Warga Iran berjalan melewati papan iklan besar anti-AS yang mengacu pada presiden AS Donald Trump dan Selat Hormuz di alun-alun Valiasr di Teheran, Iran, 2 Mei 2026. | EPA/ABEDIN TAHERKENAREH

Internasional

Iran Ancam Bikin Bom Nuklir?

Trump dilaporkan condong kembali serang Iran.

TEHERAN – Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran kian rapuh. Saling ancam mewarnai kebuntuan yang tak kunjung cair belakangan.

Pada Selasa, parlemen Iran mengancam akan mengizinkan pengayaan uranium mencapai 90 persen yang bisa dipakai membuat senjata nuklir. Ancaman ini terkait kabar Presiden AS Donald Trump bersiap kembali menyerang Iran.

Juru bicara Komisi Parlemen Iran Ebrahim Rezaei mengatakan salah satu tanggapan Iran jika terjadi serangan AS-Israel lagi di wilayahnya “bisa berupa pengayaan 90 persen”. “Kami akan mengkajinya di parlemen,” kata Rezaei dalam postingan di X.

Saat ini, Iran diketahui telah berhasil mengayakan uranium hingga 60 persen. mereka memiliki sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya ini. AS mendesak Iran melepas kepemilikan uranium tersebut meski Iran berulang kali menyatakan tak akan menggunakannya untuk membangun senjata nuklir.

Pengayaan uranium hingga 90 persen merupakan titik yang sangat sensitif dalam dunia nuklir. Dalam praktiknya, kadar itu dikenal sebagai weapons-grade uranium atau uranium tingkat senjata. Artinya, uranium sudah cukup “murni” dalam kandungan isotop U-235 sehingga dapat dipakai sebagai bahan inti bom nuklir.

photo
Citra satelit dari Planet Labs PBC ini menunjukkan situs pengayaan nuklir Natanz di Iran setelah serangan Israel pada Sabtu, 14 Juni 2025. - ( Planet Labs PBC via AP)

Secara teknis, uranium alam sebenarnya hanya mengandung sekitar 0,7 persen U-235. Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, kadar ini biasanya dinaikkan menjadi sekitar 3–5 persen. Sementara untuk sebagian reaktor riset dapat mencapai 20 persen. Namun ketika pengayaan mendekati 90 persen, dunia internasional mulai melihatnya bukan lagi semata kebutuhan energi, melainkan potensi militer.

Proses pengayaan dilakukan dengan memisahkan isotop uranium menggunakan sentrifugal berkecepatan tinggi. Semakin tinggi kadar U-235, semakin besar kemampuan material itu menghasilkan reaksi fisi berantai yang sangat cepat dan dahsyat. Di titik inilah hubungan dengan senjata nuklir muncul.

Secara sederhana, bom atom membutuhkan material fisil dalam konsentrasi sangat tinggi agar ledakan nuklir dapat tercipta dalam sepersekian detik. Uranium 90 persen memungkinkan proses itu berlangsung. Karena itu, negara yang sudah mampu memperkaya uranium sampai level tersebut dinilai telah melewati sebagian besar hambatan teknis menuju kemampuan membuat senjata nuklir.

Meski demikian, memiliki uranium 90 persen tidak otomatis berarti sebuah negara telah memiliki bom nuklir. Masih ada tahapan lain yang sangat rumit, seperti desain hulu ledak, mekanisme peledakan presisi tinggi, miniaturisasi, sistem pemicu, hingga integrasi dengan rudal atau pesawat pembawa.

Namun dalam pandangan lembaga pengawas internasional seperti International Atomic Energy Agency, pengayaan 90 persen dianggap sebagai “zona merah” karena jaraknya sudah sangat dekat dengan kapasitas persenjataan.

photo
Citra satelit yang disediakan oleh Maxar Technologies menunjukkan fasilitas nuklir Natanz di Iran pada 24 Januari 2025. - (Maxar Technologies via AP)

Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan terhadap Iran setelah negosiasi antara kedua negara tampaknya menemui jalan buntu, CNN melaporkan.

Presiden AS semakin frustrasi dengan Iran selama perundingan damai, kata sumber kepada outlet tersebut. Sebelumnya pada hari itu, dia memperingatkan bahwa gencatan senjata AS-Iran sekarang sedang dalam fase kritis.

Iran membalas komentar Trump sebelumnya, dengan menyebut saran mereka “sama sekali tidak dapat diterima”. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengatakan usulan Teheran “murah hati” dan “sah” dalam konferensi pers pada hari Senin.

Iran “menuntut diakhirinya perang, mencabut blokade dan pembajakan (AS), dan melepaskan aset Iran yang dibekukan secara tidak adil di bank karena tekanan AS,” kata Baghaei.

Dia mengatakan bahwa gencatan senjata tersebut sekarang “sangat lemah” karena proposal tak masuk akal AS. “Kesepakatan sangat lemah saat ini setelah membaca seonggok sampah yang mereka kirimkan kepada kami”.

Presiden AS menginginkan perjanjian yang lebih menguntungkan dibandingkan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) era Obama, yang akan “sulit” untuk dicapai, kata seorang analis.

Retorika Trump yang berapi-api juga tidak membantu mencapai kesepakatan dengan Iran, kata Foad Izadi, seorang profesor di Universitas Teheran.

“Ketika dia berbicara tentang penghancuran peradaban Iran, mengembalikan Iran ke Zaman Batu, melihat pukulan besar di Iran – setidaknya di Iran, orang-orang mengira yang dia maksud adalah menyerang Iran dengan senjata nuklir,” kata Izadi kepada Aljazirah dari Teheran.

Namun salah satu alasan dia tidak melakukan hal ini adalah karena adanya pengayaan uranium di negara tersebut, katanya.

“Karena jika Trump menyerang Iran dengan senjata nuklir atau mengancam akan menyerang Iran dengan senjata nuklir, maka hal itu akan memberikan izin kepada Iran untuk melakukan sesuatu dengan uranium yang diperkaya tersebut.”

Namun, tidak ada pihak yang menginginkan perang besar lagi dan penyelesaian damai lebih diutamakan, kata Izadi.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat