Internasional
Caracas Membara, Venezuela Siap Perang
Presiden Trump menyatakan pasukan AS telah menangkap Maduro.
CARACAS – Sejumlah ledakan besar terdengar di ibu kota Venezuela, Caracas pada Sabtu dini hari sementara pesawat-pesawat tempur terdengar terbang rendah di negara yang belakangan jadi sasaran militer Amerika Serikat tersebut. Serangan besar-besaran itu dipastikan mengguncang kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengakui Amerika Serikat telah melakukan “serangan besar-besaran” terhadap Venezuela pada Sabtu. Ia juga mengatakan pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Dalam sebuah postingan di Truth Social, Trump mengatakan Maduro dan istrinya telah “ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri” setelah operasi tersebut. Ia berdalih serangan itu dilakukan “bersama penegak hukum AS”. Sedangkan CBS News melaporkan bahwa Delta Force AS terlibat dalam penangkapan Maduro.
Sebagai reaksi pertama terhadap serangan yang menargetkan ibu kota Caracas, Menteri Luar Negeri Venezuela Yván Eduardo Gil Pinto menyatakan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah mengeluarkan keputusan untuk mengumumkan keadaan darurat di negaranya dan beralih ke pertempuran bersenjata. Ia memerintahkan pengerahan segera seluruh pasukan pertahanan populer di seluruh negeri.
Menteri tersebut menambahkan dalam pernyataannya bahwa serangan-serangan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB dan mengancam perdamaian dan stabilitas internasional, serta memperingatkan bahwa “usaha apa pun untuk mengubah rezim yang berkuasa di negara kita akan gagal, sama seperti semua upaya sebelumnya yang telah gagal.”
Menteri Luar Negeri Venezuela menuduh Amerika Serikat berada di balik serangan baru-baru ini yang menargetkan kawasan pemukiman dan infrastruktur. Dia menambahkan bahwa Venezuela berhak membela rakyat, wilayah, dan kedaulatannya secara sah. Ia menyatakan bahwa tujuan penyerangan adalah untuk merampas sumber daya negara, khususnya minyak dan gas.
Koresponden Aljazirah melaporkan bahwa gambar yang berasal dari kota tersebut menunjukkan gumpalan asap membubung dari berbagai penjuru ibu kota. Saksi mata di Caracas melaporkan mendengar ledakan berulang kali dan suara pesawat di atas, yang menurut laporan awal menunjukkan bahwa serangan tersebut dilakukan melalui serangan udara.
Media Venezuela juga melaporkan ledakan di pelabuhan La Guaira di negara bagian Vargas, pelabuhan terbesar di Venezuela, serta di sepanjang pantai negara itu dan di kota Higueroti. Serangan tersebut juga menargetkan Bandara Higueroti, Pangkalan Udara La Carlota, dan kompleks militer Fort Tiuna.
Reuters melaporkan listrik padam di daerah dekat pangkalan militer di selatan ibu kota, namun belum ada komentar resmi dari pihak berwenang Venezuela. Badan tersebut menambahkan bahwa pesawat, suara keras, dan setidaknya satu kolom asap terdengar dan terlihat di Caracas pada Sabtu dini hari.
Beberapa dapat dilihat dari kejauhan dari berbagai wilayah di Caracas. "Seluruh tanah berguncang. Ini mengerikan. Kami mendengar ledakan dan pesawat terbang," kata Carmen Hidalgo, seorang pekerja kantoran berusia 21 tahun, suaranya bergetar. Dia berjalan cepat bersama dua kerabatnya, kembali dari pesta ulang tahun. “Kami merasa seperti udara menerpa kami.”
Hal ini terjadi ketika militer AS dalam beberapa hari terakhir menargetkan kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba. Pada Jumat, Venezuela mengatakan pihaknya terbuka untuk merundingkan perjanjian dengan Amerika Serikat untuk memerangi perdagangan narkoba.
CBS News melaporkan bahwa para pejabat di pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengetahui laporan soal ledakan dan pesawat yang terbang di atas Caracas. “Presiden Trump memerintahkan serangan terhadap lokasi di dalam wilayah Venezuela, termasuk fasilitas militer,” ujar jurnalis CBS Jennifer Jacobs di X, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.
Reuters mengatakan mereka diberitahu oleh seorang pejabat AS, yang tidak ingin disebutkan namanya, bahwa AS melakukan serangan di Venezuela pada hari Sabtu.
Presiden AS Donald Trump selama berbulan-bulan telah mengancam bahwa ia akan segera memerintahkan serangan terhadap sasaran-sasaran di wilayah Venezuela. AS juga telah menyita kapal tanker minyak yang terkena sanksi di lepas pantai Venezuela.
Trump juga memerintahkan blokade terhadap kapal tanker lain dalam sebuah tindakan yang tampaknya dirancang untuk memberikan tekanan yang lebih ketat pada perekonomian negara Amerika Selatan tersebut.
Militer AS telah menyerang kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur sejak awal September. Pada hari Jumat, jumlah serangan kapal yang diketahui adalah 35 dan jumlah orang yang tewas setidaknya 115, menurut angka yang diumumkan oleh pemerintahan Trump.
Perkembangan ini juga dibarengi penumpukan besar pasukan Amerika di perairan Amerika Selatan, termasuk kedatangan kapal induk tercanggih di Amerika pada bulan November. Kedatangan kapal itu menambah ribuan tentara lagi yang merupakan kehadiran militer terbesar di wilayah tersebut selama beberapa generasi.
Trump membenarkan penempatan kapal tersebut sebagai tindakan eskalasi yang diperlukan untuk membendung aliran narkoba ke Amerika Serikat dan menegaskan bahwa Amerika terlibat dalam “konflik bersenjata” dengan kartel narkoba.
Presiden Venezuela, Nicolás Maduro mengatakan AS ingin memaksakan perubahan pemerintahan di Venezuela dan mendapatkan akses terhadap cadangan minyak yang besar melalui kampanye tekanan selama berbulan-bulan yang dimulai dengan pengerahan militer besar-besaran ke Laut Karibia pada bulan Agustus.
Dalam beberapa hari terakhir, Venezuela mengindikasikan pihaknya terbuka untuk merundingkan kesepakatan dengan AS untuk memerangi perdagangan narkoba, kata Maduro, bahkan ketika ia tetap bungkam atas laporan serangan yang dipimpin CIA terhadap negaranya pekan lalu.
Pernyataan terbaru tersebut, yang disampaikan dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Kamis, muncul ketika Maduro telah memberikan sikap yang cenderung lebih berdamai terhadap AS di tengah sanksi dan kampanye tekanan militer yang dilakukan Washington selama berbulan-bulan.
“Jika mereka menginginkan minyak, Venezuela siap menerima investasi AS, seperti Chevron,” tambahnya, mengacu pada raksasa minyak AS, yang merupakan satu-satunya perusahaan minyak besar yang mengekspor minyak mentah Venezuela ke AS.
Ketika ditanya secara blak-blakan apakah dia membenarkan atau membantah serangan AS di tanah Venezuela, Maduro mengatakan: “Ini bisa menjadi sesuatu yang kita bicarakan dalam beberapa hari.”
Maduro mengatakan pendekatan pemerintahan Trump memperjelas bahwa AS berusaha menekan Venezuela melalui “ancaman, intimidasi, dan kekerasan”. Wawancara Maduro direkam pada Malam Tahun Baru, hari yang sama ketika militer AS menyerang lima kapal yang diduga menyelundupkan narkoba, menewaskan sedikitnya lima orang.
Meskipun memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 303 miliar barel pada tahun 2023, Venezuela hanya mengekspor minyak mentah senilai 4,05 miliar dolar AS pada tahun 2023, jauh di bawah negara-negara penghasil minyak utama lainnya.
Venezuela menasionalisasi sektor minyaknya pada tahun 1976 dan menempatkannya di bawah kendali PDVSA milik negara. Kemudian, pada tahun 2007, mendiang Presiden sayap kiri Hugo Chavez menasionalisasi proyek minyak asing yang tersisa di Venezuela, yang secara efektif menggulingkan raksasa minyak AS seperti ConocoPhillips dan Exxon Mobil.
Perusahaan-perusahaan AS mengajukan gugatan hukum untuk melawan proses pengambilalihan, dan pada tahun 2014, pengadilan arbitrase Bank Dunia memerintahkan Venezuela untuk membayar Exxon Mobil sebesar 1,6 miliar dolar AS. Proses hukum masih berjalan. AS menjatuhkan sanksi terhadap PDVSA pada tahun 2019, di bawah kepemimpinan pertama Trump.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
