Ekonomi
Integrasi Teknologi Jadi Strategi Efisiensi Industri
Integrasi sistem diklaim mampu memangkas biaya TI lebih dari 80 persen.
JAKARTA – Integrasi teknologi menjadi salah satu strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional di tengah kompleksitas bisnis yang terus berkembang. Penggunaan sistem teknologi informasi (TI) yang tidak saling terhubung dinilai dapat meningkatkan beban administrasi, memperlambat pengelolaan data, dan menambah biaya operasional, terutama di sektor ritel, manufaktur, serta pergudangan.
Persoalan tersebut muncul ketika pertumbuhan bisnis tidak diimbangi dengan pembaruan sistem teknologi yang digunakan perusahaan. Akibatnya, sejumlah proses operasional masih mengandalkan pencatatan manual, penggunaan berbagai aplikasi terpisah, hingga penambahan tenaga administrasi untuk mengelola data yang tersebar.
Kondisi ini membuat perusahaan menghadapi tantangan dalam memantau kegiatan operasional dan menganalisis kinerja bisnis secara menyeluruh. Di sisi lain, penggantian sistem lama atau legacy system juga membutuhkan pertimbangan karena berpotensi mengganggu kegiatan usaha dan memerlukan investasi yang tidak sedikit.
CEO SterlingLabs Elroy Hardoyo mengatakan, perusahaan perlu mulai mempertimbangkan integrasi teknologi sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan efisiensi. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang bagi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada proses manual sekaligus mengelola kegiatan operasional secara lebih terintegrasi.
Salah satu pendekatan yang berkembang adalah autonomous enterprise, yakni penggunaan AI untuk menjalankan sejumlah proses bisnis secara lebih mandiri. Pendekatan tersebut dinilai menawarkan kemampuan yang lebih luas dibandingkan sistem enterprise resource planning (ERP) konvensional yang masih membutuhkan intervensi manusia dalam berbagai proses.
Menurut Elroy, penerapan AI untuk kebutuhan industri berbeda dengan penggunaan AI secara umum. Sistem tersebut harus mampu memahami alur kerja perusahaan, menjaga keamanan informasi, serta mengatur akses data sesuai kewenangan pengguna.
“Industrial AI dibangun di atas struktur Role Based Access Control (RBAC), keamanan data privat perusahaan, memahami workflow secara presisi, dan mampu beradaptasi cepat terhadap workflow baru. Yang terpenting, ia bekerja dengan hasil yang tepat dan konsisten, bukan jawaban yang bisa berubah-ubah (probabilistic) seperti kebanyakan sistem AI umum, semacam ChatGPT,” ujar Elroy.
Pengalaman integrasi teknologi tersebut sebelumnya diterapkan oleh tim pendiri SterlingLabs ketika menangani transformasi TI, perdagangan elektronik, dan pengelolaan hubungan pelanggan di The Body Shop Indonesia. Selama empat tahun, tim tersebut membenahi sejumlah sistem operasional yang sebelumnya berjalan secara terpisah.
Pembenahan dilakukan mulai dari sistem transaksi kasir, manajemen persediaan, pengelolaan data pelanggan, hingga keamanan informasi. Integrasi tersebut memungkinkan ratusan gerai The Body Shop di Indonesia menggunakan sistem yang saling terhubung dengan pembaruan data secara real-time.
Berdasarkan pengalaman yang disampaikan SterlingLabs, transformasi tersebut berhasil menekan biaya TI tahunan lebih dari 80 persen. Perusahaan juga mengklaim pembenahan sistem turut meningkatkan efisiensi operasional dan margin penjualan.
Meski demikian, angka penghematan tersebut merupakan hasil dari pengalaman transformasi pada satu jaringan ritel. Tingkat efisiensi yang dapat dicapai perusahaan lain bergantung pada kondisi sistem, kebutuhan operasional, dan investasi teknologi yang dilakukan.
Setelah proses transformasi utama selesai, tim tersebut menjadi entitas mandiri dan melanjutkan pekerjaan transformasi teknologi pada perusahaan lain di bawah TBS Group. Pengalaman itu kemudian menjadi dasar pendirian SterlingLabs, perusahaan teknologi di bawah PT Trini Solusi Teknologi (TST).
Elroy menilai persoalan sistem yang tidak terintegrasi juga ditemukan pada sektor manufaktur, pergudangan, dan perusahaan dengan kegiatan operasional yang kompleks. Menurut dia, pembenahan teknologi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing industri.
Integrasi sistem juga menjadi landasan bagi perusahaan yang ingin mengembangkan otomatisasi berbasis AI. Dengan data dan proses bisnis yang saling terhubung, perusahaan memiliki peluang untuk mengurangi pekerjaan administratif sekaligus meningkatkan kemampuan pemantauan operasional.
“Kami percaya, perusahaan Indonesia tidak boleh tertinggal dalam gelombang transformasi ini,” ujar Elroy.
SterlingLabs mengembangkan layanan transformasi teknologi dengan pendekatan autonomous enterprise yang menekankan integrasi sistem, keamanan data, dan penyesuaian terhadap proses bisnis perusahaan. Pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan mengurangi ketergantungan pada proses manual tanpa harus mengabaikan sistem operasional yang telah digunakan.
Bagi dunia usaha, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh penerapan teknologi baru. Efisiensi biaya, produktivitas, keamanan data, serta kemampuan sistem mendukung pertumbuhan bisnis menjadi ukuran penting dalam menilai manfaat investasi teknologi.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
