Kabar Utama
Dunia Kecam India
JAKARTA -- Dunia internasional mengutuk peristiwa kekerasan terhadap Muslim yang terus terjadi di India dalam sepekan terakhir. Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi didesak segera mengakhiri sikap disrikiminatif terhadap pemeluk agama Islam di negaranya.
Menteri Agama Fachrul Razi mengaku sangat mengecam peristiwa kekerasan atas nama agama di India. Ia meminta umat beragama di India tak merusak nilai kemanusiaan atas nama agama. "Tidak ada ajaran agama manapun yang membenarkan tindakan kekerasan, apa pun motifnya. Memuliakan nilai kemanusiaan adalah esensi ajaran semua agama," kata Fachrul, di Jakarta, Jumat (28/02).
Menag meyakini, tindakan kekerasan oleh sekelompok umat Hindu di India tidak menggambarkan ajaran agama Hindu, tetapi akibat adanya pemahaman ekstrem sebagian umat Hindu atas ajaran agamanya. ?Tindakan kekerasan itu sangat tidak berperikemanusiaan dan bertentangan dengan nilai-nilai agama,? ujar Menag menekankan.
Ia lalu berpesan kepada semua tokoh dan umat beragama di India ataupun di Indonesia untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan tindakan emosional. Menag mengajak seluruh masyarkat mendoakan para korban agar kehidupan beragama di India kembali kondusif.
Menag berharap umat beragama di Indonesia bisa mengambil pelajaran dari peristiwa di India. "Kekerasan atas nama agama apa pun tidak boleh terjadi di Indonesia. Mari kita kedepankan kehidupan beragama yang damai, rukun, toleran, bersama dalam keragaman,? kata dia mengajak.
Kerusuhan di New Delhi dan India, sebelum ini, dipicu aksi demonstrasi menentang Undang-Undang Kewarganegaraan atau Citizenship Amandement Act (CAA) yang dianggap anti-Muslim. Kubu yang terlibat bentrokan adalah pendukung dan penentang CAA. Namun, belakangan kericuhan berubah menjadi konflik komunal antara Muslim dan Hindu. Warga Muslim India dipukuli, rumah mereka dibakar, masjid pun diserang.
India meratifikasi CAA pada Desember 2019. UU tersebut menjadi dasar bagi otoritas India untuk memberikan status kewarganegaraan kepada para pengungsi Hindu, Kristen, Sikh, Buddha, Jain, dan Parsis dari negara mayoritas Muslim, yakni Pakistan, Afghanistan, dan Bangladesh.
Status kewarganegaraan diberikan jika mereka telah tinggal di India sebelum 2015. Namun, dalam UU tersebut, tak disebut atau diatur tentang pemberian kewarganegaraan kepada pengungsi Muslim dari negara-negara terkait. Atas dasar itu, CAA dipandang sebagai UU anti-Muslim.
Jumlah korban meninggal akibat kerusuhan di New Delhi pun terus bertambah. Saat ini, sudah ada 38 orang yang tewas akibat kekerasan dan sebnyak 514 tersangka telah ditangkap.
Personel kepolisian di New Delhi masih memeriksa rumah-rumah yang dibakar massa, termasuk saluran air. Hal itu dilakukan untuk mencari mayat yang mungkin tertimbun puing-puing.
Pada Jumat (28/2), India mengerahkan lebih banyak pasukan keamanan ke masjid-masjid di New Delhi. Mereka ditugaskan menjaga shalat Jumat. Saat kerusuhan berlangsung pada Selasa (25/2), massa memang tak hanya menghancurkan rumah warga Muslim, tapi juga membakar dua masjid.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut mengutuk keras tindakan brutal terhadap umat Islam di India. Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin Junaidi mengatakan, aksi kekerasan itu tak lepas dari UU Kewarganegaraan yang dikeluarkan PM India Narendra Modi yang sangat diskriminatif terhadap umat Islam India.
Ia mengatakan, tindakan brutal dan anarkistis para pendukung PM Modi terhadap umat Islam yang menolak UU Kewarganegaraan tersebut merupakan pelanggaran HAM berat. Kekerasan itu juga sangat mencederai perasaan umat Islam di dunia.
MUI meminta agar para pelaku kekerasan tersebut diproses sesuai dengan hukum. "MUI juga meminta Pemerintah India meninjau kembali UU Kewarganegaraan guna menghindari kerusuhan yang masif," ujar Muhyiddin.
Kekerasan terhadap Muslim di India turut mengundang amarah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. "India telah menjadi negara di mana pembantaian tersebar luas. Orang-orang Hindu membantai umat Islam," kata Erdogan dalam pernyataan yang dikutip di Ahvalnews, Jumat (28/2).
Turki memang menjadi kritikus paling vokal terhadap kebijakan India di Kashmir. Pada pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada September 2019, Erdogan mengatakan delapan juta orang hampir terkurung blokade di wilayah tersebut.
Presiden Pakistan Arif Alvi tak ketinggalan menyuarakan keprihatinannya atas kekerasan yang dialami umat Islam di India. Dia menuding para pemimpin partai yang berkuasa di negara tersebut telah menciptakan kebencian terhadap Muslim.
"Kekerasan yang berlangsung terhadap Muslim di India telah menyakiti," ujar Alvi merujuk pada kerusuhan komunal yang terjadi di New Delhi, Kamis (27/2), dikutip laman Anadolu Agency.
Dia pun menyalahkan para pemimpin India atas kekerasan yang dialami Muslim di sana. ?Tidak ada yang bisa berbicara menentang pelanggaran hak asasi manusia di India. Bahkan, jika ada hakim yang berbicara melawan ketidakadilan, dia menghadapi tindakan (terhadapnya),? kata Alvi.
Protes keras juga telah dilayangkan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). OKI menyerukan pihak berwenang India membawa penghasut dan pelaku dari tindakan anti-Muslim ke pengadilan serta memastikan keselamatan dan keamanan semua warga Muslim dan perlindungan tempat-tempat suci Islam.
Nyaris tewas
Seorang Muslim India, Mohammad Zubair (37 tahun), menceritakan kronologi pengeroyokan dirinya oleh sejumlah pemuda Hindu di New Delhi, belum lama ini. Saat itu, Zubair tengah dalam perjalanan pulang dari sebuah masjid lokal di timur laut New Delhi.
Dilansir dari Gulf Today, Jumat (28/2), saat hendak pulang itulah, Zubair menemukan kerumunan di jalan. Melihat itu, dia berbalik ke jalan bawah tanah untuk menghindari keributan. Namun nahas, hal itu justru berbuah petaka baginya.
Dalam hitungan detik, Zubair terpaksa meringkuk di tanah dikelilingi oleh lebih dari selusin pemuda yang mulai memukulinya dengan tongkat kayu dan batang logam. Darah mengalir deras dari kepalanya. Ia dipukul secara bertubi-tubi.
"Mereka melihat saya sendirian, mereka melihat peci saya, janggut, dan pakaian (Muslim). Mereka mengenali saya sebagai seorang Muslim," kata Zubair.
Serangan pada siang hari itu bahkan tertangkap dalam foto dramatis Reuters. Foto itu bergambar latar belakang ketegangan dan kekerasan terhadap Zubair, beberapa waktu lalu.
Zubair yang tidak sadarkan diri akhirnya diseret ke tempat yang aman oleh sesama Muslim yang datang membantunya setelah melemparkan batu untuk membubarkan para penyerang. Zubair kemudian dilarikan ke rumah sakit.
"Saya berpikir saat itu bahwa saya tidak akan selamat dari ini. Yang teringat saat itu adalah Allah, Tuhanku," ujarnya mengenang.
Sebagaimana diketahui, jumlah umat Hindu di India sekira 80 persen dari total populasi. Saat ini, para penentang dan pendukung hukum sebagian besar terpecah antara Muslim dan Hindu. Kondisi saat ini membangkitkan sejarah gelap masa lalu India.
"Kekerasan sekarang terjadi di saku kecil Delhi dan mengingatkan Anda tentang awal kerusuhan anti-Sikh 1984," kata pakar politik yang memimpin partai politik kecil yang menentang BJP, Yogendra Yadav.
Dia merujuk pada serangan massa terhadap minoritas Sikh setelah anggota komunitas membunuh perdana menteri Indira Gandhi. Ribuan orang Sikh terbunuh di kota-kota, termasuk New Delhi. Menurut penyidik setempat, kekerasan itu dilakukan secara terorganisasi. n
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
