Sastra
Oase Baris-Baris Ramadhan
Puisi Eddy Pranata PNP
Oleh EDDY PRANATA PNP
1
saur, awal ramadan, gerimis: sungguh berat salah-dosa
kupanggul hingga ke pintu musala; subuh bergeming
: "Tuhanku, air-mata, pedih-perih luka kunikmati sepenuh puisi!"
ampun aku ....
2.
aku telanjang dan kubiarkan matahari membuat ini tubuh
kucur keringat, sebab puasaku sunyi, nyeri nyaris tak ada
tadarus imaji liar: "Tuhan, aku tidak gila pahala, aku hanya mau
bait-bait puisi!"
3.
gerimis turun; tak ada yang kurindu selain ayat-ayat-Mu
membungkus tubuhku: "kalau sampai ajalku, di pusara, ukirlah
sebuah sajakku tentang cinta kasih tulus yang mahaduka!"
au, yang maha segalanya...
4.
setelah imsak; segera aku naik ke atas perahu, aku layari laut
ihdinasirotolmustaqim-- dengan penuh sukacita
: "hidup matiku adalah puisi untuk-Mu yang mahakasih!"
subhanallah ....
5.
: "selama ramadan ini aku mau mawar setiap hari!" ia pun
memetik mawar di halaman, beberapa kelopak gugur, hati berdebur
: "tajam sekali durinya, o, jariku berdarah!" jeritnya
luka mawar tak membuatnya sakit hati, ia binar mata, doa paling sederhana
: "Tuhan, kumau mawar puisi setiap hari!" o, doa mawar...
6.
menjelang subuh, sekerat rembulan terayun di langit, redup cahaya
ada langkah kecil ke arah rumah-Mu, bibir dan hatinya bergetar
: "tuhan, kalau sampai cintaku, kumau yang paling ngilu!"
...au, sembilu itu...
7.
usai tarawih gerimis tak kunjung reda-- di halaman musala
seorang musafir fakir berdiri gemetar, sorot matanya redup, suaranya
lirih; "tuan penyair, kebahagiaan serupa apa engkau rindukan? hidup
hanya serupa teka-teki, masalah demi masalah timbul-tenggelam
usia kian menua, cuaca sulit diterka, zikirlah!"
aku terpesona, takjub; kebahagiaan serupa apa aku rindukan?
tak ada, tak ada; selain imaji dan kata-kata, au, puisi, cahaya....
8.
langit sebentar mendung sebentar terang; rinduku pada-Mu
berderu; iyakana'buduwaiya kanasta'in sepenuh hidupku
: "izinkan, aku menuju cahaya-Mu dengan langkah hati-hati
seikhlas-sesederhana puisiku!" au, langit sebentar mendung
sebentar terang, rinduku pada-Mu berderu serupa dua mata sembilu!
9.
di teras musala angin semilir; malam kian menua, aku ingin doa
menggetarkan langit: "yang maha suci beri aku satu puisi paling tajam
mengiris-mencincang dosa-salahku, sepanjang usia!"
au, malam kian menua....
10.
ada bisik halus entah dari mulut siapa, yang jelas mirip suara kekasih
: "nikmat apa lagi kaudustakan? seluka apa pun sesembilu apa pun!"
embun mengapung, jalanan membelah petak sawah, burung-burung
beterbangan, bisik halus itu kembali mengiang: "hidup matimu
adalah puisi-- adalah segala yang berupa keikhlasan!"
au, debar dada, ada tangan gaib menyeretku ke dalam keheningan,
aku menjelma cahaya; "ruang ini, bumi puisi, surga kecilmu!"
11.
tidak apa-apa jika kauhindari sinar matahari-- menepi lalu sembunyi
dari segala Cahaya, masuk ke liang labirin samar-samar;
memeluk puisi sepenuh jiwa: "aku ingin menjauh dari segala sembilu,
dari beling berserak sepanjang jalan-- au, aku mau doa meruntuhkan
kecemasan; gelombang pun kencang deru angin, mengekalkan kesetiaan!"
12.
: "aku dan semua lukaku adalah puisi bagimu, tuan penyair!
peluk-kecup apa lagi kau rindukan?" deru angin bukit merobek sejarah kecil;
kesetiaan dirajah pengkhianatan, tak ada lagi senyum dan kerling mata,
tak ada lagi kabar berita: "au, telah jauh berperahu membelah-belah selat
berpendayung Cahaya, lihatlah, camar meliuk terluka hinggap di atas
mercusuar-- darah tetes menjelma kenangan jingga!"
au, kenangan jingga....
13.
aku tidak memikirkan hari raya, dalam tadarus dan zikirku hanya ingin
menyembuhkan luka: "yang tak pernah mengering; luka sembilu;
telah bertahun-tahun mungkin hingga matiku-- hingga liang paling nyeri
au, tadarus dan zikirku untuk-Mu yang mahaluka!" aku berserah....
14.
tarawih ini malam usai; hujan deras, jalan setapak, petir dan kilat silih-berganti
: "aku mencari keheningan dan kenikmatan pada deras hujan pada cahaya
berpendar yang berjatuhan dari langit!" au, aku serupa zombi dalam labirin
mendebarkan, berjalan zig-zag seraya terus mendesiskan nama-Mu: subhanallah...
15.
siang panas berdangkang; aku ingin bertemu denganmu, bercerita seorang
penyair papa nyaris tak punya apa-apa, selain kesetiaannya pada hal-hal
humanis; mengelus kepala anak yatim, berbagi rezeki kepada kaum miskin
dan tidak suka bicara, tidak mau menyakiti lain orang: "kalau kalian bersua
dengannya beri ia senyum, dan satu puisi kehidupan yang paling sederhana!"
au, siang telah berubah jadi mendung tebal menggantung awan….
16.
aku rela miskin harta, tapi tidak miskin hati-- suara itu bergetar dari atas
kubah musala, bulan berkilau di atas daun pisang: "sesedih apapun hanya
kepada puisi aku mengadu, tidak kepada kekasih atau lain orang
biar sendiri kutanggung seluruh pahit-getir!" embun merenung, au,
nikmati saja kilau bulan di atas daun pisang....
17.
walau aku musafir fakir; kumau tak sejengkal berjarak dengan-Mu, tak
sedetak-detik terpisah dari-Mu, kumau langit biru; semilir angin, dan
mawar, mawar, mawar: "gugurlah seluruh salah dosaku, ampun, ini tubuh
sarat luka sembilu!" au, kumau wajahku-wajah-Mu bersitatap padu-sendu,
agar tak ada deru ngilu....
18.
udara cerah; baju kaos merah, membelah-belah sawah, au-- jangan
lepas genggaman: "aku sering terpikir bagaimana musim panen engkau
tiada lagi; entah ke mana, mungkin asal melangkah ke mana pun,
bukan mengikuti kata hati, ampun, ya tuhan, beri aku kekuatan, beri jalan
keluar agar bersatu selamanya!" waktu luruh, tak ada pelukan puisi—
hanya cium kening dan senyum tipis lalu sunyi, dan setiap kepergian
adalah debar rasa kehilangan ....
19.
dari setiap huruf ayat-ayat-Mu, aku berlindung dari segala kutukan
aku mau jiwa paling terbuka, hati bijaksana; puisi marwah cinta
: "au, jangan terjatuh di lubang serupa, sakit perih tiada Penawar
maka menangislah atas nama mawar mekar, segalanya begitu
tanpa pamrih; air mata leleh, ruang dan waktu catat sejarah!"
dari setiap huruf ayat-ayat-Mu, ruang dan waktu memenuhi sunyi
serindu-rindu ngilu!
20.
aku tanam pohon kebaikan-- sekecap harapan, tumbuh ketentraman
lapar hausku untuk-Mu, aku nikmati percik matahari bercucur keringat
mengalir kedamaian, tak mau aku pertengkaran, tak mau aku
kemunafikan, guruku pohon kebaikan; "aku mau pohonku bercabang-
cabang ke tanah-tanah Cahaya ke belukar imaji surealis kata-kata!"
au, lapar hausku menggapai tangan fitrah-Mu.
21.
menjelang makan sahur, bukalah jendela, dan lihatlah sepotong rembulan
di atas pohon mahoni menjulang, berdiam sunyi serupa menahan kesendirian
yang perih: "andai engkau harus pergi, jangan putuskan komunikasi; pungutlah
kerlip kunang-kunang, luka tak akan menghapus cinta!" au, tak ada angin,
hanya serpihan embun melayang berjatuhan ….
22.
ia telah menjelma ular berkepala dua; menjulur-julur lidah, mendesis…
: "kusembur bisa; kulilit, dan kumangsa siapa pun terjebak dalam labirin dusta
cinta dan harta nyaris tak berguna, hanya dendam, dendam..." ia pun
menjelma biawak; bergerilya dari satu kota ke lain kota mengusung kebohongan-
kebohongan dengan begitu sempurna walau sejatinya, ia tetap ular berkepala dua
: "lidah menjulur-julur seraya terus menyemburkan bisa!"
23.
di tujuh hari terakhir ramadan aku ingin mengetuk pintu langit dengan doa
dan tadarus; lailatulqodar bergetar-getar dari ribuan sayap malaikat, sejuk-
sunyi dalam jiwa: "ya gusti, aku mau puisi penuh arti, sepanjang siang
dan malam meraih berkah ramadan dengan sukacita!" di tujuh hari terakhir;
perlahan kulepas rinduku pada wajah-Mu….
24.
sepanjang hari ini mendung; dan kuharap malam menciptakan sunyi yang
damai; tafakur-- mencari hati putih di kedalaman diri
: "aku ingin menjadi cahaya yang memancar kebaikan ke semua orang
hingga ke lorong paling asing, cinta kasih yang tulus!" au, bergeraklah
ke jalan lurus; arohmanirohim....
25.
pintu gerbang itu berderit; langkah tergesa ke musala; jalan kecil,
gerimis, dan separuh rembulan terayun di langit keruh, tarawih di pekan akhir,
hati debar: "rindu menderu-deru, alohuma soli'ala muhammad; aku berserah
bagai kertas putih pada wangi bayi-bayi, fitri, tak ada duri dendam lagi!"
au, gerimis hilang, udara begitu panas, rindu kian menderu-deru ….
26.
angin semilir, usai sahur, sekerat rembulan tergantung cemas di langit gelap
seribu harap bergeriap dalam sukma: fabiayi alaa-i robikuma tukadziban
: "luka itu, luka itu, berdarah kembali, Kekasih, jangan ada tangis lagi!"
au, angin semilir, sekerat rembulan tergantung cemas….
27.
di hari-hari akhir ramadan, aku memburu rahmat-Mu: fitrah, fitrah, fitrah
dan selalu ingin menyium bau surga; perahu yang kian merapuh
diayun ombak-gelombang dalam pelayaran o, kesetiaan pada
kerlip mercusuar memancar cahaya--- fitrah, fitrah, fitrah
: "amuk aku dengan ombak-gelombang-Mu sedahsyat-dahsyatnya, hingga
menyium bau surga!" sepanjang kasih sewangi-wangi puisi....
28.
di hari kedua puluh delapan imsak Ramadhan; izinkan aku perlahan menjelma nol
sesuatu tak punya nafsu, tak memelihara waktu sia-sia dan aku ingin mulutku
lebih harum dari minyak kasturi, aku ingin musnah di langit, menyatu dengan
kasih-sayang-Mu! au, gema suara azan subuh; bumi bergetar-getar, aku ingin
menjelma nol ….
29.
: subhanallah wabihamdih; tak ada rasa lapar haus, ini puasaku untuk-Mu
zakat, sedekah, zikir, jiwaku menggapai cahaya-Mu dan gema bedug berbuka
tiga butir kurma, air putih, melatih sabar, dan lihatlah orang-orang kurang
beruntung menahan lapar entah sampai kapan
: "aku mau tidak hanya di Ramadhan candradimukaku, aku mau fitrah sepanjang
ruang waktu berkah!"
30.
selaut-laut dosaku-- ampun, aku ingin selalu memegang kunci surga: la ilaha illallah....
Cirebah, Ramadan, 1446 H/2025 M
Eddy Pranata PNP— penyair Minangkabau kelahiran kota Padang Panjang, 31 Agustus 1963. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017), Jejak Matahari Ombak Cahaya (2019), Tembilang (2021).
Puisinya disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Kompas, Tempo, Media Indonesia, Indopos, Suara Merdeka, Republika, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Raykat, Medan Pos, Riau Pos, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Minggu Pagi, Asyik.asyik.com., dll. Puisi-puisinya juga terhimpun ke dalam puluhan antologi bersama.
Tahun 2025 bulan September mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta dan ia adalah penerima apresiasi/penghargaan dari pemerintah (Badan Bahasa) tahun 2025 atas dedikasinya berkarya sastra terus menerus sejak tahun 1980 s/d 2025.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
