Ekonomi
Swasembada Pangan dan Super El Nino
Ketahanan pangan perlu dibangun sebelum gangguan iklim terjadi.
OLEH Alexander Yahya Datuk (KADIN Indonesia)
Ada satu hal menarik yang belakangan ini saya cermati, yakni hubungan antara program swasembada pangan pemerintah dan fenomena El Nino. Keduanya memiliki keterkaitan yang penting, terutama dalam menghadapi risiko perubahan iklim terhadap produksi pangan nasional.
Sebelum menjelaskan hubungan tersebut, saya ingin menyampaikan pandangan terlebih dahulu. Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kapasitas produksi dan mendorong swasembada pangan merupakan langkah yang relevan dalam menghadapi berbagai tantangan ketahanan pangan, termasuk ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.
Mengapa demikian?
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat mengubah pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Di Indonesia, fenomena ini dapat menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan meningkatkan risiko kekeringan. Dampaknya dapat dirasakan pada sektor pertanian, terutama melalui penurunan ketersediaan air dan gangguan produksi pangan.
Belakangan ini, muncul berbagai pemberitaan mengenai fenomena yang disebut sebagai Super El Nino, yakni kondisi El Nino dengan intensitas pemanasan suhu permukaan laut yang sangat tinggi. Fenomena tersebut menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi meningkatkan risiko gangguan iklim dalam skala luas.
Mengutip wawancara BBC dengan Dr. Zeke Hausfather, peneliti iklim dari Berkeley Earth, fenomena tersebut digambarkan sebagai unprecedented in the historical record, atau belum pernah terjadi dalam catatan sejarah. Dalam pemberitaan yang saya ikuti, kondisi ini diperkirakan dapat berlangsung hingga 2027.
Jika kondisi tersebut terjadi, kita perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap musim kemarau, ketersediaan air, dan produksi pertanian. Risiko kekeringan berkepanjangan dapat memengaruhi hasil panen, mengganggu distribusi pangan, serta meningkatkan tekanan terhadap harga kebutuhan pokok.
Dalam laporan UNICEF yang saya rujuk, disebutkan bahwa sekitar 190 juta anak di dunia beserta keluarganya menghadapi ancaman kekeringan pertanian, malnutrisi akut, dan kelangkaan air akibat kondisi iklim ekstrem. Gambaran ini menunjukkan bahwa gangguan iklim tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Apa implikasinya bagi Indonesia?
Tanpa kapasitas produksi pangan yang memadai, gangguan iklim dapat meningkatkan risiko berkurangnya pasokan pangan. Ketika produksi menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, tekanan terhadap harga dan ketersediaan bahan pangan menjadi semakin besar. Karena itu, kemampuan memproduksi pangan di dalam negeri merupakan salah satu faktor penting dalam mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim.
Dalam dua tahun terakhir, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjalankan berbagai program untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional. Upaya tersebut mencakup peningkatan produksi sejumlah komoditas strategis dan penguatan cadangan pangan pemerintah.
Berdasarkan capaian yang disampaikan pemerintah, Indonesia disebut telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan, yakni beras, jagung, gula, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Sejumlah komoditas bahkan disebut telah mencatat surplus produksi. Di sisi lain, Bulog memiliki cadangan beras yang berasal dari produksi dalam negeri.
Capaian tersebut dapat menjadi modal dalam menghadapi risiko gangguan produksi akibat perubahan iklim. Namun, ketahanan pangan tentu tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi atau cadangan pada satu periode. Keberlanjutan produksi, ketersediaan air, distribusi, dan keterjangkauan harga juga menjadi faktor yang perlu dijaga.
Dalam konteks ancaman El Nino, penguatan produksi pangan nasional memberikan ruang yang lebih besar bagi Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan pasokan. Cadangan pangan yang memadai juga dapat membantu pemerintah menjaga stabilitas ketersediaan pangan ketika terjadi penurunan produksi di wilayah tertentu.
Karena itu, saya melihat kebijakan swasembada pangan memiliki relevansi yang semakin kuat di tengah meningkatnya risiko iklim. Tantangan berikutnya adalah memastikan kapasitas produksi yang telah dibangun dapat dipertahankan, termasuk melalui pengelolaan air, dukungan bagi petani, dan kesiapan menghadapi perubahan pola musim.
Kekhawatiran saya terhadap kemungkinan kekeringan dan kelangkaan pangan akibat fenomena El Nino tentu belum sepenuhnya hilang. Risiko iklim tetap perlu diantisipasi karena dampaknya dapat berbeda di setiap wilayah dan sulit dipastikan secara tepat.
Namun, upaya peningkatan produksi dan penguatan cadangan pangan memberikan alasan untuk lebih optimistis. Dengan pengelolaan yang konsisten dan kesiapan menghadapi risiko iklim, saya berharap Indonesia dapat menjaga ketahanan pangan nasional, termasuk ketika menghadapi kemungkinan El Nino dengan intensitas yang lebih kuat.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
