Seorang warga Iran memegang poster pemimpin tertinggi baru Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, Iran, 11 Maret 2026. | EPA/ABEDIN TAHERKENAREH

Internasional

Syarat Maksimum Iran untuk Gencatan Senjata

Iran meluncurkan serangan balasan gelombang ke-80, kemarin.

TEHERAN – Iran terus menyangkal tengah terlibat negosiasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat. Mereka menuntut ganti rugi atas serangan terhadap Iran, pencabutan semua sanksi, dan penutupan semua pangkalan militer AS di Teluk Persia sebagai syarat gencatan senjata dengan AS dan Israel. 

Hal ini disampaikan menyusul isyarat dari Presiden AS Donald Trump yang ingin menghentikan peperangan yang ia mulai sejak Februari lalu.

Iran juga menginginkan jaminan bahwa perang tidak akan terjadi lagi, serta penghentian serangan Israel terhadap proksi Iran, Hizbullah, di Lebanon, kata Journal. Ini dilaporkan media AS Wall Street Journal, mengutip orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Tuntutan Iran juga dilaporkan mencakup pengaturan baru di Teluk yang memungkinkan Republik Islam memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz yang strategis, yang biasanya dilalui oleh seperlima minyak dunia.

Sementara itu, Iran menolak untuk menegosiasikan batasan program rudal balistiknya, menurut WSJ. Kondisi Iran yang disebutkan dalam laporan tersebut tidak membahas program nuklir negara tersebut. 

photo
Pangkalan miiter AS di Timur Tengah - (CFR)

Surat kabar tersebut mengutip seorang pejabat AS yang mengatakan bahwa tuntutan Iran sangat berat, dan para pejabat Arab dan AS mengatakan bahwa sikap Iran membuat kemungkinan tercapainya kesepakatan menjadi lebih kecil dibandingkan sebelum perang. 

Sumber yang dikutip oleh WSJ mengatakan pesan antara Iran dan AS disampaikan secara tidak langsung melalui perantara Timur Tengah akhir pekan lalu. Channel 12 melaporkan tadi malam bahwa AS telah mengajukan 15 poin rencana untuk mengakhiri perang yang mencakup penghentian dukungan Iran terhadap proksi teror regional, pembatasan program rudal balistik, dan penghentian program nuklirnya.

Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, mengatakan kepada India Today bahwa banyak negara telah menghubungi Iran, menawarkan untuk menjadi penengah dengan AS. "Ada pesan-pesan yang beredar selama beberapa hari ini... Kami telah menanggapi pesan-pesan itu. Pesan kami sangat jelas. Kami terus membela diri," katanya. 

Baghaei menambahkan bahwa klaim AS untuk mengupayakan perundingan tidak dapat dipercaya. "Lihatlah faktanya. Iran terus-menerus dibombardir dan dihujani rudal oleh AS dan Israel. Jadi klaim diplomasi dan mediasi mereka tidak dapat dipercaya. Karena merekalah yang memulai perang ini dan terus menyerang Iran. Jadi, adakah yang bisa percaya bahwa klaim mediasi mereka dapat dipercaya?" katanya. 

photo
Personel layanan darurat memeriksa kerusakan di lokasi sebuah bangunan yang terkena rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. - (EPA/ABIR SULTAN)

Sedangkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah berhubungan dengan mitranya dari Pakistan, serta diplomat di negara lain. "Jadi perundingan semacam ini sedang berlangsung antara Iran dan negara-negara tetangganya serta negara-negara sahabat lainnya. Kami memahami bahwa negara-negara di kawasan ini, negara-negara tetangga, prihatin dengan konsekuensinya dan semua orang berusaha membantu situasi menjadi lebih tenang," katanya.

 

Serangan Iran

Terlepas dari klaim Trump bahwa perang sudah selesai, Aljazirah melaporkan selama 24 jam terakhir serangan udara AS dan Israel terus berlangsung di Iran. Di seluruh Teheran, terdengar ledakan besar dan aktivasi pertahanan udara tadi malam. Selain ibu kota, serangan susulan lainnya juga terjadi di berbagai kota, seperti Isfahan. 

Sementara juru bicara kantor pusat Garda Revolusi Khatam Al-Anbiya Iran, menyatakan Iran siap terus berperang. Ia menyatakan, negosiasi yang dilakukan Trump hanyalah dengan dirinya sendiri. “Apakah tingkat konflik internal Anda sudah mencapai tingkat negosiasi dengan diri Anda sendiri?... Jangan menyebut kegagalan Anda sebagai sebuah kesepakatan,” ujar Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari dilansir Fars News.

Menurut Fars, Zolfaghari mengatakan harga minyak dan tatanan sebelumnya, tak akan kembali, “sampai keinginan kami terwujud”. “Ini akan tercipta ketika pemikiran untuk mengambil tindakan terhadap bangsa Iran benar-benar terhapus dari pikiran kotor Anda,” katanya.

"Kata-kata pertama dan terakhir kami sejak hari pertama adalah: Orang-orang seperti kalian tak layak berbicara dengan orang-orang seperti kami. Tidak sekarang, tidak selamanya.”

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengumumkan serangan gelombang ke-80 dari Operasi Janji Sejati 4, Rabu. Serangan itu menyerang titik-titik strategis dan pusat-pusat militer di sisi utara wilayah pendudukan, selain menghantam pos-pos terdepan Amerika di seluruh daerah tersebut.

photo
Kerusakan akibat serangan balasan Iran ke Kota Dimona, lokasi fasilitas nuklir Israel, Sabtu (21/3/2026) malam - (Ilan Assayag/Reuters)

Dalam sebuah pernyataan pada Rabu, IRGC mengatakan fase terbaru ini dilakukan oleh Angkatan Udara Korps untuk mendukung serangan-serangan yang dilakukan oleh gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon terhadap target-target Israel, dan penduduk Lebanon selatan.

"Titik-titik strategis dan pusat-pusat militer yang terletak di wilayah pendudukan utara dihancurkan di bawah serangan rudal dan berkelanjutan oleh Angkatan Udara IRGC," bunyi pernyataan tersebut.

IRGC mengatakan komando militer tentara Zionis di kota Safed di utara, yang bertanggung jawab untuk mengoordinasikan serangan dan pertahanan di sepanjang perbatasan utara wilayah tersebut, termasuk di antara target utama. 

Korps tersebut mengatakan bahwa titik-titik berkumpul pasukan Zionis di utara dan wilayah Gaza akan menjadi sasaran serangan rudal dan drone berat. IRGC menegaskan tidak akan sedikit pun mengalah selama melakukan serangan balasan ini.

IRGC lebih lanjut menyatakan bahwa target di wilayah pendudukan tengah, termasuk Tel Aviv, Kiryat Shmona, dan Bnei Brak, bersama dengan pangkalan militer AS di Ali al-Salem dan Arifjan di Kuwait, al-Azraq di Yordania, dan Sheikh Isa di Bahrain, dihantam dengan rudal presisi berbahan bakar cair dan padat serta drone serang.

Media di AS dan Israel, mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Washington telah mengirimkan 15 poin rencana ke Iran untuk mengakhiri perang. The Wall Street Journal melaporkan bahwa rencana tersebut menyerukan Iran untuk membongkar tiga situs nuklir utamanya dan mengakhiri pengayaan uranium apa pun di wilayah Iran. 

Mereka juga menyerukan kepada Teheran untuk menghentikan program rudal balistiknya, membatasi dukungan terhadap proksi dan membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya. Sebagai imbalannya, sanksi terkait nuklir Iran akan dicabut dan AS akan membantu program nuklir sipil negara tersebut, 

photo
Citra satelit dari Planet Labs PBC ini menunjukkan situs pengayaan nuklir Natanz di Iran setelah serangan Israel pada Sabtu, 14 Juni 2025. - ( Planet Labs PBC via AP)

Channel 12 Israel, mengutip tiga sumber, mengatakan AS mengupayakan gencatan senjata selama sebulan untuk membahas rencana 15 poin tersebut. Dikatakan bahwa rencana tersebut mencakup penghentian program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi, dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kantor berita Reuters melaporkan bahwa sumber yang mengetahui masalah tersebut mengonfirmasi bahwa AS telah mengirimkan rencana tersebut ke Iran.

Presiden Donald Trump pada Rabu mengklaim bahwa “perang telah dimenangkan”, dan mengatakan bahwa kampanye gabungan AS-Israel melawan Iran telah membunuh para pemimpin tertinggi dan bahwa Teheran telah setuju untuk tidak pernah membuat senjata nuklir. 

Iran menyangkal perundingan dan menyatakan pihaknya tidak menginginkan senjata nuklir. Trump juga mengisyaratkan “hadiah” terkait dengan minyak, gas, dan Selat Hormuz, namun tidak memberikan batas waktu untuk mengakhiri permusuhan.

Tak lama kemudian Trump kembali mengadakan konferensi pers mengenai situasi di Iran. Dan sekali lagi, dia mengatakan bahwa AS memenangkan perang; bahwa mereka telah menghancurkan sebagian besar kapasitas militer Iran; bahwa mereka mengendalikan negara. 

Tentu saja, kenyataan di lapangan sangat berbeda, karena Iran terus menguasai Selat Hormuz, yang berdampak sangat besar terhadap perekonomian global. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat