Ekonomi
Riset Ungkap QRIS Dominasi Transaksi Dompet Digital
Kemudahan transaksi kini menjadi pembeda utama dompet digital.
JAKARTA — QRIS menjadi fitur dompet digital yang paling banyak digunakan konsumen, menunjukkan pembayaran berbasis kode respons cepat telah menjadi salah satu kebutuhan utama dalam transaksi sehari-hari. Di tengah penggunaan yang makin matang, kemudahan, kecepatan, jaringan merchant, hingga biaya dan promosi ikut menentukan pilihan konsumen terhadap layanan dompet digital.
Temuan tersebut tercatat dalam riset MarkPlus bertajuk “E-Wallet Research 2026: Usage Behavior & QRIS Landscape” yang melibatkan 400 responden di sejumlah kota di Indonesia. Sebanyak 90,3 persen responden tercatat telah menggunakan dompet digital selama lebih dari dua tahun.
Riset menunjukkan 85,3 persen responden menggunakan QRIS melalui dompet digital. Fitur lain yang banyak digunakan adalah transfer uang ke rekening bank atau dompet digital sebesar 77,3 persen, belanja daring 70,8 persen, serta pembelian produk digital 69 persen.
Chief Marketing Officer MarkPlus Corp (MCorp) Yosanova Savitry mengatakan, konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan kemudahan dan kecepatan transaksi. Fleksibilitas layanan serta manfaat finansial dalam penggunaan sehari-hari juga semakin diperhitungkan.
“Kemudahan dan kecepatan transaksi tetap menjadi faktor penting, tetapi konsumen juga mengharapkan fleksibilitas layanan serta manfaat finansial nyata yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Yosanova dalam konferensi pers MCorp Industry Update, Jumat (23/10/2026)
Di antara responden yang sering menggunakan QRIS, sebanyak 80,8 persen menempatkan kemudahan dan kecepatan transaksi sebagai pertimbangan dalam memilih dompet digital. Luasnya jaringan merchant menjadi pertimbangan bagi 54,4 persen responden, sedangkan promosi dan cashback dipilih 51,3 persen.
Sebanyak 30 persen responden yang sering menggunakan QRIS juga mempertimbangkan ketersediaan berbagai pilihan sumber dana. Menurut Yosanova, hal tersebut menjadi peluang bagi penyedia dompet digital untuk menawarkan fleksibilitas pembayaran tanpa mengurangi kemudahan transaksi.
“Temuan ini menjadi peluang bagi penyedia layanan untuk menjawab kebutuhan pembayaran yang semakin beragam dengan memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen, tanpa mengurangi kemudahan dan kepraktisan transaksi,” ujar Yosanova.
Selain QRIS, transfer dana menjadi fungsi penting lain dari dompet digital. Sebanyak 77,3 persen responden menggunakan layanan tersebut untuk mengirim uang ke rekening bank maupun sesama dompet digital sehingga biaya administrasi dan kemudahan proses ikut menjadi pertimbangan.
Untuk pembelian produk digital seperti pulsa, paket data, dan token listrik, sebanyak 69 persen responden memanfaatkan dompet digital. Harga yang kompetitif menjadi pertimbangan bagi 65,6 persen responden dalam memilih layanan untuk kebutuhan tersebut.
Promosi juga masih berpengaruh terhadap preferensi konsumen. Namun, Yosanova menilai efektivitasnya dalam jangka panjang bergantung pada relevansi penawaran dengan kebutuhan transaksi sehari-hari.
“Seiring dengan semakin selektifnya konsumen dalam memilih dompet digital, penyedia layanan perlu menghadirkan manfaat lebih dari sekadar promosi sesaat, melalui penghematan yang konsisten serta layanan yang praktis dan dapat diandalkan,” ujar Yosanova.
Dalam persaingan merek, ShopeePay tercatat sebagai dompet digital yang paling sering digunakan oleh 40 persen responden, diikuti GoPay 34,3 persen dan DANA 15,3 persen. ShopeePay juga menjadi layanan yang paling sering digunakan untuk transaksi QRIS oleh 40,5 persen responden pengguna QRIS, disusul GoPay 32,6 persen dan DANA 16,1 persen.
Riset tersebut turut memetakan penggunaan layanan kredit digital. Sebanyak 86,5 persen responden menyatakan pernah menggunakan fitur kredit digital dan 90,8 persen di antaranya pernah menggunakan PayLater.
Perubahan perilaku tersebut menunjukkan persaingan dompet digital semakin ditentukan oleh kegunaan dalam transaksi sehari-hari. Ketika QRIS telah menjadi fitur yang lazim, kemudahan penggunaan, pilihan sumber dana, biaya transaksi, jaringan penerimaan, dan manfaat yang konsisten menjadi pembeda bagi konsumen.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
