(Ilustrasi). Siswa pendidikan anak usia dini (PAUD). | Antara/Anis Efizudin

Khazanah

PAUD Holistik Integratif Jadi Fokus Kemenag pada 2026

PAUD HI mengintegrasikan empat layanan utama.

BALIKPAPAN – Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui pendekatan holistik integratif yang dipadukan dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Pendekatan ini menempatkan pendidikan anak tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan pembentukan karakter.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama Fesal Musaad mengatakan, masa emas perkembangan anak harus didukung layanan yang menyeluruh agar mereka tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak.

“PAUD tidak cukup hanya pembelajaran, tetapi harus terintegrasi dengan kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak,” ujar Fesal saat menjadi pemateri dalam kegiatan Mainstreaming PAUD Holistik Integratif di Balikpapan, Jumat (17/4/2026).

Menurut Fesal, implementasi PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) dijalankan melalui Raudhatul Athfal (RA) dengan mengacu pada regulasi terbaru serta diperkuat melalui Kurikulum Berbasis Cinta. Kurikulum tersebut menanamkan nilai karakter melalui konsep Panca Cinta, yakni cinta kepada Tuhan, diri sendiri, sesama, ilmu pengetahuan, lingkungan, dan bangsa.

Ia mengatakan, pembentukan karakter sejak usia dini menjadi fondasi penting agar anak siap menghadapi tantangan masa depan. Karena itu, pendidikan perlu berjalan seiring dengan pembiasaan hidup sehat, kepedulian sosial, dan terciptanya lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.

Dalam pelaksanaannya, PAUD HI mengintegrasikan empat layanan utama, yaitu pendidikan, kesehatan dan gizi, pengasuhan, serta perlindungan anak. Program yang dijalankan meliputi pemantauan tumbuh kembang anak, edukasi pengasuhan kepada orang tua, pembiasaan hidup bersih dan sehat, hingga pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam aktivitas sehari-hari.

Fesal mengatakan, keberhasilan pendekatan tersebut bergantung pada kolaborasi berbagai pihak, mulai dari guru, orang tua, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga layanan sosial.

“Keberhasilan PAUD Holistik Integratif bergantung pada kolaborasi semua pihak. Guru tidak bisa bekerja sendiri. Orang tua, layanan kesehatan, hingga pemerintah daerah harus bergerak bersama agar anak mendapatkan layanan terbaik,” ucapnya.

Selain memperkuat layanan PAUD, Direktorat GTK Madrasah menetapkan tiga prioritas pada 2026, yakni meningkatkan kesejahteraan guru, memperkuat profesionalisme pendidik, dan mempercepat digitalisasi layanan GTK.

Data Kementerian Agama menunjukkan sebanyak 479.802 guru madrasah telah terdata dalam sistem sertifikasi. Dari jumlah tersebut, 341.717 guru menjadi kandidat peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan.

Fesal juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi penggunaan gawai di era digital agar anak tidak terpapar dampak negatif teknologi, seperti kecanduan gim maupun persoalan sosial lainnya.

“Banyak tantangan baru di era digital. Karena itu, peran keluarga menjadi sangat penting agar anak dapat memanfaatkan teknologi secara sehat dan tetap berkembang sesuai nilai-nilai yang kita harapkan,” katanya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat