Sastra
Di Kalilo, Selembut Angin, Semesra Kabut
Oleh DODY WIDIANTO
Tubuh kalian berdua lalu lesap dalam pelukan dingin. Kalian terus melangkah di antara kerumunan kabut putih pekat dan pinus-pinus gagah yang menjulang di kanan kiri. Di antara jalan setapak menurun, berliku, yang kalian susuri dengan membawa tas di punggung, satu ikatan kardus dengan tali rafia ditenteng di tangan, langkah kalian terus disaksikan pinus-pinus_yang barangkali_mereka juga kedinginan tanpa pelukan. Namun, tekad kalian hanya satu, pergi mencari rezeki dan kehidupan layak agar mandiri demi anak-anak.
Kau mengantar suamimu sampai di depan kantor kecamatan. Tempat angkot-angkot menunggu penumpang untuk dibawa ke terminal di pusat kabupaten. Entah berapa ribu langkah kalian hingga sampai di tempat itu. Ada binatang kecil yang pernah kau temukan di pasar Cublak dulu dan terus ikut berjalan di belakangmu. Binatang yang pernah mengeong kelaparan di antara lalu lalang orang-orang yang belanja.
Kau gegas membawa pulang, merawat binatang yang mata kirinya sedikit busuk dan terluka saat itu. Ia tumbuh jadi kucing pejantan yang penurut dan selalu pipis di kamar mandi. Bulunya tiga warna, putih, hitam, dan kuning. Orang Jawa bilang belang telon (belang tiga). Kata orang kucing belang telon lumrahnya betina. Jikapun ada yang jantan, ia sepuluh ribu satu kemungkinan dari takdir kelahiran.
Ketika itu kau telaten merawatnya. Menyembuhkan lukanya hingga ia tumbuh besar dan gemoi. Kau yang awalnya risih dan tak suka, mendadak sering memberikan apresiasi ketika ia sering menangkapi tikus nakal yang sering berjalan di atas plafon. Tikus-tikus itu menganggap rumahmu jalan raya menuju angkasa. Kucingmu itu juga sering menemanimu pergi ke mana pun. Ke hutan untuk mengarit pakis dan rumput untuk pakan kambing etawa-mu. Belanja ke pasar Cublak untuk membeli dawet goreng atau gembel untuk ibumu. Dan ia tak pernah menggigit, mencuri pindang di lemari makan, atau pipis di kasur.
Kau heran. Dulu kau pernah memelihara kucing, tetapi kau buang lagi karena ia lebih suka mencuri laukmu. Kucingmu kali ini beda, bahkah seolah ia sering melamun di teras sambil memandang ke depan dengan bertumpu dua kaki di kursi. Serupa jelmaan almarhum kakek yang reinkarnasi kembali. Bedanya, kucingmu itu tidak merokok seperti mendiang.
Namun hari ini kucingmu yang tadinya penurut jadi bertingkah aneh. Seolah ingin mengikuti suamimu. Kau jelaskan dalam bahasa manusia bahwa ia akan kembali. Suamimu itu sering sekali membawakan makanan kemasan untuknya yang dibeli dari Indoapril jika selesai mendapat gaji dari mengangkut kayu gelondongan di hutan. Dan hari ini, karena telepon dari kakakmu, dan demi kehidupan yang layak di kota, suamimu ingin berangkat mengadu nasib ke sana. Padahal, kau tahu, hidup di kaki perbukitan Menoreh tak kalah syahdu dan indah. Bahkan, kampungmu yang dulu tak terjamah, kini atas sulapan Pak Saimin dibantu remaja Karang Taruna, hutan pinus di kampungmu telah jadi tempat wisata yang menawan. Sambil mengarit di sekitar hutan, kau sering membaca gerbang unik dari anyaman bambu di depan itu: “Selamat Datang di Hutan Pinus Kalilo”.
