Nasional
Perempuan yang Menyimpan Senja di Lemari Pakaian
Oleh RHAE DE LUNA
Lampu kilat ponsel pintar itu berkedip tiga kali. Sekar menahan napas, memastikan sudut senyumnya simetris sempurna di depan cermin toilet restoran. Di layar, gaun linen berwarna pasir pantai yang ia kenakan tampak begitu jatuh dan elegan. Tak ada yang tahu, label harga gaun itu masih sengaja disembunyikan di lipatan ketiak, dijepit peniti kecil agar besok pagi bisa dikembalikan ke butik dengan alasan "salah ukuran".
Jakarta, bagi Sekar, adalah panggung sandiwara yang menuntut harga tiket terlalu mahal. Sebagai seorang social media strategist di sebuah agensi digital mapan, ia tahu betul bagaimana sebuah citraan dikonstruksi. Masalahnya, ia kini terjebak dalam konstruksi yang ia ciptakan sendiri.
Di dunia maya, Sekar adalah representasi perempuan urban mandiri yang mapan: kopi pagi di Senopati, akhir pekan di galeri seni, dan pakaian yang tak pernah sama dalam dua kali unggahan."Cantik banget, Kar! Outfit-nya beli di mana?" sebuah komentar muncul, semenit setelah foto itu mengudara di linimasa.Sekar tersenyum getir. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjing—yang cicilannya baru lunas bulan depan—lalu melangkah keluar menuju ruang makan restoran.
Di sana, seorang pria paruh baya dengan kemeja batik yang warnanya agak pudar sudah menunggunya.Pria itu adalah pamannya, Lik Darmo, yang baru tiba dari desa mengendarai bus ekonomi demi mengantarkan titipan. Sebuah karung beras kecil dan beberapa botol madu hutan bersandar di dekat kaki meja restoran yang mewah, terlihat sangat kontras dan asing.
"Nduk, ini madu murni pesanan ibumu. Katanya buat suplemen kamu di kota, biar tidak gampang tumbang kerja lembur terus," kata Lik Darmo, wajahnya yang penuh kerutan tersenyum tulus.
Matanya menatap kagum pada piring-piring estetik di atas meja. Sekar merasa dadanya dihantam sesuatu yang tumpul. Ia melirik sekeliling, merasa cemas jika ada rekan kantor atau relasinya yang melihatnya sedang duduk bersama seorang pria tua berpenampilan sederhana dengan karung beras di lantai.
Gengsi, hantu modern yang paling pandai menyamar jadi harga diri, mendadak membisikkan rasa malu di telinganya.
"Ah, iya Lik. Terima kasih banyak. Repot-repot amat sampai dibawa ke restoran," bisik Sekar, suaranya pelan, berusaha meredam intonasi agar tidak menarik perhatian meja sebelah.
Lik Darmo terkekeh, tidak menyadari kecemasan keponakannya. "Nggak repot, Nduk. Ibu yang paling khawatir. Katanya kamu kalau ditelepon sering batuk-batuk. Di kota besar begini, sehat itu nomor satu. Oh iya, ini ada surat dari Ibu. Sengaja ditulis tangan, katanya kalau lewat WhatsApp sering tidak kamu balas karena sibuk."
Lik Darmo menyodorkan selembar kertas yang dilipat empat. Sekar menerimanya, lalu menyimpannya di saku gaun linen sewaan itu.
Malam itu, setelah mengantar Lik Darmo ke terminal, Sekar kembali ke kamar kosnya yang sempit namun terletak di kawasan elite. Ia duduk di lantai, mengelupas label harga gaun pantai yang belum sempat ia lepas. Di depannya, karung beras dari desa tampak jujur, tanpa filter, tanpa rekayasa visual.Ia teringat surat Ibunya. Dengan perlahan, dibukanya lipatan kertas itu. Tulisan tangan Ibunya agak gemetar, khas orang tua:
“Sekar anakku, Ibu selalu mendoakanmu di setiap sepertiga malam. Jangan lupa salat ya, Nduk. Di kota besar yang ramai, hati kita sering gampang kesepian kalau jauh dari Gusti Allah. Jangan terlalu memaksakan diri mengejar apa yang dilihat mata orang lain. Rezeki yang berkah itu yang bikin hatimu tenang tidur di malam hari, bukan yang bikin kamu bingung besok mau pakai baju apa lagi. Pulanglah kalau capek, Ibu selalu masak nasi hangat buat kamu.”
Pertahanan Sekar runtuh. Air matanya jatuh menetes, membasahi kertas surat yang pudar itu.
Kata-kata Ibunya seperti sapu lidi yang membersihkan seluruh debu kepalsuan di kepalanya. Selama ini, ia menderita akibat penyakit psikologis masyarakat modern yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai al-takatsur—bermegah-megahan yang melalaikan. Ia sibuk mengumpulkan kekaguman dari orang-orang asing di internet, sampai melupakan hakikat kedamaian batin yang sesungguhnya.
Sekar berdiri. Ia melepas gaun linen sewaan itu, lalu melipatnya untuk dikembalikan besok. Bukan karena takut ketahuan, tapi karena ia tidak lagi butuh sepotong kain mahal untuk merasa berharga.
Ia mengambil air wudu. Saat dahinya menyentuh sajadah dalam sujud yang panjang malam itu, Sekar merasakan kemewahan yang sesungguhnya: sebuah ketenangan yang tak butuh pengakuan siapa pun, kecuali dari Penciptanya. Di luar, Jakarta tetap bising, tapi di dalam kamar kosnya, senja yang palsu telah berganti dengan fajar yang jujur.
Rhae De Luna tidak suka berbicara,namun suka menulis pakai pena. Melalui tulisan,saya berusaha menghadirkan cerita yang menyentuh, reflektif, dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
