Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Pangkalan AS ini jadi salah satu yang diporakporandakan Iran. | Citra Satelit

Internasional

Pasukan AS Mulai Cabut dari Timur Tengah

Iran kembali ancam serang pangkalan AS di kawasan.

WASHINGTON — AS dilaporkan mulai mengurangi kehadiran personel militernya di sejumlah pangkalan di Timur Tengah, salah satu syarat gencatan senjata yang sebelumnya diajukan Iran. Pada saat yang sama, pemerintah AS memerintahkan sejumlah diplomat nonesensial beserta keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi.

NBC News melaporkan pengurangan personel militer AS di sejumlah pangkalan di Timur Tengah dengan mengutip dua pejabat AS. Departemen Luar Negeri AS juga mengambil langkah untuk mengurangi jumlah personel di sejumlah perwakilan diplomatik di kawasan tersebut.

Langkah itu berlangsung di tengah meningkatnya ancaman keamanan dan kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik di Timur Tengah. Namun, pengurangan personel militer tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa Washington telah memutuskan untuk melancarkan operasi militer baru.

Reuters melaporkan pada Rabu (21/10/2026), Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan pegawai pemerintah non-esensial dan anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, menyatakan perintah tersebut secara resmi berlaku untuk personel di Arab Saudi.

Menurut Pigott, keputusan itu diambil menyusul meningkatnya ancaman serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap sasaran sipil dan infrastruktur penting di Arab Saudi.

photo
Tim pembawa Angkatan Darat AS memindahkan jenazah tentara AS yang tewas akibat balasan Iran di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, AS, 9 Maret 2026. - (EPA/JASON MINTO/US AIR FORCE)

“Kelompok Houthi yang didukung Iran semakin meningkatkan permusuhan terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya yang mengakibatkan korban sipil serta gangguan perjalanan yang serius,” demikian pernyataan Pigott sebagaimana dikutip Reuters.

Situasi keamanan di Arab Saudi memburuk setelah serangkaian serangan menyasar fasilitas penting negara tersebut. Otoritas setempat melaporkan serangan di Bandara Internasional King Fahd di Dammam yang menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya.

Sebelumnya, Kementerian Energi Arab Saudi melaporkan dua orang tewas setelah pertahanan udara mencegat sebuah drone yang berupaya menyerang fasilitas di ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco.

Serangan-serangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil, personel asing, serta kelangsungan operasional fasilitas strategis di kawasan Teluk.

Reuters juga melaporkan bahwa sejumlah pejabat AS menyebut keluarga personel di beberapa perwakilan diplomatik Amerika lainnya di kawasan Teluk berpotensi diperintahkan untuk meninggalkan wilayah tersebut. Namun, pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS yang dikutip Reuters secara khusus menyebut perintah keberangkatan wajib untuk Arab Saudi.

Terkait pengurangan personel militer, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pergerakan pasukan dan aset militer merupakan bagian dari upaya menjaga kesiapan operasional.

photo
Foto kehancuran Boeing E-3 Sentry, pesawat terpenting milik Angkatan Udara AS, akibat serangan Iran ke pangkalan Pangeran Sultan di Saudi, Jumat (27/3/2026). - (X)

“Kami secara rutin memindahkan personel militer dan aset AS untuk mengoptimalkan kesiapan misi,” kata juru bicara CENTCOM, Timothy Hawkins, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan The Times.

Hawkins menambahkan, pihaknya tidak membahas pergerakan terkait karena alasan keamanan operasional. Ia menegaskan pasukan AS tetap siaga untuk melindungi personel dan kepentingan Amerika.

Sejumlah pangkalan militer dan fasilitas diplomatik AS di Timur Tengah sebelumnya menjadi sasaran serangan sejak perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Serangan balasan dan meningkatnya ancaman terhadap kepentingan AS mendorong Washington meninjau kembali pengamanan serta penempatan personelnya di kawasan tersebut.

Di tengah perkembangan itu, belum ada keterangan resmi yang menunjukkan bahwa pengurangan pasukan di pangkalan-pangkalan Timur Tengah merupakan bagian dari keputusan untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada situasi keamanan di kawasan, termasuk ancaman terhadap fasilitas sipil dan diplomatik serta keputusan pemerintah AS mengenai penempatan personel militernya.

Komando Angkatan Laut IRGC Iran menyatakan bahwa “desakan Washington agar kapal-kapal melintasi perairan yang dipasangi ranjau secara ilegal telah menyebabkan meningkatnya jumlah insiden maritim”.

“Militer agresor AS harus memahami bahwa, jika hal ini terus berlanjut, cakupan konfrontasi akan meluas hingga ke pangkalan-pangkalan pihak agresor di kawasan tersebut,” bunyi pernyataan itu, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Tasnim. “Ini adalah peringatan serius.”

Sebelumnya, IRGC menyatakan bahwa pasukannya telah menyerang empat kapal yang terlibat dalam kegiatan transfer minyak antar-kapal di Teluk hingga terbakar, sementara tiga kapal lainnya terkena ranjau di sebelah barat Selat Hormuz.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat