Peneliti dari tiga perguruan tinggi mengembangkan melinjo menjadi bahan pangan fungsional dalam Gelar Riset Hasil Inovasi Pendidikan Jarak Jauh Universitas Terbuka (Galeri PJJ-UT) 2026. | Istimewa

Nasional

Riset Tiga Kampus Ungkap Potensi Melinjo sebagai Antioksidan Alami

Riset membuka nilai tambah baru dari komoditas pangan lokal.

JAKARTA -- Melinjo mulai dikembangkan dari sekadar pangan lokal menjadi bahan baku pangan fungsional bernilai tambah. Riset kolaboratif tiga perguruan tinggi menunjukkan kandungan senyawa aktif pada melinjo berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber antioksidan alami sekaligus bahan baku produk pangan untuk UMKM.

Riset tersebut melibatkan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Pancasila (UP), dan Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia). Inovasi hasil kolaborasi itu dipamerkan dalam Gelar Riset Hasil Inovasi Pendidikan Jarak Jauh Universitas Terbuka (Galeri PJJ-UT) 2026.

Peneliti dan inventor utama dari UMJ, Endang Rudiatin, mengatakan riset tersebut menemukan kandungan senyawa aktif gnetisin dan gnetana pada melinjo. Kandungan tersebut menjadi dasar pengembangan melinjo sebagai bahan pangan yang memiliki nilai fungsional.

Selama ini, pemanfaatan melinjo juga menghadapi persepsi masyarakat yang mengaitkannya dengan asam urat. Melalui penelitian yang dilakukan, tim peneliti berupaya melihat kandungan melinjo berdasarkan hasil analisis ilmiah dan mengembangkan pemanfaatannya menjadi produk pangan.

"Konsumsi olahan melinjo yang tepat terbukti mampu membantu meningkatkan kesehatan tubuh, serta berperan dalam pencegahan diabetes dan obesitas," kata Endang kepada wartawan, Rabu (23/9/2026).

Salah satu hasil hilirisasi riset tersebut adalah formulasi tepung melinjo yang kemudian diuji coba untuk diolah menjadi biskuit sehat. Pengembangan ini melibatkan wirausaha mahasiswa dan pelaku usaha kecil sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada tahap laboratorium.

Tepung melinjo tersebut dikembangkan menjadi produk pangan dengan kandungan nutrisi dan masa simpan yang lebih panjang. Diversifikasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah melinjo sekaligus membuka peluang pengembangan produk pangan berbasis komoditas lokal.

Pengembangan produk juga membutuhkan teknologi pengolahan yang mampu menjaga konsistensi bahan baku. Untuk kebutuhan tersebut, pakar teknik mesin Universitas Pancasila, Prof Dwi Rahmalina Agri Suwandi, mengembangkan mesin penepung khusus untuk mengolah melinjo menjadi tepung.

Mesin tersebut telah mendapatkan paten desain industri. Teknologi pengolahan tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi proses sekaligus menghasilkan tepung dengan tingkat kehalusan yang sesuai untuk kebutuhan produksi.

"Teknologi ini memastikan efisiensi proses pengolahan bahan baku menjadi tepung halus berkualitas tinggi tanpa merusak kandungan senyawa aktif di dalamnya, sekaligus menjadi instrumen penting dalam standardisasi produksi UMKM," ujar Dwi.

Tahap berikutnya diarahkan pada penguatan pemasaran produk. Zalzulifa dari Politeknik Negeri Media Kreatif mengambil peran dalam pengembangan digitalisasi pemasaran untuk membantu produk olahan UMKM menjangkau konsumen yang lebih luas.

Kolaborasi tiga perguruan tinggi tersebut menghasilkan sejumlah produk hilirisasi yang telah memperoleh pelindungan kekayaan intelektual. Produk yang dihasilkan mencakup paten formula pangan fungsional, desain industri mesin, serta Hak Cipta (HKI) untuk implementasi pada UMKM.

Pengembangan melinjo tersebut memperlihatkan bahwa riset perguruan tinggi dapat diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan temuan ilmiah, tetapi juga untuk mengembangkan bahan baku lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Bagi UMKM, proses tersebut membuka peluang diversifikasi produk sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas.

Kolaborasi UMJ, UP, dan Polimedia juga mempertemukan sejumlah keahlian, mulai dari penelitian pangan, rekayasa teknologi produksi hingga pemasaran digital. Pola kerja tersebut diarahkan untuk membangun rantai hilirisasi dari penelitian, pengolahan bahan baku, pengembangan produk hingga pemasaran.

Dengan pengembangan tersebut, melinjo tidak hanya ditempatkan sebagai komoditas pangan tradisional, tetapi juga sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan fungsional. Hilirisasi berbasis riset menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal sekaligus memperluas peluang usaha bagi UMKM pangan.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat