Pekerja memikul karung beras di Gudang Bulog Sub divre Ciamis, Sindangrasa, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Rabu (30/9). | ADENG BUSTOMI/ANTARA FOTO
26 Nov 2020, 02:30 WIB

Bulog Mitigasi Kelangkaan Beras

Aliansi petani meminta pemerintah memastikan persediaan benih untuk musim tanam pertama.

JAKARTA – Perum Bulog menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan pangan pokok bagi masyarakat. Hal ini dilakukan seiring dengan adanya proyeksi anomali cuaca La Nina. Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaluddin Iqbal mengatakan, perusahaan telah menyiapkan cadangan beras pemerintah di semua wilayah dengan alokasi 100 ton per kabupaten/kota dan 200 ton untuk level provinsi.

Selanjutnya, jalur logistik beras ke semua wilayah yang berpotensi terjadi bencana telah dimitigasi agar proses distribusi tetap berjalan. "Jadi itu konsentrasi Bulog terkait potensi bencana La Nina, tentu Bulog juga akan amankan seluruh aset seperti gudang penyimpanan agar tetap beroperasi," ujarnya kepada Republika, Rabu (21/10).

Penyerapan gabah setara beras oleh Perum Bulog kini telah menembus 1,02 juta ton. Realisasi tersebut setara 72,9 persen dari target Bulog tahun ini sebanyak 1,4 juta ton.

Awaluddin mengatakan, proses penyerapan hingga saat ini masih terus berlangsung meskipun tengah memasuki masa musim tanam. Dengan kata lain, masih terdapat produksi beras petani dengan harga yang normal sesuai aturan pemerintah untuk pembelian gabah.

Terkait

"Selama masih ada stok, kita terus melakukan penyerapan untuk menjaga harga di tingkat petani agar tidak jatuh," kata Awaluddin.

 
Tugas kita intinya mengamankan harga di hulu dan hilir dan ukuran harganya sesuai aturan Kementerian Perdagangan.
Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaluddin Iqbal
 

Ia menambahkan, target serapan beras sebanyak 1,4 juta ton hanya sebatas estimasi. Sebab, yang diutamakan adalah stabilisasi harga gabah di tingkat petani serta volume persediaan beras Bulog yang harus tersedia dalam rentang 1-1,5 juta ton. Saat ini, pasokan beras yang masih tersedia sekitar 1,2 juta ton.

Bulog saat ini tengah mendapatkan penugasan penyaluran bantuan sosial beras sebanyak 450 ribu ton kepada 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Adanya penugasan tersebut pun dinilai memberikan angin segar kepada Bulog karena memiliki ruang untuk kembali melakukan penyerapan beras petani dan disimpan di gudang.

"Tugas kita intinya mengamankan harga di hulu dan hilir dan ukuran harganya sesuai aturan Kementerian Perdagangan," ujarnya.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menyampaikan, kegiatan penyerapan beras memang harus terus dilakukan tanpa putus. Sebab, penyerapan beras oleh Bulog memiliki dampak psikologis terhadap harga yang biasa dipermainkan oleh tengkulak.

Musim tanam

Aliansi Petani Indonesia (API) meminta pemerintah memastikan persediaan benih untuk kebutuhan petani dalam musim tanam pertama akhir tahun ini hingga awal tahun depan. Ia mengatakan, persoalan benih pada musim tanam yang lalu masih terjadi sehingga berdampak pada buruknya hasil produksi.

Sekretaris Jenderal API Muhammad Nuruddin mengatakan, upaya dan sejumlah strategi pemerintah dalam memacu produksi padi pada musim tanam kali ini sudah maksimal. "Tapi itu baru dalam kerangka administrasi, ketersediaan benih masih agak meragukan," kata Nuruddin.

Menurut Nuruddin, untuk memastikan persediaan benih tidak sebatas pada validitas data calon penerima dan calon lokasi. Namun, perlu ada monitoring lanjutan sekaligus kesesuaian kualitas benih dengan yang dibutuhkan petani. Apalagi, pemerintah menargetkan adanya peningkatan produksi beras pada musim tanam kali ini.

"Ini harus dipastikan betul-betul. Masih ditemukan benih tapi itu bukan benih. Itu gabah yang diklaim benih dan hal seperti itu masih terjadi," kata Nuruddin.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menargetkan pada musim tanam pertama kali ini, penanaman padi mencapai seluas 8,2 juta hektare (ha). Pihaknya meminta jajaran Kementan bersama para petani untuk bisa mempersiapkan peningkatan luas tanam serta bisa terus menggenjot produksi.

photo
Petani menggulung jaring di lahan padi siap panen di persawahan Potorono, Bantul, Yogyakarta, Jumat (28/8). - (Wihdan Hidayat / Republika)

Pada Oktober target penanaman di atas lahan seluas 700 ribu ha. Lalu, pada November meningkat menjadi 900 ribu ha dan ditingkatkan kembali pada Desember menjadi 1,9 juta ha. Selanjutnya, pada Januari 2021 seluas 2,16 juta ha, Februari 1,2 juta ha, dan Maret 1,01 juta ha lahan.

“Nanti dibagi per kabupaten, per kecamatan dan per desa. Kita berharap besar dari 8,2 juta hektare lahan yang ditanami pada musim tanam pertama Oktober-Maret menghasilkan 20 juta ton beras,” kata Syahrul.

Syahrul pun meminta agar kebutuhan yang berkaitan dengan target tersebut seperti pengairan, benih, dan pupuk dapat tersedia. Mentan juga meminta kepada jajarannya agar menyiapkan benih untuk para petani demi memenuhi kebutuhan target pada musim tanam tersebut. “Benih 205 ribu ton lebih sudah harus dipersiapkan di mana tempatnya, di mana ambilnya, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia pun meminta agar imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai prediksi akan terjadi banjir besar di seluruh Indonesia pada bulan Desember-Januari diantisipasi semua pihak.

“Hati-hati dan persiapkan diri. Lakukan perencanaan yang tepat, manfaatkan yang ada secara efektif, lalu mapping wilayah banjir,” tuturnya. 


Terkini

,
×