Internasional
Laporan Habisnya Amunisi AS Terus Bermunculan
Menipisnya stok rudal AS membuat Trump tak lanjutkan serangan ke Iran.
WASHINGTON – Laporan soal habisnya amunisi militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran terus bermunculan. Yang terkini, CNN melaporkan bahwa AS telah menghabiskan hampir 80 persen rudal pencegat untuk sistem pertahanan rudal utama THAAD.
Pada Rabu, media tersebut, yang mengutip dua sumber yang mengetahui masalah ini, melaporkan bahwa "militer AS telah menghabiskan hampir empat per lima dari inventaris rudal THAAD-nya dibandingkan dengan jumlah sebelum perang, serta sekitar separuh dari rudal pencegat Patriot-nya sejak awal perang".
Menipisnya cadangan amunisi, ditambah dengan kekhawatiran sekutu di Timur Tengah mengenai potensi serangan balasan Iran, kabarnya meyakinkan Trump untuk membatalkan rencana serangan berskala besar terhadap infrastruktur Iran, demikian menurut CNN.
Para pejabat Pentagon dan Gedung Putih menepis kekhawatiran mengenai kekurangan inventaris tersebut. Kepala juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengatakan kepada CNN bahwa "militer Amerika adalah yang terkuat di dunia dan memiliki segala yang dibutuhkan untuk melancarkan operasi pada waktu dan tempat yang dipilih oleh Presiden".
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menambahkan bahwa militer "memiliki lebih dari cukup amunisi dan persediaan untuk memenuhi seluruh tujuan strategis Presiden Trump dan bahkan lebih dari itu".
Sebelumnya, Reuters pada Senin melaporkan AS telah menggunakan semua stok rudal jarak jauhnya selama lima bulan perang dengan Iran. Laporan Reuters mengutip tiga sumber yang mengetahui data stok persenjataan, meningkatkan kekhawatiran Pentagon atas kesiapan menghadapi potensi konflik dalam waktu dekat.
Rudal-rudal yang habis terpakai itu yakni rudal dari permukaan-ke-permukaan, dikenal dengan Sistem Taktikal Rudal Angkatan Darat (ATACMS) dan Rudal Berpresisi Tinggi (PrSM). AS dilaporkan telah menggunakan semua jenis rudal itu, menurut sumber yang diwawancarai Reuters.
Tingkat kekurangan stok dari rudal ATACMS dan PrSM belum dilaporkan sebelumnya. Padahal, munisi jarak jauh adalah bagian penting dari persenjataan militer, lantaran akurasinya yang membuat serangan dari jarak jauh aman dilancarkan.
Di perang Ukraina, suplai ATACMS dari AS pun memainkan peran penting, membuat Kiev menargetkan titik-titik tertentu di dalam negera Rusia. Adapun, PrSM adalah generasi baru rudal jarak jauh, yang akan menggantikan ATACMS namun dengan jarak jangkau lebih dekat.
Menurut analis, dua rudal itu, yang ongkos produksinya menjadi 1 juta dolar AS per satuannya, akan menjadi faktor penting jika konflik dengan China pecah. Sumber Reuters menolak mengungkapkan jumlah pasti ACTAMS dan PrSM tersisa yang kini dimiliki AS.
Diketahui, Presiden AS Donald Trump yang melancarkan perang dengan Iran bersama Israel pada Februari lalu, memprediksi perang akan berlangsung dalam waktu singkat. Namun seiring terus terseretnya AS dalam perang panjang, tiga sumber Reuters mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kekurangan stok rudal jarak jauh bisa membatasi kemampuan AS dalam menangkal musuh-musuhnya, termasuk Rusia dan China.
Sumber keempat yang mengaku mengetahui masalah ini mengatakan bahwa saat Pusat Komando AS (CENTCOM) telah menggunakan hampir semua rudal sejak perang pecah, namun mampu menyetok kembali lewat pemindahan stok rudal dari belahan dunia lain. Dimintai konfirmasinya mengenai data stok rudal, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan mengutip Trump, mengatakan bahwa AS memiliki "lebih banyak munisi dari siapapun di dunia ini" dan "lebih banyak dari yang dibutuhkan."
"Perusahaan pertahanan kami, pada saat ini, membuat lebih banyak munisi dari yang pernah mereka buat sebelumnya, dan juga memperluas pabrik dan perlengkapan dalam level mencetak rekor baru," kata Trump.
Lockheed Martin, perusahaan yang memproduksi ATACMS and PrSM, bersama dengan sistem anti-rudal balistik THAAD, tidak segera merespons permintaan konfirmasi klaim Trump. Raytheon, yang memproduksi rudal Tomahawk dan Patriot, juga tidak memberikan respons.
Sementara, juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan, "militer Amerika adalah yang paling kuat di dunia dan memiliki apa yang dibutuhkan untuk mengeksekusi kapan dan di mana (serangan) yang dipilih Presiden. Kami sukses mengeksekusi beberapa operasi komando kombatan sambil memastikan militer AS menguasai kapabilitas persenjataan yang dalam untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami."
Pemimpin militer di AS beberapa pekan terakhir dilaporkan telah mengingatkan Donald Trump bahwa stok persenjataan termasuk sistem anti-rudal Patriot yang efektif mengintersep rudal-rudal balistik Iran, menipis. Akhir pekan lalu beberapa media melaporkan bahwa Trump memutuskan batal melancarkan serangan besar ke Iran lantaran para penasihat militernya mengingatkannya ihwal stok munisi Pentagon.
Namun, seorang pejabat Gedung Putih membantah laporan media-media dengan menyebut bahwa keputusan Trump membatalkan serangan akibat tekanan dari pemimpin negara Teluk Persia.
Pekan lalu, CSIS menerbitkan sebuah laporan yang memperkirakan antara Februari dan Juli, sekitar 65 persen dari rudal Patriot telah digunakan sementara stok THAAD setidaknya 38 persen lebih rendah dari saat dimulainya perang. Meski Reuters belum membaca data stok Pentagon, data CSIS selarang dengan data internal AS menurut dua sumber yang diwawancarai.
AS juga dilaporkan telah membakar hampir separuh dari stok global rudal penjelajah Tomahawk yang diluncurkan dari kapal-kapal perang mereka sejak perang pecah pada Februari. Tomahawk adalah rudal milik Angkatan Laut AS, yang diluncurkan dari kapal perusak, penjelajah dan kapal selam.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
