Puisi Aisyah | Daan Yahya/Republika

Sastra

Aisyah

Oleh IWAN SETIAWAN

Aisyah 1

 

Di rahim malam yang menggugurkan bintang-bintang prematur,

Aku menanam namamu dalam tanah waktu

Yang mengunyah detik seperti tulang rapuh para nabi yang terlupakan.

Aisyah,

Kau bukan sekadar bayang

Kau adalah gema yang tertinggal

Setelah Tuhan selesai menyebut “kun”

Namun lupa memadamkan gaungnya.

Aku berjalan di antara cermin-cermin berkarat,

Setiap pantulan memamerkan wajah yang berbeda

Satu menangis darah,

Satu lagi tersenyum dengan rongga dada kosong,

Dan satu

Tak memiliki aku sama sekali.

Di sela retakan itu

Aku menemukan doa yang membusuk,

Huruf-hurufnya tumbuh jamur,

Mengeluarkan aroma keabadian yang nyaris busuk.

 

Padang,  2026

***

 

Aisyah 2

 

Langit melipat dirinya seperti kitab tua

Yang dibaca oleh angin tanpa mata.

Namamu adalah simpul dalam tenggorokan waktu,

Yang setiap kali kutelan

Menjelma ular kecil

Melilit nadi kesadaranku.

Aku duduk di tepi jurang yang menelan gema,

Melemparkan ingatan satu per satu,

Dan setiap jatuhnya terdengar seperti ayat

Yang sengaja dihapus dari kitab keberadaanku.

Bayangan datang mendekat,

Memakai wajahku yang belum lahir,

Lalu berbisik dari dalam rongga telingaku:

“Cinta adalah pisau yang diasah oleh ketidakhadiran,

Dan Tuhan memegang gagangnya.”

Aku tak berdarah

Aku larut,

Menjadi cairan tak bernama

Yang mengalir kembali ke asalnya.

 

Padang,  2026

***

 

Aisyah 3

 

Aku menuliskan namamu di kulit angin,

Dan ia menguliti langit sebagai balasannya.

Kau adalah celah tipis

Di antara dua denyut semesta,

Tempat realitas tersandung

Dan jatuh menjadi mimpi yang tak diingat siapapun.

Dalam tidur yang menelan diriku,

Aku melihat tubuhku digantung di pohon waktu,

Buah-buahnya adalah mata yang terus terbuka,

Menatap kehampaan

Yang lebih padat dari keberadaan.

Sebuah suara

Bukan dari luar, bukan dari dalam

Mengalir seperti tinta ke dalam pikiranku:

“Yang kau kejar adalah bayangan cermin,

Dan cermin itu adalah Aku

Yang menyamar sebagai kehilangan.”

Aku pecah tanpa suara,

Menjadi serpihan-serpihan kesadaran

Yang tak lagi tahu

Mana Tuhan, mana luka.

 

Padang,  2026

***

 

Aisyah 4

 

Hujan turun sebagai arsip yang bocor,

Membasahi makam-makam yang lupa pada namanya sendiri.

Aku menemukanmu dalam liang yang tak digali,

Di mana tanah mengunyah akar

Dan akar bermimpi menjadi langit.

Aku menggali dengan tangan yang mulai transparan,

Setiap cengkeramannya melepaskan waktu

Seperti debu dari tubuh yang tak pernah hidup.

Di dalam tanah itu

Aku tidak menemukan tulang,

Tidak juga kenangan

Hanya ruang yang menelan ruang,

Lapisan kehampaan yang saling memakan.

Dan di pusatnya,

Aku melihat sesuatu yang tak bisa kulihat:

Sebuah ketiadaan

Yang memandangku kembali.

Saat itu aku mengerti,

Cinta bukan kehilangan

Melainkan lubang

Di mana Tuhan menyembunyikan Diri-Nya.

 

Padang,  2026

***

 

Aisyah

 

Pada ujung segala arah

Terdapat pintu tanpa engsel,

Yang terbuka bukan ke luar,

Melainkan ke dalam ketiadaan yang berlipat.

Aisyah,

Aku berjalan melaluinya

Dengan tubuh yang tertinggal di belakangku,

Seperti pakaian yang lupa dikenakan oleh jiwa.

Namamu kini hanyalah gema

Yang berputar dalam lingkaran tanpa pusat,

Mengikis makna hingga tersisa

Getaran yang tak bisa dimiliki.

Tak ada lagi aku yang mencari,

Tak ada lagi kau yang hilang

Yang ada hanyalah kehampaan

Yang sadar bahwa ia kosong,

Dan dalam kesadaran itu

Ia menjadi segalanya.

Jika kau datang sebagai ingatan,

Aku akan menyambutmu sebagai kabut

Yang tak bisa disentuh oleh tangan keberadaan.

Sebab aku telah larut

Ke dalam samudra tanpa nama,

Di mana Tuhan dan kehilangan

Saling meniadakan

Dan dari peniadaan itu

Lahirlah pulang

Yang tak pernah berangkat.

 

Padang,  2026

***

 

Iwan Setiawan lahir di Sukadamai, Prokimal, Kotabumi, Lampung Utara, 23 Agustus 1980. Ia menulis puisi dengan kecenderungan kontemplatif dan sufistik, bergerak di wilayah sunyi antara iman, ragu, dan pencarian makna. Karyanya telah dimuat di berbagai media sastra, dan ia adalah penulis buku Sang Pencari Cinta serta Kitab Puisi Melankolia (bersama Silvia Ikhsan). Pada 2017, ia menerima Anugerah sastra dari majalah Littera.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat