Sastra
Abad Ke-19, Sapeken
Puisi-puisi Syauqi Khaikal Zulkarnain
Oleh SYAUQI KHAIKAL ZULKARNAIN
Abad Ke-19, Sapeken
Ke mana pergi bahtera Melayu-Tionghoa?
Yang membungkus beratus-ribu hingga
Kering ikan-daging rusa, sebagai nafkah
Atas gundukan pasir tempat nelayan kami berumah
Abad ke-19, Sapeken:
Doa adalah tangan dengan amuk kapak;
Menyulam kayu-kayu liat sebagai lambung kapal;
Menarik keringat dari ketiak para bapak.
Tak ada waktu mengenang masa silam
Orang-orang laut tak pernah menulis pesan
Sejarahnya teronggok dalam sudut sempit zaman
Menjelma badai yang membikin pulau sama sekali karam.
Jika laut menjelma jarak,
Maka menebasnya adalah niscaya
Ketika nasib tak henti memburu,
Musti dipahat ia jadi perahu!
: Berlayarlah terus ke seberang
Melalui Laut Jawa hingga China Selatan
Tak perlu kerajaan, lebih-lebih peradaban
Cukup, jangan, tenggelam
—kau selamat dari kematian!
Yogyakarta, Desember 2025
***
Orang Asing
Di Kebun Makna...
Pada tempat yang jauh dari laut dan samudera
Bagaimana kalimatku bisa
menyentuh perasaanmu?
Di sini, bahkan
tak kutemukan genggam
pasir putih asin garam
Hanya murka dewa
menarik batu-batu legam
dari perut gunung purba
Yang oleh leluhurmu disulam
sebagai tempat pertemuan
bernama ziarah
Tak ada bau laut,
gundukan tajam batu karang,
dan tentu saja gelombang pasang
yang mampu membawa perahu ini malam
Hanya angin di liuk sungai
Lembah hijau cadas ngarai
Menggoda rambutmu tergerai
sebagai tempat berlabuh melebihi ratusan pantai
Gubuk-gubuk tak pernah didirikan
segala datang-pergi berlaluan
Penaka ribuan gugus pulau;
berserak terapung;
disinggahi jutaan orang
yang enggan
tinggal, kita
tak saling menjangkau
Di ini tempat, laut jauh
kalau kau tahu
Ada sampanku bisa
memaksamu tiba, membangun rumah,
dan jatuh cinta?
Yogyakarta, Januari 2026
***
Di Tapal Batas Puisi
Di saat seperti apa
kita mungkin bicara?
Agar lekas kububuhkan metafora
Dalam syair yang kutulis atas nama
sejarah atau yang pernah
dan semoga seterusnya
Misal, soal naif petang senantiasa
di banyak puisi pengarang kita ada;
tentang akrab malam dengan sepi
yang sebetulnya adalah sendiri;
atau kenapa terik siang perak-tembaga
kerap mengusik kesabaran manusia
Bagaimana kita akan menerjemah
keadaan yang timbul dalam
adegan sandiwara, bisu, tanpa kata
’tika kita jumpa
di tempat tiada bernama
pada waktu tanpa tanda masa
juga keadaan tanpa cinta
?
Di tapal-batas puisiku yang biasa
penuh rima,
nada dan irama lindap akhirnya;
Pada sekian kali jatuh cinta
Sebagai penyair yang akrab dengan bahasa
Kau memaksaku merhatikan suasana hanya
Ah, maka bunyi napasmu kini cukuplah!
Aku berani memasuki rumah suci hingga
ruang tengah*
Menghabisi segala ceramah dan khotbah
Kemudian duduk, diam, dan mulai berdoa
: semoga tak lekas kita menyerah.
Yogyakarta, 2026
*Potongan pidato radio Chairil Anwar
***
Menunggu Kelahiran Kedua
Aku kembali ke kota ini sepenuhnya
Utuh, tanpa perempuan dan kenangan
Pernah ada masa di mana setiap langkah
Mesti berakhir di atas jembar lautan
Tak ada lagi moyang dan rahsia arwah
Menuntun sepasang kaki ke jalan pulang
Yogyakarta belum jadi kelahiran kedua
Ia cuma sekadar pilihan dan kemungkinan saja
Tak layak kelahiran melangkahi jatuh cinta
Mustahil lelaki lahir tanpa perempuan ada
Maka kupilih seorang perempuan di ini kota
Pada rahimnya kelak seorang Syauqi lahirlah.
Yogyakarta, 2026
***
Menyerah!
Kepada Icha…
Aku patah. Kau juga
Antar-kita luka menganga
menempik sorak satu kata
Begini dia punya suara
: Menyerah!
Kemudian angin menggagalkan kita
Tangis pecah
Amuk menjelma
badai Agustus di kita
punya rumah
Air mata ruah merusak kampung halaman
yang adalah hati kita—tempat perasaan disimpan
dan hilang bersama nasib yang rahsia
Tak sempat pula kupahat kapal yang ‘kan
membawa kita berpalingan di laut mahadalam
Aku ke utara, kau ke mana?
Lekas ke anjungan, Sayang!
Ada di depan gelombang
bakal mengadang
Jauh jalan langkah kaki pincang jangan
Tak boleh tenggelam
Tak boleh terbenam
Tak boleh petang datang
—ini layar belum terkembang, sedang
asin laut tak mampu mengawetkan
macam-macam perasaan
Aku ke utara,
kau ke mana?
Bersama pergimu kujejal-masukkan mantra
Terakhir kepunyaan kita bernama
: Semangat!
Kita kini binatang jalang
Dari berdua jadi terbuang
Biar tangisan terus datang
Masing orang menuju keluasan padang
Luka dan bisa bawa pergi
Pergi
Karenanya jangan dulu mati
Dan kita musti meneriak satu janji
Kenang aku hingga seribu tahun lagi!
—aku ‘kan mengenangmu lebih.
Yogyakarta, 12 Januari 2026
***
Saksi
Akhir Juli 2025…
Aku berdiri
Atas sampanku sendiri
Ia tak berpasak jati
Kehilangan liar bungur kami
yang ditebas tempo hari
Aku pergi
melayari laut biru
bersama rembulan tipis pagi ‘ni
Biar angin datang lagi
Tak ada satu sangsi kecuali
ketidakberdayaan sendiri
tanpa Icha pasti
pula kelasi
—Aku dan dia pernah
merayakan segala apa
tapi berpisah akhirnya
Aku sekarang api!
Api!
Icha air barangkali
Karena angin aku menjadi
: kalau ‘ku mati
puisi ini saksi.
Yogyakarta, 2026
***
Syauqi Khaikal Zulkarnain. Lahir di Kangean, berkegiatan di Yogyakarta. Alumnus Sastra Indonesia UAD. Sedang mempersiapkan buku kumpulan puisi pertamanya. Juga aktif menghimpun dan mendokumentasikan sisa-sisa khazanah kebudayaan manusia di kampung halamannya yang terlupakan itu. Dapat dihubungi di Instagram @syauqikhaikal
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
