Kepala BPKS Iskandar Zulkarnaen dan Ketua Umum ASPRINDO Jose Rizal menandatangani nota kesepahaman pengembangan Pelabuhan Sabang menuju pelabuhan ramah lingkungan di Graha Jorindo, Jakarta, Senin (26/10/2026). | Istimewa

Ekonomi

Pelabuhan Sabang Disiapkan Jadi Green Port

Kedalaman perairan menjadi modal menarik kapal besar.

JAKARTA -- Pengembangan pelabuhan ramah lingkungan atau green port menjadi salah satu strategi meningkatkan daya saing logistik Indonesia di jalur perdagangan internasional. Pelabuhan Sabang di Aceh dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai pusat logistik dan perdagangan di kawasan Selat Malaka dengan memanfaatkan kedalaman perairan serta penerapan teknologi yang lebih efisien.

Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) menggandeng Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (ASPRINDO) untuk mengembangkan dan mengoptimalkan pemanfaatan Pelabuhan Sabang. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan infrastruktur, penjajakan investasi, peningkatan aktivitas logistik, serta penerapan prinsip pelabuhan ramah lingkungan.

Kesepakatan dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Kepala BPKS Iskandar Zulkarnaen dan Ketua Umum ASPRINDO Jose Rizal di Graha Jorindo, Jakarta, Senin (26/10/2026). Penandatanganan turut dihadiri Ketua Dewan Pembina ASPRINDO Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi.

Iskandar mengatakan, Pelabuhan Sabang memiliki keunggulan geografis karena berada di jalur strategis Selat Malaka. Kedalaman perairannya mencapai 20 hingga 40 meter sehingga dinilai berpotensi melayani kapal berukuran besar hingga 300 ribu deadweight tonnage (DWT) tanpa membutuhkan pengerukan.

Menurut dia, karakteristik tersebut menjadi modal untuk meningkatkan kapasitas pelayanan pelabuhan dan menarik aktivitas perdagangan internasional. Namun, pengembangan pelabuhan juga memerlukan peningkatan efisiensi operasional dan pengelolaan lingkungan agar mampu bersaing dengan pusat logistik regional.

"Kerja sama ini menjadi momentum untuk menjadikan Sabang sebagai pelabuhan modern, efisien, dan berkelanjutan," kata Iskandar.

Pengembangan green port akan mencakup penggunaan teknologi ramah lingkungan, pengelolaan limbah, serta efisiensi energi dalam kegiatan operasional pelabuhan. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi pelayanan kapal dan aktivitas logistik.

Selain itu, kedua pihak akan menyusun kajian bersama dan rencana induk pengembangan Pelabuhan Sabang. Dokumen tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan infrastruktur, peluang investasi, dan tahapan pelaksanaan pengembangan kawasan.

Dari sisi investasi, kerja sama meliputi penyelenggaraan forum investasi serta business matching untuk mempertemukan calon investor domestik dan internasional. Penjajakan tersebut juga mencakup pemanfaatan infrastruktur pelabuhan, fasilitas penunjang logistik, serta peluang pengembangan jalur perdagangan.

Ketua Umum ASPRINDO Jose Rizal menilai posisi geografis Sabang memberikan peluang untuk meningkatkan peran Indonesia dalam jaringan perdagangan kawasan. Meski demikian, potensi tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur, kepastian usaha, dan ekosistem logistik yang memadai.

"Sabang bisa menjadi hub industri dan logistik. Yang dibutuhkan adalah infrastruktur, ekosistem, dan kepastian usaha," ujar Jose.

Menurut Jose, keterlibatan pelaku usaha diharapkan dapat membuka peluang investasi yang mendukung pengembangan kawasan pelabuhan. Penguatan konektivitas dan fasilitas logistik juga diperlukan agar Sabang dapat menarik aktivitas perdagangan yang selama ini terkonsentrasi pada sejumlah pelabuhan utama di kawasan.

Kerja sama pengembangan pelabuhan ini berkaitan dengan rencana pemanfaatan energi panas bumi di Sabang. Sebelumnya, ASPRINDO telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Sabang dan PT Pembangunan Sabang Mandiri untuk merencanakan pengelolaan energi listrik berbasis panas bumi atau geotermal.

Pengembangan sumber energi tersebut berpotensi mendukung kebutuhan listrik kawasan sekaligus membuka peluang penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan. Namun, realisasinya masih membutuhkan kajian teknis, kesiapan infrastruktur, dan kepastian investasi.

Ketua Dewan Pembina ASPRINDO Fachrul Razi menyambut kerja sama tersebut sebagai langkah pengembangan ekonomi kawasan barat Indonesia. Peningkatan aktivitas pelabuhan dinilai berpeluang membuka kegiatan usaha baru yang berkaitan dengan perdagangan dan logistik.

Meski telah mencapai kesepakatan awal, kerja sama BPKS dan ASPRINDO masih berada pada tahap nota kesepahaman. Pelaksanaan proyek, kebutuhan pembiayaan, serta pembagian tanggung jawab akan ditetapkan melalui perjanjian lanjutan berdasarkan peta jalan yang disepakati kedua pihak.

Dengan demikian, realisasi pengembangan Pelabuhan Sabang sebagai green port masih bergantung pada hasil kajian, kesiapan investor, dan pelaksanaan proyek infrastruktur. Keberhasilan pengembangannya akan ditentukan oleh kemampuan menarik aktivitas logistik secara berkelanjutan sekaligus memenuhi standar pengelolaan lingkungan.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat