Pelajar mengikuti peluncuran Gerakan #BijakBersosmed untuk Media Sosial Indonesia yang Lebih Baik, Jakarta, Sabtu (26/8). Gerakan ini merupakan inisiatif netizen yang didukung penuh Indosat Ooredoo, untuk mendorong dan menjaga penggunaan sosial media di I | Yasin Habibi/ Republika
04 Jun 2020, 16:42 WIB

Pisau Dua Sisi Sosial Media

Platform besar perlu menumbuhkan kesadaran ke pengguna mengenai kebenaran informasi.

Media sosial kini memiliki dampak dalam berbagai lini kehidupan. Pengaruhnya terasa nyata dalam berbagai lini, mulai dari cara interaksi dan bergaul dalam masyarakat, sampai berbisnis.

Chairman Social Media Week (SMW) Jakarta Antonny Liem mengatakan, masyarakat perlu menyesuaikan diri dengan kondisi itu. Karena, hidup di masa digital adalah era yang terintegrasi dan saling terhubung.

Saat ini, tidak ada hal yang tidak berkaitan dengan media sosial. Bahkan, semua orang bisa menjadi influencer yang akan memberikan pengaruh positif maupun negatif ke lingkungan sekelilingnya.

Teknologi dan inovasi makin memperbesar peluang bagi pengguna media sosial berbagi tentang ceritanya masing-masing. Pengaruh yang besar itu tentu seiring dengan tanggung jawab yang juga besar.

Terkait

Senada, Chief Executive Officer PT Merah Cipta Media itu menyebut media sosial sebagai pisau dengan dua sisi. "Media sosial itu platform, ibarat alat, seperti pisau yang bisa dipakai buat membunuh, bisa juga untuk survive," kata Antonny kepada Republika.

Misalnya, menyebarkan konten yang bernilai edukatif, positif, inspiratif, dan bermanfaat. Pengguna media sosial juga bisa mendapat informasi dengan lebih cepat. Platform media sosial yang mudah diakses melalui telepon genggam akan makin membuat manusia terkoneksi secara global.

Begitu pula jenama, instansi, dan lembaga, bisa memanfaatkan media sosial untuk menjangkau audiens dan konsumen. Hal itu tentunya membuat kedekatan dengan audiens semakin besar.

Sebaliknya, media sosial juga bisa menimbulkan dampak negatif sekaligus menyesatkan. Menyebarnya berita bohong alias hoaks akan menyebabkan terjadinya disinformasi dan misinformasi.

Tak sedikit oknum yang sengaja membentuk persepsi dan opini publik demi kepentingan segelintir orang. Tindakan di dunia maya itu kemudian akan berdampak langsung ke dunia nyata, baik aspek politik dan nonpolitik.

Media sosial juga bisa dijadikan senjata bagi politisi nakal atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Antonny mencontohkan, aksi negatif kampanye hitam pada pemilihan umum di sejumlah negara.

Kasus lain bahkan lebih serius sampai menghilangkan nyawa manusia. Antonny menyebutkan, pernah terjadi peristiwa di India ketika kerumunan massa emosi dan membunuh seseorang akibat termakan hoaks.

Oleh sebab itu, Antonny menegaskan per lunya warganet mengetahui cara bersikap dan beretika dalam penggunan media sosial. Sudah selayaknya pula warganet meninjau ulang konten yang akan dia bagikan.

Sadar bermedia sosial Berbagai hal seputar media sosial dan pengaruh digital itu diulas pada pekan media sosial SMW Jakarta 2019. Antonny me ngatakan, masyarakat perlu lebih me ning katkan kesadaran bermedia sosial. "Bagaimana menggunakan media sosial dengan baik dan benar, tanggung jawab menyebarkan konten positif dengan cara men didik merupakan tanggung jawab bersama," kata Antonny.

Cara mudah yang bisa dilakukan warga net adalah mencari tahu kebenaran suatu in for masi terlebih dahulu. Hal ini penting diketahui sebelum kemudian membagikan ulang informasi yang didapat dari media sosial.

Pengguna dan konsumen yang terbiasa berpikir kritis serta skeptis sekalipun tetap dapat memberikan andil kepada masyarakat luas. Paling tidak, menjadi upaya pencegahan kabar bohong tersebar supaya tak makin meluas.

Menurut Antonny, pergeseran nilai akibat media sosial berkaitan dengan cara manusia memandang platform. Jika dahulu media sosial sekadar dianggap sebagai have fun, tidak demikian sekarang.

Dia berpendapat, di awal kemunculannya, media sosial disikapi seperti komik yang hanya dibaca untuk menghibur diri. Saat ini, media sosial justru tak bisa terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern.

Pergeseran itu perlu disikapi dengan bertanggung jawab. Karena, apa pun yang dibagikan seseorang di media sosial akan memiliki rekam jejak digital dan terus ada. "Efek lanjutannya, kita tidak pernah tahu. Bisa jadi, satu postingan ngaco efeknya jadi ke mana-mana," ucap Antonny.

Menurutnya, tanggung jawab pengguna perlu sejalan dengan tanggung jawab penge lola media sosial. Ia menilai, deretan perusahaan media sosial sudah berupaya melakukannya.

Sejumlah platform terus memperbaiki algoritmenya, sehingga menghindarkan efek negatif yang mungkin terjadi. Akan tetapi, pada saat yang sama perusahaan tidak bisa menihilkan semua hal negatif.

Paling tidak, kata Antonny, platform-platform besar menumbuhkan kesadaran kepada pengguna mengenai kebenaran sebuah informasi. Begitu pula dengan peringatan apabila pengguna mengunggah hal-hal yang tidak sepatutnya.

Platform yang menurut dia sudah melakukan itu termasuk Google dan Facebook. Begitu pula Twitter yang menyatakan sudah tidak mau menerima iklan bernuansa politik.

Sementara, terkait perilaku konsumtif dan kompetitif, Antonny beranggapan, hal itu kembali kepada tiap pengguna. Menurut dia, tanggung jawab platform harus selaras dengan warganet. "Platform harus lebih banyak mengedukasi pengguna, mungkin itu yang belum dilakukan secara agresif, tapi pengguna tidak bisa sepenuhnya mengandalkan mereka," ucapnya.

Manfaatkan dengan Bijaksana

photo
Media sosial - (Pixabay)

Memiliki pengikut yang banyak di media sosial bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan dan pemikiran kita secara efektif. Figur publik Nadya Hutagalung termasuk salah satu tokoh yang bijak menggunakan media sosial.

Nadya sadar bahwa apa pun yang dia bagikan bisa memiliki dampak terhadap banyak orang. Duta lingkungan PBB itu kerap membagikan unggahan mengenai pelestarian lingkungan lewat akun media sosial pribadi. Begitu pula dengan berbagai nilai-nilai positif lain yang dia anut.

Misalnya, menyetop penggunaan plastik atau kampanye menekan polusi udara dan penyediaan air bersih. Nadya juga membagikan berbagai aktivitasnya dalam organisasi Let Elephants Be Elephants (LEBE).

Menurut Nadya, konten yang layak dibagikan adalah yang membangkitkan kesadaran bagi masyarakat luas. Kesadaran itu bisa mengenai situasi apa saja yang terjadi di dunia.

Berapapun jumlah pengikut di media sosial, sejatinya setiap orang bisa menjadi influencer. Gambar, foto, video, atau sekadar kalimat dalam status media sosial tetap bisa menginspirasi orang lain.

Media sosial, lanjut dia, juga bisa menghubungkan orang kepada gagasan pergerakan. Bukan cuma pemerintah yang punya kekuatan bersuara, melainkan juga perusahaan, jenama, komunitas, bahkan ibu rumah tangga. "Yang terpenting adalah jangan unggah kebahagiaan palsu. Media sosial harus digunakan dalam hal positif, sekaligus jujur," kata pembawa acara keturunan Batak-Australia itu.

Nadya juga menyoroti pentingnya kurasi konten yang muncul di lini masa. Dia tidak sungkan berhenti mengikuti akun lain dengan konten yang membuatnya memiliki perasaan negatif atau merasa tidak percaya diri.

Bukan tidak mungkin pengguna media sosial memiliki perilaku kompetitif dan konsumtif akibat informasi yang terus menerpa. Karena itu, Nadya sepakat dengan keputusan salah satu media sosial yang berusaha menekan dampak tersebut.

Saat ini, Instagram tengah melakukan uji coba tampilan privat jumlah angka likepada unggahan. Setelah uji coba di Australia, Brasil, Kanada, Irlandia, Italia, dan Selandia Baru, Instagram memperluasnya ke Indonesia.

Dengan begitu, pengguna tidak terpaku pada jumlah orang yang menyukai unggahannya. Menurut Nadya, hal itu baik untuk menjaga kesehatan mental generasi muda. "Dengan hilangnya jumlah like, pengguna akan mengunggah sesuatu yang sesuai prinsip, kompas moral, dan apa yang mereka pedulikan, bukan untuk bersaing dan berkompetisi," ujar Nadya.  

Pemanfaatan media sosial yang tepat akan berdampak positif bagi diri sendiri dan orang lain.
ANTONNY LIEM, Chairman Social Media Week (SMW) Jakarta 


×