Kanker di indonesia | Republika

Medika

Pusat Kanker Komprehensif, Strategi Tingkatkan Pengendalian Kasus

Hampir sepertiga hingga setengah kanker di Indonesia dapat dicegah.

Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia dengan jumlah 9.6 juta kematian per tahun. Di Indonesia menurut catatan Globocan pada 2020, kasus baru kanker sebanyak 396.314 kasus dengan kematian sebesar 234.511 orang.

Perempuan merupakan kelompok dengan risiko tinggi terkena kanker, tercatat kanker payudara sebanyak 65.858 kasus, kanker leher rahim sebanyak 36.633 kasus. Kanker pada laki-laki paling banyak kanker paru 25.943 kasus, kanker kolorektal dengan 21.764 kasus.

Guru Besar dalam Bidang Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Dr dr Ikhwan Rinaldi mengatakan, kualitas pelayanan kanker perlu ditingkatkan. Seperti mengendalikan kasus kanker dengan pusat kanker komprehensif.

Kanker di Indonesia - (Republika)

  ​

Hampir sepertiga hingga setengah kanker di Indonesia dapat dicegah, apabila masyarakat mendapat pemahaman yang baik mengenai faktor risiko kanker dan perkembangan intervensi pencegahan kanker. Terkait hal tersebut, WHO merekomendasikan setiap negara agar memiliki rencana pengendalian kanker nasional yang berfokus pada kesetaraan dan akses, mencakup aspek pencegahan, skrining, diagnosis, pengobatan, survivorship, serta perawatan paliatif.

“Rekomendasi ini dapat dilaksanakan melalui pusat komprehensif kanker,” ujar Prof Ikhwan dalam acara Pengukuhan Guru Besar FKUI Prof Dr Dr dr Ikhwan Rinaldi, di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Salemba, Jakarta Pusat, Sabtu (14/10/2023).

Pusat kanker komprehensif merupakan pusat kekuatan rencana pengendalian kanker nasional dan bertugas untuk mengembangkan pendekatan inovatif dalam pencegahan, diagnosis, dan pengobatan kanker. Misi utama dari pusat kanker komprehensif adalah mengurangi insidens kanker dan meningkatkan kualitas hidup serta tingkat kelangsungan hidup.

Terdapat tiga area utama dalam perawatan kanker: penelitian, perawatan klinis, dan pendidikan. Dalam perawatan klinis, pasien kanker memerlukan perawatan multidisiplin untuk mencapai hasil yang optimal.

Biaya Pengobatan Kanker di Indonesia - (Republika)

  ​

Perawatan multidisiplin memerlukan peran para klinisi yang tergabung dalam tim multidisiplin onkologi untuk berpartisipasi langsung dalam perawatan pasien. Tim onkologi akan mengadakan pertemuan rutin yang bisa disebut sebagai tumor board meeting, untuk mendiskusikan pilihan diagnostik dan/atau terapeutik serta penanganan terbaik untuk setiap pasien.

Pembentukan tim multidisiplin onkologi yang dapat menjalankan perannya dengan baik, tidak terlepas dari pendidikan interprofesional yang membentuk profesional kesehatan dengan keahlian sesuai bidangnya. “Berdasar tinjauan Best Medical Education (BEME), pengembangan fakultas, penyiapan fasilitator, refleksi terhadap praktik peserta didik, serta pedagogi. berperan penting dalam pembelajaran interprofesional,” ucap Ikhwan.

WHO juga merekomendasikan layanan primer dapat melakukan pengendalian kanker melalui pencegahan, skrining, survivorship, serta perawatan paliatif. Integrasi antara pusat kanker komprehensif dan layanan primer dapat meningkatkan kualitas layanan kanker.

Mahasiswa fakultas kedokteran yang nantinya akan menjadi dokter umum, yang bekerja di layanan primer dan residen spesialis penyakit dalam serta residen disiplin lain yang berhubungan dengan pelayanan kanker, harus bersiap-siap dengan kompetensi yang paripurna menghadapi tantangan beban kanker pada masa depan.

Agar dapat memastikan peserta didik memiliki kompetensi yang cukup, diperlukan instrument assessment yang memadai. Entrustable professional activity/EPA atau aktivitas profesional yang dipercayakan, merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk menilai kompetensi peserta didik.

EPA dapat diartikan sebagai praktik profesional yang dapat dipercayakan pada peserta didik, segera setelah peserta didik tersebut dianggap mampu melakukan praktik profesional yang dipercayakan tanpa pengawasan. Peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan di bidang onkologi melalui penerapan EPA, dapat membentuk lulusan yang siap menerapkan upaya preventif, promotif, survivorship, dan paliatif, dalam penanganan komprehensif kanker di berbagai tingkat layanan, termasuk di layanan primer.

Ancam Bonus Demografi

Berbagai penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan tren kanker awitan dini atau kanker yang terjadi pada usia kurang dari 50 tahun. Meningkatnya angka harapan hidup dan berbagai faktor risiko terkait transisi gaya hidup, seperti merokok dan pola diet, kemungkinan berkontribusi pada peningkatan beban kanker ini.

“Bila kanker tidak ditangani secara komprehensif, kanker dapat menjadi ancaman bagi Indonesia yang akan mencapai puncak bonus demografi pada 2045, bersamaan dengan Indonesia berusia tepat 100 tahun atau disebut sebagai Indonesia Emas 2045,” ujar Ikhwan.

Dalam penanganan kanker, kerap ada berbagai tantangan mulai dari pencegahan hingga paliatif. Pasien sering kali terlambat dalam menerima pemeriksaan dan baru datang berobat saat stadium lanjut.

Faktor pendidikan yang kurang, rendahnya pendapatan, jauhnya jarak ke tempat pelayanan kesehatan, penggunaan terapi komplementer dan alternatif, serta rendahnya cakupan deteksi dini kanker, menjadi faktor besar keterlambatan layanan kesehatan yang didapat pasien. 

Keterlambatan penanganan kanker tidak hanya berdampak pada kualitas hidup pasien, tetapi juga berdampak pada biaya pelayanan kesehatan. Peningkatan biaya berkaitan dengan pilihan pengobatan pada pasien dengan stadium lanjut. 

Obat-obat yang diterima juga bukan lagi dalam golongan kemoterapi, melainkan sudah menggunakan golongan obat baru. Di antaranya, terapi target dan imunoterapi yang memerlukan pemeriksaan molekular khusus, dengan biaya yang tidak sedikit.

 

 
Misi utama dari pusat kanker komprehensif adalah mengurangi insiden kanker dan meningkatkan kualitas hidup.
 
 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Kebiasaan Mager dan Peluang Hadirnya Kanker

Gaya hidup yang meliputi pola makan buruk dan kurang aktivitas, berpotensi menimbulkan kanker di usia 50 tahun ke bawah.

SELENGKAPNYA

Kanker di Indonesia

Kanker adalah salah satu penyakit yang menjadi momok kesehatan bagi banyak orang.

SELENGKAPNYA