Orang-orang kota selalu membandingkan jika hidup di desa begitu sunyi, begitu syahdu, begitu asri, begitu indah. Orang-orang desa ingin hidup seperti orang kota, hidup dalam gelimang harta, mobil mengkilat, kulit putih bersih dengan skincare yang mahal, ke mana-mana belanja karena banyak uang. Namun, kau yakin kebahagiaan tak pernah bisa diukur seperti itu. Kau yakin apa yang diucapkan kakekmu dulu, “Hidup itu mengikuti alur takdir yang Maha Kuasa. Semua punya jalannya masing-masing. Tak perlu membandingkan dengan orang lain. Apa yang terlihat indah, belum tentu tak sebagus di kenyataan.” Kau ingat sekali lagi pesan itu dan seolah memang benar. Hidup hanya menjalankan takdir yang kuasa, semua yang kita lihat, kita prasangkakan, kadang tak sesuai dengan aslinya. Tak perlu dibandingkan.
Namun, kau tak akan pernah bisa menahan suamimu. Apalagi di kota itu, suamimu juga bekerja dengan kakak kandungmu. Rasa-rasanya tak perlu kau mengkhawatirkannya. Bayanganmu jika mendapat uang banyak di kota, maka kambing-kambingmu akan bertambah. Barangkali kau bisa membeli pekarangan di kaki bukit desa seberang, membangun rumah, dan pisah dari rumah ibu. Saat kau tahu jika tiket bus yang berangkat adalah tepat hari Sabtu Kliwon, sore pukul lima, kau menelan ludah. Ada yang tercekat di tenggorokan, serupa duri ikan asin yang tersangkut dan rasanya nyeri di leher.
“Kenapa tak berangkat Minggu pagi saja Mas?”
“Senin pagi aku sudah harus bekerja Nduk. Itu juga pesan dari Mas-mu di sana.”
Sejujurnya ada perasaan aneh dalam dada. Seolah hari itu kau enggan dan tak ingin ditinggal suamimu. Padahal biasanya pun, yang sudah-sudah, kau terbiasa ditinggal ke luar kota untuk mencari tambahan rezeki. Entah kenapa hari ini kau menyimpan rasa aneh. Kucing belang telon milikmu seolah tak mau ditinggal dan terus mengikuti suamimu, bahkan ketika kau mengantarnya di depan kantor kecamatan untuk naik angkot menuju terminal. Kucingmu yang tadinya penurut, menggigit celana suamimu. Kau berusaha melepaskan gigitan itu.
Melambaikan tangan pada suamimu. Kau mengajak kucingmu untuk pulang. Ia mengikutimu dari belakang dan terus mengeong. Namun, sekira lima belas menit perjalanan menyusur jalan setapak arah pulang, saat kau menoleh dan berhenti, kucingmu tak ada di belakangmu. Kau kaget, aneh, apakah ia kembali lagi ke kantor kecamatan dan menyuruh suamimu pulang? Bukankah kau terus mendengar ia tak berhenti mengeong di belakang?
Kau gegas kembali ke kantor kecamatan saat orang lain lalu lalang menunggu angkot yang ingin mengangkut tubuh-tubuh mereka ke terminal kota kabupaten. Kucingmu tak ada, suamimu telah pergi berangkat. Kau terus memutar dan mencari, tetapi tetap tidak ada. Kau segera pulang naik angkot kembali, karena ponselmu di rumah, sedang diisi daya. Barangkali dengan telepon semuanya akan terjawab. Namun, telepon darimu tak pernah terjawab suamimu. Batinmu gusar. Kau mengira jika mungkin di perjalanan terlalu bising hingga tak mendengar suara panggilan telepon.
Sejam, dua jam, bahkan hingga malam, kau menunggu. Menunggu kabar suamimu dan kucingmu yang tiba-tiba hilang itu. Ingin rasa-rasanya kau berangkat sendiri ke terminal demi memastikan semuanya. Namun, perjalanan tiga jam ke sana, seorang perempuan, seorang ibu dua anak yang masih kecil-kecil, menembus pekat kabut dan jalan gelap berliku menurun, rasa-rasanya kau tak akan mampu. Kau bahkan tak bisa naik motor. Kau hanya perlu berdoa semoga keselamatan selalu menyertai suamimu.
Namun, hari Sabtu Kliwon, hari meninggalnya bapakmu, hari meninggalnya Bulik Sri bibimu, hari meninggalnya keponakanmu Kas, seolah tiga kematian di hari yang sama jadi pertanda buruk. Namun, suamimu sungguh tak percaya itu. Kau sering dibilang kolot dan masih percaya hal seperti itu. Ia lebih percaya dunia terus berubah dan semua berjalan sesuai takdir pemilik semesta.
Kau menelepon kakakmu di kota, memastikan semuanya. Dan berharap jika suamimu sampai di sana, untuk segera meneleponmu. Namun, semalam itu kau tak bisa tidur bahkan hingga subuh berdentang. Pagi hari kau melihat berita di TV, sebuah kecelakaan maut bus yang masuk jurang dan menewaskan seluruh penumpang dan sopirnya. Dadamu bergemuruh hebat, sapu ijuk yang kau pegang di tangan segera kau lempar. Anak-anakmu sudah berangkat ke sekolah.
Ibumu pergi ke hutan mencari kleang (daun cengkih kering). Kau sendirian. Kau ketakutan. Kau gemetaran. Saat membaca nama bus yang terguling sama dengan nama bus di tiket yang kau baca di senja itu. Arah tujuan bus itu juga sama dengan tujuan kota suamimu. Kau hanya ingin semoga suamimu menumpangi bus lain. Namun, apakah takdir bisa direkayasa? Rasa-rasanya tidak.
Kau berlari ke hutan, mencari ibumu, mengabarkan semuanya. Menelepon kakakmu yang dari tadi berkata adik iparnya belum sampai. Sungguh, ada yang bergolak di dadamu serupa air mendidih. Namun, bukan amarah, tetapi rasa khawatir, rasa ingin menangis dan teriak jika berita di televisi benar adanya.
Hingga matahari yang masih dingin tepat di atas rumahmu dan diapit pepohonan jambu dan mangga, kau masih menunggu kabar suamimu. Sedetik serasa sejam. Kau tak tahu apa yang harus kau lakukan. Hanya bisa berdiam di depan teras, menerawang, melamun. Siang telah berjalan sempurna dan rencananya Pak RT akan ke terminal dan konfirmasi di tempat kejadian, juga menanyakan nama-nama korban.
Namun, di siang yang masih dingin itu, kau lihat sesosok bayangan berjalan menuju rumahmu, dalam pekat kabut. Kau terus memperhatikan jika ia terus berjalan mendekatimu. Memakai tas di punggung, menenteng kardus tali rafia di tangan kiri. Dengan kaus oblong hitam, celana panjang abu, sendal jepit putih, ia berjalan ke arahmu, dan mungkin kau menganggap semua mimpi, atau ia hantu.
“Nduk, Mas enggak jadi berangkat. Kucingmu itu rewel. Malah ikut naik angkot. Kemarin sore di terminal gigit celanaku sampai sobek. Nih. Lihat. Kebetulan ketemu temanku yang rumahnya belakang terminal, suruh nganter kucingmu ini pulang. Takut kamu nyari. Eh, gara-gara kucing ini gigit kakiku terus ya akhirnya tiket batal. Pas pegang ponsel juga. Duh jatuh HP-nya, nih retak sampai mati. Enggak apa-apa ya. Tiket hangus bisa beli lagi. HP nanti mas beli lagi. Telepon dulu saja sama Mas di sana.”
Kau gegas memeluknya. Di depanmu, angin lembut dan dingin dari atas bukit menuju lembah mendadak menyapamu di antara suara sesenggukan, mengabarkan rindumu itu yang semalam kau tunggu. Namun, suamimu sungguh bingung, alisnya mengerut, kau menangis karena kecewa tiketnya batal, ataukah karena ponselnya rusak? Yang suamimu rasakan saat itu, pelukanmu semakin erat.
Tak ada yang perlu kau jawab. Dari semua yang ia katakan, kau tak yakin ia hantu atau arwah. Ia nyata. Kau terus memeluknya, menangis, lalu melihat kucing di bawah terus memandangmu ke atas, seolah ingin berkata “Terima kasih telah menolongku saat itu.”
Dody Widianto lahir di Surabaya. Ratusan karyanya tersiar di berbagai media massa nasional. Bisa dikunjungi di akun IG: @pa_lurah
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
