhamdulillah sekarang 1.300 sudah sembuh, jadi tinggal 200-an nakes yang belum sembuh," kata Kristy.

Kristy menuturkan, jumlah sisa tenaga kesehatan yang masih terpapar Covid-19 menjalani isolasi pada beberapa rumah sakit yang tersebar di Jakarta.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Polda Metro Jaya (poldametrojaya)

Terinfeksi

Ady juga memaparkan, sebanyak 250 anggota Polres Metro Jakarta Barat terinfeksi Covid-19 selama gelombang kedua virus tersebut melanda Ibu Kota, tepatnya sejak akhir Juni hingga awal Agustus 2021. Semua aparat itu disebut tak mengalami gejala berat karena sudah divaksin.

"Kami sempat 250 orang anggota Polres yang positif Covid-19. Jadi, 20 persen (dari total) anggota," kata Ady.

Untungnya, lanjut Ady, tak ada satu pun anggotanya yang bergejala berat hanya gejala ringan hingga sedang. Bahkan, mereka sembuh dalam kurun waktu sepekan saja.

Ady meyakini, hal itu terjadi karena efek vaksin. Sebab, semua personel Polres Metro Jakarta Barat sudah mendapat suntik vaksin dosis lengkap merek Sinovac sebelum gelombang kedua melanda.

Maka itu, Ady berharap, masyarakat tak lagi enggan untuk divaksin, apalagi termakan hoaks soal bahaya vaksin. Sebab, vaksin yang diedarkan di Indonesia sudah dipastikan aman dan halal, baik itu Sinovac, Astrazeneca, Moderna, maupun Pfizer.


×