Garudafood bersama Sekolah Relawan menyalurkan bantuan kepada santri Pondok Pesantren Cahaya Qur’an di Kabupaten Bogor dalam rangka Hari Santri Nasional. | Istimewa

Khazanah

Santri Tunanetra Butuh Dukungan Pendidikan dan Kemandirian

Kesempatan belajar setara perlu diikuti penguatan keterampilan.

BOGOR -- Akses pendidikan bagi santri penyandang disabilitas tidak hanya membutuhkan fasilitas belajar yang sesuai, tetapi juga dukungan terhadap kebutuhan dasar dan pengembangan keterampilan. Pendekatan tersebut penting agar santri memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, berkarya, dan membangun kemandirian.

Pondok Pesantren Cahaya Qur’an di Kabupaten Bogor menjadi salah satu pesantren yang mendampingi anak-anak penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Berdiri sejak 2013, pesantren tersebut kini membina 60 santri berusia 6–20 tahun yang belajar Al-Quran menggunakan metode Braille sekaligus mengikuti pendidikan umum dan keterampilan.

Kepala Pondok Pesantren Cahaya Qur’an Firman Sukmawirya mengatakan, sebagian besar santri berasal dari keluarga prasejahtera. Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan sehari-hari menjadi salah satu tantangan selain penyediaan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan santri.

“Mayoritas santri kami berasal dari keluarga yang kurang mampu. Donasi ini sangat berarti bagi kebutuhan sehari-hari dan memberi semangat bagi anak-anak,” ujar Firman, Senin (26/10/2026).

Momentum Hari Santri Nasional tahun ini turut dimanfaatkan Garudafood bersama Sekolah Relawan untuk menyalurkan bantuan kepada sekitar 1.000 santri dan pengasuh di 10 pondok pesantren di Jawa Barat dan Banten. Pondok Pesantren Cahaya Qur’an menjadi salah satu penerima bantuan berupa sembako dan perlengkapan ibadah.

Head of Corporate Communication and External Relations Garudafood Dian Astriana mengatakan, santri penyandang disabilitas perlu memperoleh kesempatan yang setara untuk berkembang. Menurut dia, dukungan tidak hanya dapat diberikan melalui bantuan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga melalui aktivitas yang melatih kreativitas dan keterampilan.

“Hari Santri merupakan momentum untuk mengapresiasi semangat, ketekunan, dan kontribusi para santri dalam membangun bangsa, termasuk santri istimewa, teman-teman difabel yang terus belajar dan berkarya,” ujar Dian.

Dalam kegiatan tersebut, para santri juga mengikuti aktivitas menanam menggunakan kids garden kit, melukis, serta pembelajaran bahasa isyarat. Sebanyak 20 relawan Sekolah Relawan mendampingi santri dalam sejumlah kegiatan tersebut.

Aktivitas menanam dan melukis digunakan untuk mengenalkan tekstur, bentuk, serta elemen di sekitar melalui pengalaman langsung. Kegiatan menanam juga menjadi pengenalan awal terhadap keterampilan yang dapat dikembangkan untuk mendukung kemandirian pesantren.

Bantuan lainnya disalurkan kepada sembilan pondok pesantren yang tersebar di Bogor, Sukabumi, Depok, dan Lebak. Santri di pesantren tersebut menerima bantuan produk kebutuhan konsumsi.

Dukungan terhadap santri penyandang disabilitas pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Akses pendidikan yang inklusif, pengembangan keterampilan, dan lingkungan yang memberi kesempatan setara menjadi unsur penting agar mereka dapat berkembang lebih mandiri.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat