Internasional
Pertaruhan Trump di Pemilu Sela AS
Sejumlah survei menunjukkan keunggulan Partai Demokrat.
WASHINGTON – Jutaan warga Amerika Serikat (AS) mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) pada Selasa (3/11/2026) untuk mengikuti pemilihan paruh waktu atau midterm elections. Pemilu kali ini menjadi ujian besar bagi Presiden Donald Trump sekaligus referendum terhadap kinerja pemerintahannya selama menjalani periode kedua di Gedung Putih.
Pemilu tersebut akan menentukan penguasaan Partai Republik dan Partai Demokrat atas dua kamar Kongres AS, yakni Senat dan House of Representatives (DPR). Saat ini, kedua lembaga legislatif tersebut masih dikuasai Partai Republik. Hasil pemilu berpotensi mengubah peta kekuatan politik Washington dan menentukan seberapa jauh Trump dapat menjalankan agenda pemerintahannya hingga akhir masa jabatan.
Dikutip dari The Guardian, Selasa (3/11/2026), Partai Demokrat berharap tingkat popularitas Trump yang terus merosot dapat menjadi momentum untuk merebut kembali mayoritas di Kongres. Mereka mengincar gelombang kemenangan yang dikenal sebagai blue wave, yakni dominasi suara Partai Demokrat dalam pemilu.
Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih cenderung kehilangan kursi di Kongres dalam pemilu paruh waktu. Demokrat berharap kecenderungan tersebut kembali terjadi dan menjadi kesempatan untuk membatasi kekuasaan Trump yang selama ini dinilai terlalu leluasa.
Selama periode kedua pemerintahannya, Trump menjalankan sejumlah kebijakan kontroversial, mulai dari operasi besar-besaran penindakan imigran dan deportasi, perang terhadap Iran, penerapan tarif impor terhadap produk asing, hingga proyek pembangunan ballroom di Gedung Putih.
Sejumlah survei menunjukkan Demokrat memiliki peluang lebih besar untuk merebut kembali DPR. Namun, persaingan di Senat diperkirakan lebih berat. Demokrat menargetkan sejumlah kursi yang selama ini dikuasai Republik, termasuk di Ohio, Texas, dan Maine.
Survei terakhir New York Times dan Siena University yang diterbitkan pada Ahad (1/11/2026) menunjukkan kandidat Demokrat unggul dalam lima dari tujuh daerah pertarungan utama. Dua di antaranya adalah Texas dan Kansas, negara bagian yang tidak pernah mengirimkan senator Demokrat ke Senat sejak masing-masing 1988 dan 1932.
Di Michigan, persaingan internal Demokrat justru memunculkan gejolak. Anggota Kongres dari Demokrat, Haley Stevens, yang kalah dalam pemilihan pendahuluan calon senator melawan Abdul El-Sayed, justru memberikan dukungan kepada rival Republik El-Sayed, Mike Rogers.
Keputusan Stevens menuai kecaman dari sesama anggota Demokrat. Pemimpin minoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menyebut dukungan tersebut sebagai pengkhianatan yang memalukan.
El-Sayed sebelumnya juga terlibat perselisihan dengan kelompok pendukung kampanye yang menyalahkan tingginya biaya hidup di AS akibat dukungan Washington terhadap Israel.
Kontroversi lain muncul di Alaska. Kampanye kandidat senator Demokrat Mary Peltola dilaporkan terlibat dalam upaya merekrut kandidat dengan nama hampir serupa dengan senator Republik yang menjadi lawannya, Dan Sullivan. Peltola membantah mengetahui adanya skema tersebut.
Departemen Kehakiman AS bahkan sempat mengajukan gugatan untuk menghalangi pengesahan hasil pemilihan Senat di Alaska apabila kandidat Republik kalah. Gugatan itu didasarkan pada dugaan kebingungan pemilih akibat kemunculan dua kandidat dengan nama hampir sama. Namun, seorang hakim kemudian menolak gugatan tersebut.
Popularitas Trump Merosot
Trump sendiri menjadikan pemilu paruh waktu ini sebagai pertaruhan politik pribadinya. Dia berkeliling AS menghadiri puluhan kampanye untuk menggalang dukungan bagi kandidat Partai Republik. Trump bahkan meminta para pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) untuk memilih kandidat Republik seolah-olah namanya sendiri tercantum dalam surat suara.
Namun, popularitas Trump justru mengalami kemerosotan. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan tingkat persetujuannya hanya berada di kisaran 33 hingga 37 persen.
Demokrat memanfaatkan situasi tersebut dengan mengangkat isu korupsi, meningkatnya biaya hidup, serta dampak perang Iran terhadap perekonomian Amerika.
Survei Harris untuk The Guardian menemukan sebanyak 76 persen responden menilai para pejabat terpilih lebih peduli memperkaya diri sendiri ketimbang memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat.
Isu tersebut semakin sensitif setelah pengungkapan dokumen etik pemerintah menunjukkan Trump telah memperoleh sekitar 2,2 miliar dolar AS sejak kembali ke Gedung Putih. Pendapatan itu termasuk royalti dari mata uang kripto meme coin yang menggunakan namanya.
Sementara itu, perang dengan Iran yang dilancarkan Trump bersama Israel pada Februari lalu turut memperburuk tekanan ekonomi. Konflik tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang kemudian berdampak pada harga bahan bakar kendaraan, solar untuk rantai pasok, hingga biaya produksi sektor pertanian.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan janji kampanye Trump pada pemilihan presiden 2024 yang berkomitmen menekan biaya hidup masyarakat Amerika.
Bayang-bayang Sengketa Hasil Pemilu
Pemilu kali ini juga berlangsung di tengah kekhawatiran mengenai kemungkinan Trump menolak hasil pemilihan apabila Partai Republik mengalami kekalahan.
Departemen Kehakiman AS berencana mengerahkan 1.000 pemantau pemilu ke berbagai TPS di seluruh negeri. Langkah tersebut menuai kritik karena dinilai berpotensi mengintimidasi pemilih.
Pemerintahan Trump juga menghadapi tudingan berupaya memperluas campur tangan pemerintah federal terhadap penyelenggaraan pemilu yang secara konstitusional menjadi kewenangan negara bagian.
Sejumlah pihak menyoroti langkah Departemen Kehakiman yang menangani berbagai gugatan terkait dugaan pemilih bukan warga negara AS. Para pengkritik menilai tuduhan mengenai kecurangan pemilih secara massal tersebut tidak memiliki dasar kuat.
Dengan demikian, pemilu paruh waktu 2026 bukan sekadar pertarungan memperebutkan kursi legislatif. Hasilnya akan menjadi gambaran sejauh mana publik Amerika masih memberikan kepercayaan kepada Trump, sekaligus menentukan apakah dua tahun terakhir pemerintahannya akan berlangsung dengan dukungan Kongres atau justru menghadapi perlawanan politik yang lebih kuat.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
