Penampakan Masjid Quba, masjid yang pertama dibangun Rasulullah SAW saat hijrah ke Madinah. | Reuters

Opini

Muhasabah Menghadapi Ujian

Kesabaran, keimanan, ketakwaan, yang dibarengi syukur adalah kunci kemenangan dan kejayaan. 

YAQUT CHOLIL QOUMAS, Menteri Agama RI

Kehidupan kita di dunia setiap harinya tak lekang dari peristiwa yang melingkupinya, termasuk sejumlah kejadian penting yang tercatat dalam sejarah.

Dari kejadian yang penting dan besar itu, kita dianjurkan untuk mengenang sekaligus bermuhasabah sebagai media pengingat dan wasilah bagi manusia dalam kerangka untuk melakukan instrospeksi serta memperbaiki diri.

Memeringati suatu kejadian juga berarti bagian melakukan muhasabah dan ikhtiar untuk mengambil hikmah, bukan lantas sekadar rutinitas kegiatan. Karena sejatinya di balik setiap kejadian, selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik.

Allah memerintahkan kita  selalu mengenang “hari-hari Allah”, yakni hari-hari Allah memberikan anugerah besar kepada manusia, baik berupa kemenangan, keselamatan dari bahaya maupun perubahan mendasar yang menjadi tonggak kebangkitan suatu kaum.

Allah Ta’ala berfirman, “...dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS Ibrahim: 5)

 
Allah memerintahkan kita  selalu mengenang “hari-hari Allah”, yakni hari-hari Allah memberikan anugerah besar kepada manusia, baik berupa kemenangan, keselamatan dari bahaya maupun perubahan mendasar yang menjadi tonggak kebangkitan suatu kaum.
 
 

Bulan Muharram diperingati umat Islam sebagai bulan hijrah. Ditilik dari sejarahnya, Rasulullah SAW dan para sahabatnya harus pergi meninggalkan kampung halaman beserta harta benda yang dimiliki menuju tempat baru yang lebih aman dan kondusif demi bisa menjalankan ibadah dan berdakwah.

Rasulullah SAW dan para sahabat hijrah ke Yatsrib (Madinah), meski sangat mencintai Kota Makkah sebagai kampung halaman mereka.

Namun, Allah memiliki kehendak lain. Allah menjadikan penduduk Kota Makkah saat itu memusuhi Rasulullah dan para sahabatnya. Allah membuat kehidupan Nabi dan sahabat mereka di Makkah tidak aman dan tidak nyaman sehingga mereka harus berhijrah.

Hijrahnya Rasulullah dan para sahabat dari kampung halaman yang dicintai ternyata justru menjadi tonggak perubahan dan kejayaan umat Islam di kemudian hari.

Kesabaran Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menjalani musibah dan ujian, serta kegigihan mereka dalam mempertahankan agama Allah, menjadi kunci pembuka pintu kemenangan dan kegemilangan.

Ayat Alquran di atas yang memerintahkan umat Islam mengingat hari-hari Allah dikaitkan dengan kesabaran dan syukur. Hal ini jelas menunjukkan, pertolongan Allah pasti diberikan kepada hamba-Nya yang selalu bersabar dan bersyukur dalam setiap keadaan. 

Ada kalanya seseorang atau suatu kaum harus kehilangan kenyamanan dan keamanan untuk melakukan perubahan. Sesuatu yang tidak kita sukai akan memaksa kita untuk berubah. Dan sering kali di balik perkara-perkara yang tidak disukai oleh manusia, terdapat hikmah yang sangat besar.

 
Ada kalanya seseorang atau suatu kaum harus kehilangan kenyamanan dan keamanan untuk melakukan perubahan.
 
 

Allah bisa saja memberikan kemenangan kepada Rasulullah SAW dan menganugerahkan kejayaan kepada umat Islam tanpa harus hijrah dulu dari Kota Makkah. Tetapi sunatullah tidak menghendaki demikian. Tidak ada kelulusan kecuali didahului oleh ujian. Tidak ada kemenangan kecuali didahului perjuangan. Demikianlah sunatullah.

Musibah, ujian, kesulitan, dan tantangan adalah sunatullah yang harus dihadapi manusia di dunia. Sabar menghadapi ujian artinya melakukan segala upaya tanpa putus asa untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Tentu, sambil terus berdoa.

Sedangkan bersyukur artinya selalu mengingat anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita semua, lalu memanfaatkan semua anugerah itu di jalan kebaikan.

Sikap sabar dan syukur ini sangat berkorelasi dengan situasi saat ini, di mana seluruh dunia menghadapi musibah dan ujian berupa pandemi yang belum kunjung usai.

Sudah selayaknya kita semua bermuhasabah dan instrospeksi. Barangkali, terlalu banyak nikmat dan anugerah Allah yang selama ini kita ingkari. Bisa jadi, ini adalah teguran dari Allah agar kita selalu mawas diri.

Mungkin kita selama ini terlena dengan segala macam kesenangan hingga kita lupa diri. Atau terlalu banyak nikmat dan anugerah yang kita lupa untuk mensyukuri.

Dalam muhasabah peringatan 1 Muharram 1443 H, atau bulan hijrah ini, kita semua perlu untuk mengambil pelajaran dan hikmah dari hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Bahwa kesabaran, keimanan, ketakwaan, yang dibarengi dengan syukur, adalah kunci pembuka pintu kemenangan dan kejayaan. 

 
Semoga kita bisa menghadapi ujian ini dengan penuh kesabaran dan optimisme. Menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur atas semua nikmat dan anugerah yang telah dilimpahkan untuk kita semua.
 
 

Pandemi Covid-19 saat ini adalah ujian besar sekaligus global. Sebagai ujian besar, tentu penanganannya membutuhkan sumber daya yang maksimal dan komprehensif.

Memang dalam pelaksanaannya, tentu banyak kebijakan yang terasa tidak melegakan karena ada berbagai pembatasan, pengetatan, protokol kesehatan dan lain sebagainya.

Namun situasi ini sejatinya adalah rangkaian ujian sebagaimana perjuangan berat Nabi Muhammad melalui beragam medan yang terjal dan penuh tantangan, ancaman serta penderitaan kala berhijrah ke Madinah.

Sebagai musibah global, pandemi ini jelas membutuhkan kesadaran dan tanggung jawab bersama. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, tentu meniscayakan sikap solidaritas tinggi, gotong royong, kolaborasi, dan sinergi.

Dengan cara itu, seberat apa pun perjuangan untuk mencapai kemenangan dan keselamatan jiwa bersama akan bisa diraih. Kita harus yakin bahwa Allah Maha Segalanya. Dan, pandemi ini justru kita jadikan tonggak dan momentum mencapai kemenangan serta kejayaan di masa depan.

Semoga kita bisa menghadapi ujian ini dengan penuh kesabaran dan optimisme. Menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur atas semua nikmat dan anugerah yang telah dilimpahkan untuk kita semua.

Lewat spirit hijrah, kita harus menjadi manusia yang beruntung, yakni manusia yang berumur panjang dan sehat dengan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat dan kemudian memperbaiki dengan amalan-amalan shalih.

Semoga pula pandemi yang kita hadapi ini segera berlalu. Dan kita segera diberikan kemenangan oleh Allah.

Terbebas dari pandemi dan menjadi hamba-hamba Allah yang lebih bersyukur, sebagaimana Rasulullah dan para sahabatnya mendapatkan kemenangan setelah menjalani masa-masa sulit yang dihadapi dengan penuh kesabaran.

Wallahu a'lam bishawab. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat