Ilustrasi jamur tiram. | Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO
18 Apr 2020, 01:20 WIB

Permintaan Jamur Tiram Naik

Tingginya permintaan jamur tiram turut meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.

 

 

 

 

Terkait

LEBAK -- Permintaan jamur tiram di Kabupaten Lebak, Banten, sejak tiga pekan terakhir ini, cenderung meningkat saat pandemi Covid-19 melanda seluruh wilayah Indonesia. "Meningkatnya permintaan pasar itu tentu dapat mendongkrak pendapatan ekonomi masyarakat," kata Uding (45), seorang perajin budi daya jamur tiram warga Malabar Kabupaten Lebak, Jumat (17/4).

Saat ini, kata dia, perajin budi daya jamur tiram di wilayahnya mencapai 10 unit usaha. Mereka semua merasa kewalahan melayani permintaan pasar yang terus melonjak. Uding menuturkan, pada hari biasanya, permintaan pasar hanya 300 kilogram (kg) per hari. Sekarang, pasar meminta suplai jamur tiram 1 ton per hari untuk dipasok ke Kabupaten Pandeglang serta Kota Serang.

Karena itu, tingginya permintaan jamur tiram turut meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat. Hanya saja, kata dia, kendalanya para perajin jamur tiram tidak mampu melayani kenaikan permintaan pasar akibat minimnya modal usaha yang dimiliki. "Kami mengembangkan usaha ini hanya mampu memproduksi sebanyak 50 kilogram dengan populasi benih 10 ribu baglog dan pendapatan Rp 500 ribu per hari dan harga di tingkat penampung sebesar Rp 10 ribu per kilogram," kata Uding menjelaskan.

Begitu juga Mazen (50), seorang perajin jamur tiram dari Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, yang mengaku tidak sanggup melayani permintaan konsumen pada masa wabah Covid-19 seperti sekarang. Dia menyebut, produksi usahanya sekitar 50 kg dengan pendapatan Rp 500 ribu.

photo
Petani menyortir jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang baru dipanen di sentra Usaha Jamur Mandiri di Cipocok, Serang, Banten, Kamis (7/11/2019). - (ASEP FATHULRAHMAN/ANTARA FOTO)

Pendapatan kotor sebesar itu, menurut Mazen, tentu cukup membantunya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sekaligus membayar upah pekerja. Meski begitu, ia berharap ada pinjaman dengan bunga terjangka agar perajin budi daya jamur tiram bisa mengembangkan usahanya untuk memenuhi permintaan pasar. "Kami membuka usaha ini berjalan di tempat akibat kekurangan modal, terlebih saat ini harga benih naik hingga Rp 2.500 per baglog," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan, saat ini perajin jamur tiram di daerahnya semakin berkembang dan mampu memasok kebutuhan pasar di Rangkasbitung maupun Pandeglang. Hanya saja, ia mengakui, produksi jamur di kalangan perajin masih terbatas akibat terbentur permodalan. "Kami terus mengoptimalkan pembinaan agar usaha perajin jamur tiram menjadikan klaster ekonomi warga Lebak," kata Rahmat.

 

Produksi beras

photo
Pekerja mengemas beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (18/3/2020). - (ANTARA FOTO)

Distanbun Kabupaten Lebak mencatat, sepanjang Januari-Maret 2020, produksi beras mencapai 61.468 ton. Rahmat Yuniar menjelaskan, angka itu sama dengan surplus selama dua bulan ke depan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat di kabupaten berpenduduk 1,2 juta jiwa tersebut. Karena itu, pihaknya menjamin persediaan beras bakal aman hingga Ramadhan mendatang pada masa pandemi Covid-19. "Apalagi, diberbagai daerah kini memasuki musin panen raya," kata Rahmat, Jumat.

Dia menerangkan, dari jumlah produksi beras 61.468 ton tersebut didapatkan dari hasil panen padi sebanyak 111.760 ton gabah kering giling (GKG). Selama ini, kata dia, kebutuhan komsumsi beras warga Lebak rata-rata per kapita sebanyak 114 kg atau 11.977 ton per bulan. Jika dihitung, kebutuhan konsumsi beras sampai dengan Maret lalu, mencapai 35.931 ton.

Dengan demikian, kata dia, produksi beras surplus sebanyak 25.537 ton beras, yang setara dapat mencukupi kebutuhan masyarakat selama dua bulan ke depan. Dia mengatakan, selama ini, produksi beras di Lebak mampu menyumbangkan ketahanan pangan nasional sekitar 40 persen dan dipasok ke luar daerah, seperti Bogor, Sukabumi, Pasar Cipinang di Jakarta Timur, hingga Provinsi Lampung. "Kami menginstruksikan kepada seluruh petani yang sudah panen agar cepat melaksanakan gerakan percepatan tanam," kata Rahmat.

 

 

Seorang petani di Desa Kalanganyar, Lebak, Sanukri (55) mengatakan, panen padi di wilayahnya seluas 120 hektare masih berlangsung hingga akhir April, karena penanaman bibit dilakukan awal Januari lalu.

 

 

Rasanya senang dengan hasil panen kali ini, lantaran tidak ada hama yang menyerang padi. "Sehingga dipastikan menguntungkan dengan menghasilkan Rp 25 juta per hektare dengan produksi 7-8 ton GKP per hektare," kata Sanukri.

Suhari (55) seorang petani di Blok Jaura Rangkasbitung menyatakan, panen padi miliknya seluas dua hektare bisa menembus 14 ton GKP. Dia memperkirakan dapat menjual beras sebanyak tiga ton dengan harga Rp 10 ribu per kg. Dengan akumulasi itu, ia memperkirakan dapat dapat menghasilkan uang Rp 30 juta bersih setelah dipotong biaya produksi dengan pemilik lahan.

Pasalnya, kebanyakan petani di Blok Jaura terkait biaya produksi pembelian benih, pestisida, dan pupuk ditanggung dahulu oleh pemilik lahan. Namun, setelah hasil panen nanti dipotong, termasuk hitungan perincian penggunaan lahan. "Kami merasa tenang dan lega saat panen padi, terlebih adanya pembatasan sosial untuk pencegahan penyebaran virus korona," kata Suhari.

 


Terkini

×